Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Berbagi Trip | Asal Mula Tanjung Lesung

Dongeng Bahasa Indonesia Asal Mula Tanjung Lesung

Dahulu kala. Ada seorang pengembara bernama Raden Budog yang berasal dari Laut Selatan. Ia tinggal bersama Anjing dan Kuda kesayangannya. Kemana pun ia pergi, Anjing dan kudanya selalu ikut.

Suatu hari, Raden Budog bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Sampai berhari-hari, wajah gadis itu selalu membanyangi pikirannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari gadis itu. Sebelum pergi, ia membawa golok dan batu asah. Ia pergi menunggangi Kuda kesayangannya. Anjingnya yang setia berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.

Setelah beberapa hari berjalan. Ia belum menemukan gadis itu, Anjing dan Kudanya sangat kelelahan. Namun, Raden Budog masih ingin meneruskan perjalanannya. Mereka mendaki bukit dan melewati jalanan berbatu. Namun, ketika tiba di Gunug Walang, tiba-tiba kuda kesayangannya terjatuh. Raden Budog pun ikut terjatuh, mereka berguling-guling di lereng gunung. Raden Budog meringis kesakitan, di sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka.

Mereka beristirahat sejenak. Raden Budog memakan bekal yang dibawanya. Sementara Kudanya memakan rumput dan Anjingnya berlari-lari mengejar mangsa. Setelah cukup beristirahat mereka melanjutkan perjalanan. Raden Budog melihat kelana Kudanya sobek. Pelana itu tidak bisa di gunakan lagi dan akhirnya, Raden Budog berjalan kaki dan menuntun Kudanya.

Mereka berjalan menuju daerah yang bernama Tali Alas yang sekarang di kenal dengan Pilar. Mereka terus berjalan sampai di tiba di Pantai Cawar, pemandangannya sangat indah dan air lautnya sangat jernih. Akhirnya Raden Budog menceburkan dirinya dan berenang. Segarnya air laut menghilangkan rasa lelah.

Setelah puas berenang ia melanjutkan perjalanan. Di panggilnya Kuda dan Anjingnya untuk segera beranjak pergi. Namun, kedua hewan itu tidak bergeming. Raden Budog sudah mendorong-dorong ke dua hewan tersebut. Namun, mereka tidak mau beranjak. Mereka diam seperti batu karang. Akhirnya, dengan sangat sedih. Raden Budog pergi seorang diri.

Raden Budog meneruskan perjalanan menuju Legon Waru. Sesampainya ia di Legon Waru, ia merasa kelelahan. Pundaknya sangat terasa ngilu karena dalam tasnya terdapat batu asah yang sangat berat. Ia tidak kuat lagi membawa batu asah tersebut dan ia meninggalkan batu asah terebut di Legon Waru.

Sampai sekarang, di Legon Waru terdapat sebuah karang yang bernama Karang Pangasahan. Karang itu merupakan jelmaan dari batu asah milik Raden Budog. Raden Budog melanjutkan perjalanannya menyusuri pesisir pantai. Ia pantang menyerah demi menemukan gadis impiannya. Rasa lelahnya sirna setiap ia memikirkan gadis itu.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan sangat lebat. Raden Budog berteduh di bawah pohon. Ketika sedang berteduh, ia melihat dari dalam pasir, muncul pulahan ekor penyu. Raden Budog kagum melihat penyu-penyu dari yang berukuran besar sampai yang terkecil berlarian menuju laut. Daerah itu kemudian di manakan Cipenyu.

Meskipun hujan masih turun, Raden Budog tetap ingin melanjutkan perjalanannya. Ia tidak ingin membuang-buang waktu. Di ambilnya selembar daun untuk melindungi tubuhnya dari hujan. Hujan juga tidak kunjung reda, malah bertamah lebat. Langit sangat gelap dan petir menyambar-nyambar. Hari sudah mulai malam.

Raden Budog menemukan sebuah Gua bukit karang. Raden Budog masuk ke Gua karang tersebut untuk beristirahat. Ia menutup pintu Gua dengan daun yang di bawanya agar tidak kebasahan. Setelah cukup beristirahat ia melanjutkan perjalanannya. Hujan pun sudah reda. Raden Budog segera keluar, dan menutup pintu Gua tersebut dengan daun yang di bawanya. Daun Langkap it uterus menempel di pintu Gua dan tidak bisa lepa. Gua karang itu kemudian dinamakan Karang Meumpeuk.

Raden Budog berjalan mengikuti langkah kakinya. Lalu, tiba di muara sebuah sungai. Akibat hujan yang turun dengn deras sungai itu menjadi banjir. Raden Budog tidak bisa menyebrangi sungai itu. Padahal ia ingin sekali ke desa yang letaknya berada di seberang sungai. Tak sabar, untuk segera menyebrangi sungai. Namun, air tidak kunjung surut. Dalam hati ia berkata. ‘’ Kali banjir sialan.’’

Daerah tempat sungai yang banjir itu kemudia di kenal dengan Kali Caah. Yang artinya sungai atau kali yang banjir. Setelah sabar menunggu. Akhirnya, sungai itu mulai surut. Raden Budog pun segera menyebrangi sungai tersebut. Maka sampailah ia di desa yang menjadi tujuan akhirnya.

Sesampainya ia di desa tersebut. Ia mendengar suara tumbukan lesung yang sangat merdu. Di carinya suara itu. Suara tumbukan itu ternyata berasal dari permainan lesung yang di mainkan oleh para gadis. Salah satu dari gadis itu. Parasnya paling cantik di bandingkan dengan gadis yang lain.

Gadis yang paling cantik itu bernama Sri Poh Haci. Ia tinggal bersama ibunya yang bernama Nyi Siti. Sri Poh Haci lah yang pertama kali menemukan permainan lesung. Ia mendapatkan ide karena ia senang menumbuk padi . permainan lesung ini di namakan Ngagondang.
Dongeng Bahasa Indonesia Tanjung Lesung

Dongeng Bahasa Indonesia Tanjung Lesung

Di desa itu, sudah menjadi tradisi bermain Ngagondang setiap akan menanam padi. Namun, permainan ini tidak boleh di mainkan pada hari Jum’at. Karena hari jumat di anggap sebagai hari yang keramat untuk penduduk desa. Ketika melihat Sri Poh Haci, jantung raden Budog langsung berdebar. Gadis itu adalah gadis yang muncul dalam mimpinya. Raden Budog terus memperhatikan permainan lesung para gadis itu. Sri Poh Haci pulang dan Raden Budog melihatnya masuk ke dalam rumahnya.

Raden Budog lalu memberanikan diri mengetuk pintu rumah Sri Poh Haci. Pintu dibuka oleh Nyi Siti.

‘’ Ada keperluan apa?’’ Tanya nyai siti

‘’ Maaf, saya pengembara yang kebetulan lewat di sini. Saya membutuhkan tempat untuk bermalam. Bolehkah saya menumpang semalam di sini?’’

‘’ Maaf anak muda. Bukannya aku tidak mengjinkan kau untuk bermalam di sini. Tapi, aku seorang janda dan tinggal berdua dengan anak gadisku. Tidak baik kami menerima seorang laki-laki untuk menginap.’’ Jawab Nyi Siti

Raden Budog sangat kecewa karena tidak dapat berjumpa dengan gadis impiannya. Lalu ia berjalan menuju dipan bambu yang berada tidak jauh dari rumah Nyi Siti. Raden Budog merebahkan badanya pada dipan bambu tersebut dan ia tertidur.

Tiba-tiba ia mendengar suara lembut seseorang memanggil namanya.

‘’ Raden, raden, bangunlah.’’ Ujar suara lembut itu

Raden Budog terbangun dan terkejut, karena di hadapan berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu adalah Sri Poh Haci.

‘’ Bangunlah Raden, tidak baik tidur sore-sore begini.’’ Ujarnya.

Mereka berkenalan dan akrab. Tak lama kemudian mereka menjadi sepasang kekasih. Awalnya Nyi Siti tidak merestui hubungan mereka karena ia tidak mengetahui asal usul Raden Budog. Namun, ia melihat putrinya sangat bahagia bersama dengan lelaki itu. Ia pun mengalah dan merestui hubungan mereka.

Raden Budog dan Sri Poh Haci akhirnya menikah. Setelah menikah kebiasaan Sri Poh Haci bermain Ngagondang tidak juga hilang. Bahkan kini Raden Budog pun ikut memainkannya. Raden Budog selalu ingin memainkan lesung setiap hari. Bahkan ia pun ingin bermain pada hari jumat. Istri, mertua dan para tetangga sudah berusaha melarangnya. Tetapi, raden Budog tidak mendengarkan dan bersikeras untuk bermain.

Dengan penuh semangat ia menabuh-nabuhkan lesung. Ia melompat ke sana kemari mengikuti alunan suara lesung.

Tiba-tiba, pra tetangga terteriak sambil tertawa geli menunjuk kea rah Raden Budog . ‘’ Hahahaa.. lucu sekali.’’

Raden Budog heran. Mengapa mereka menertawakannya dan menyebutnya sebagai lutung. Ketika di lihat, ternyata sekujur tubuhnya telah penuh dengan bulu berwarna hitam. Di bokonnya juga tumbuh ekor yang panjang.

Raden Budog sangat ketakutan dan merasa malu. Lalu, ia berlari ke hutan dan bersembunyi di sana. Para penduduk memanggilnya dengan sebutan Lutung Kasarung.

Setelah kejadian itu Sri Poh Haci pergi dari kampung. Ia sangat malu dan menyesali perbuatan suaminya. Menurut cerita, Sri Poh Haci kemudian menjelma menjadi ‘’ Dewi Padi.’’

Desa tersebut, kemudian dinamakan Desa Lesung. Karena letaknya berada di tanjung. Desa itu kemudian di beri nama Tanjung Lesung.

Pesan moral : adalah ikutilah aturan yang berlaku di suatu tempat. Ingat peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.

Berbagi Trip | Kisah Si Penyumpit dan Babi hutan adalah Cerita Rakyat dari Bangka Belitung


http://www.dongeng.web.id/wp-content/uploads/2015/08/sumpit.jpg

Cerita Rakyat dari Bangka Belitung Si Penyumpit

Si Penyumpit adalah seorang pemuda yang pandai menyumpit hewan buruan. Selain kemampuannya dalam menyumpit, dia juga pandai meramu obat-obatan. Penduduk desa sangat menyukai si Penyumpit. Hanya satu orang yang tidak suka padanya, yaitu Pak Raje, Kepala Desa yang kikir. Almarhum ayah si Penyumpit pernah berutang pada Pak Raje dan ia selalu menuntut si Penyumpit untuk melunasi utang ayahnya.

Suatu hari, Pak Raje menemui Si Penyumpit. "Hai Penyumpit, untuk melunasi utang ayahmu, kau harus menjaga sawahku dari serbuan babi hutan. Sumpitlah mereka supaya tidak kembali lagi. Tapi ingat, jika kau lengah dan babi hutan itu merusak padiku lagi, kau harus membayar ganti rugi padaku," kata Pak Raje. Tak bisa menolak, Penyumpitpun menyetujuinya.

Malam itu, ia memulai tugasnya dengan waspada."Aha, itu mereka," bisiknya dalam hati, matanya memandang tajam ke arah sawah milik Pak Raje. Segerombolan babi hutan menuju ke sawah Pak Raje. Si Penyumpit mengeluarkan alat sumpitnya, dan huuppp... melayanglah anak sumpitnya ke gerombolan babi hutan itu. "Ngoiikkk..." seekor babi hutan terkena sumpitannya. "Ngoikkk...ngoik... ngoik..." babi hutan itu berteriak-teriak seolah memberi peringatan pada teman-temannya. Mereka semua Iari menyelamatkan diri.

Si Penyumpit keluar dari persembunyiannya. Ia hendak melihat babi hutan yang disumpitnya, tapi babi hutan itu sudah pergi. "Aneh, seharusnya ia mati terkena sumpitanku." Penasaran, si Penyumpit mengikuti jejak darah yang tercecer di tanah. Jejak itu berhenti di sebuah rumah kecil di hutan. Dari jendela, terlihat beberapa wanita cantik. "Di mana babi hutan itu?" bisiknya. Salah satu dari wanita cantik itu terluka perutnya. Si Penyumpit pun mempertajam penglihatannya. "Hei, bukankah itu mata sumpitku?" Ia heran, tadi ia menyumpit babi hutan, tapi mengapa wanita itu terluka? Tak mau berlama-lama, si Penyumpit mengetuk pintu.

"Siapa kau mengapa datang tengah malam begini?" tanya wanita yang membuka pintu.

"Namaku si Penyumpit. Tadi aku menyumpit seekor babi hutan. Tapi aneh, babi hutan itu hilang. Setelah aku ikuti jejak darahnya, ternyata berhenti di rumah ini."

"Oh, jadi kau yang menyumpit adik kami? Lihat, sekarang ia kesakitan. Kami tak tahu bagaimana caranya melepas mata sumpit itu," kata wanita itu marah. Si Penyumpit bingung. "Apakah kalian ini gerombolan babi hutan tadi?" tanyanya.

"Ya, kami memang siluman babi hutan. Kami menjadi babi hutan untuk mencari makan di malam hari," jawab wanita itu.
Cerita Rakyat Bangka Belitung Si Penyumpit

Cerita Rakyat Bangka Belitung Si Penyumpit

Sekarang barulah si Penyumpit mengerti. "Oh, maafkan aku. Aku tak sengaja melukai adikmu. Tapi jangan khawatir, aku akan melepaskan anak sumpit itu dan mengobati lukanya," katanya. Wanita itu setuju.

Si Penyumpit meminta beberapa helai daun keremunting yang ditumbuk. Ia akan membalutkannya ke luka tersebut. Berhasil... anak sumpit itu berhasil ditarik. Luka di perut itu kemudian dibalut dengan tumbukan daun keremunting. Darah pun berhenti bercucuran.

Wanita itu lega. Ia berterima kasih pada si Penyumpit. "Meskipun kau telah menyumpit adikku, aku tetap berterima kasih padamu. Sebagai hadiah, terimalah ini," kata wanita itu sambil mengeluarkan empat bungkusan kecil.

Si Penyumpit menolak, "Sudah seharusnya aku mengobati adikmu. Tak perlu memberiku hadiah."

"Terimalah. Bungkusan ini berisi kunyit, buah nyatoh, daun simpur, dan buah jering. Anggaplah ini sebagai tanda persahabatan dari kami," kata wanita itu memaksa. Akhirnya, si Penyumpit mengalah. Ia menerima keempat bungkusan itu.

Hari sudah menjelang pagi ketika si Penyumpit sampai di rumah. Dengan hati-hati, ia membuka bungkusan tadi. Terngata isinya perhiasan emas, intan, dan berlian! Si Penyumpit gembira sekali, "Terima kasih babi hutan. Dengan begini aku mampu melunasi utang ayahku pada Pak Raje.” Gumamnya dalam hati.

Si Penyumpit menjual semua perhiasan itu dan menemui Pak Raje. "Darimana kau dapat uang sebanyak ini? Jangan-jangan kau merampok?" tanya Pak Raje curiga.

Si Penyumpit lalu menceritakan pengalamannya pada Pak Raje. "Jadi, sekarang utang ayahku sudah lunas, ya Pak," kata si Penyumpit. Pak Raje hanya mengangguk. Dalam hati, ia punya rencana. Ia akan meniru pengalaman si Penyumpit. "He... he... siapa tahu babi hutan itu juga memberiku perhiasan," tawanya dalam hati.

Malam harinya, Pak Raje sudah siap dengan alat sumpitnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya babi-babi hutan itu datang. Persis seperti pengalaman si Penyumpit sebelumnya, ia menyumpit babi-babi hutan itu. Pak Raje juga mengikuti jejak ceceran darah babi hutan yang terluka. Ia pura-pura hendak menolong wanita siluman babi hutan itu.

Pak Raje tak tahu, seharusnya ia mempersiapkan ramuan obat untuk mencegah darah bercucuran dari luka. Ketika Pak Raje mencabut anak sumpitnya, wanita itu berteriak kesakitan. Darah segar mengucur deras dari lukanya. Darah itu tak mau berhenti, sehingga mereka semua panik. Wanita-wanita itu marah. Mereka berubah menjadi babi hutan dan menyerang Pak Raje.

Pak Raje kembali ke rumahnya dengan tubuh penuh luka. Putrinya sangat terkejut melihat keadaan agahnya. Ia lalu segera menemui si Penyumpit untuk meminta tolong.

“Apa yang terjadi? Mengapa ayahniu terluka parah." tanya si Penyumpit.

"Aku tak tahu. Semalam Ayah bilang la mau menjaga sawah untuk menangkal babi hutan. Mungkin Ayah diserang babi hutan?" jawab putri Pak Raje, Mendengar hal itu, mengertilah si Penyumpit apa yang sebenarnya telah terjadi pada Pak Roje. Sebenarnya ia hendak menertawakan kebodohan Pak Raje, noman dia tidak tega melihat putri Pak Raje yang terus menangis.

Si Penyumpit kemudian meramu obat dan mengoleskannya ke seluruh tubuh Pak Raje. Perlahan, Pak Raje mulai menggerakkan tangannya dan membuka matanya. Melihat si Penyumpit yang sedang mengobati dirinya, dia menjadi malu. "Ayah, syukurlah Ayah sudah sadar," kata putrinya.

Perlahan, Pak Raje bangun dan duduk di pembaringannya.

"Maafkan aku atas sikapku selama ini. Kau memang pemuda yang baik, sedikit pun kau tidak mendendam padaku," katanya. "Untuk membalas budi, aku akan menikahkanmu dengan putriku. Apakah engkau bersedia?" tanya Pak Roje lagi.

Putri Pa k Roje tersipu malu. Si Penyumpit memandanginya. Memang sebenarnya sudah lama Si Penyumpit menyukai putri Pak Raje yang cantik dan baik hati. Tapi ia tak pernah berani mengatakannya. "Tentu aku mau Pak Raje," jawab Si Penyumpit gembira.

"Jika begitu, aya kita sebarkan berita baik ini pada penduduk desa," kata Pak Raje dengan bersemangat.

Pesta pemikahan antara si Penyumpit dan putri Pak Raje dilaksanakan dengan merioh. Semua penduduk desa diundang. Karena sudah berusia lanjut. Pak Raje meminta si Penyumpit untuk menggantikannya sebagai kepala desa. Dan si Penyumpit berhasil memimpin desa itu dengan arif dan bijaksana sehingga masyarakat hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan

Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Bangka Belitung : Si Penyumpit untukmu adalah kecurangan tak akan berbuah kebaikan. Percaya pada kemampuan diri sendiri dan terus berusaha sekuat tenaga, itulah yang membuahkan kemenangan.

Berbagi Trip | Asal Usul Pulau Kapal

Cerita Dongeng Bangka Belitung : Asal Usul Pulau Kapal


Cerita Dongeng Bangka Belitung : Asal Usul Pulau Kapal 

Dahulu kala, tinggalah sebuah keluarga yang sangat miskin di dekat Sungai Cecuruk yang terletak di Kepulauan Bangka Belitung.

Keluarga ini memiliki seorang anak yang sangat rajin. Mereka sekeluarga hidup dari hasil menjual buah-buahan dan daun-daunan yang mereka petik dari hutan ke pasar. Setiap hari, sang anak ikut ayah dan ibunya mencari hasil hutan.

Suatu hari, sang ayah pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan. Ketika sedang menebang rebung, ia menemukan sebuah tongkat di antara rumpunan bambu. Ternyata, tongkat itu berhiaskan intan permata dan batu merah delima. Sang ayah bertanya-tanya dalam hati, siapa pemilik tongkat itu. Sang ayah segera membawa pulang tongkat itu dan menunjukkan kepada istri dan anaknya.

“Sebaiknya kita simpan saja benda ini, siapa tahu nanti ada yang mencarinya," ujar sang ayah.

“Namun, kita tidak mempunyai lemari untuk menyimpan benda ini, Pak. Aku khawatir nanti malah dicuri orang,"" jawab sang ibu.

"Kita jual saja tongkat itu, sehingga kita tidak perlu repot menyimpannya," usul si anak. Akhirnya, ayah dan ibunya setuju dengan usulan anaknya itu.

"Pergilah kau ke negeri seberang, Nak. Jual tongkat ini lalu kembalilah pulang," kata sang ayah.

Anak itu pun berangkat ke negeri seberang. Tongkat berharga itu berhasil dijualnya dengan harga tinggi. Namun, sang anak tidak segera pulang ke kampungnya, ia memilih menetap di negeri itu dengan uang hasil penjualan tongkat berharga.

Kehidupan sang anak berubah sangat drastis. la menjadi kaya raya serta bergaul dengan kalangan dan saudagar-saudagar kaya. Bertahun-tahun ia tidak kembali ke kampungnya. Kemudian, sang anak menikah dengan putri salah satu saudagar terkaya di negeri itu.

Suatu kali, mertua anak itu memerintahkannya untuk pergi berdagang ke negeri lain bersama istrinya. Lalu, ia mempersiapkan perjalanan dengan membeli sebuah kapal yang besar dan mempersipkan anak buah kapal yang tangguh. la membawa banyak sekali hewan untuk bekal makanan selama berlayar, sehingga suasana kapalnya pun sangat ramai oleh suara binatang. Mereka pun berangkat berlayar.

Ketika sampai di sekitar Sungai Cecuruk, sang anak teringat akan kampung halamannya, kapal pun sandar di sungai tersebut.

Berita kedatangan sang anak pun didengar oleh orangtuanya. Ibunya segera menyiapkan makanan kesukaan anak itu dan pergi menemuinya dengan rindu yang terpendam selama bertahun tahun.

"Ini ibu dan ayahmu datang, Nak!" seru ibunya ketika sampai di kapal mewah sang anak.

Lelaki muda itu tertegun melihat siapa yang datang. la tidak mau mengakui ayah dan ibunya yang renta clan miskin.

"Siapa kalian? Cepatlah pergi dari kapalku!" teriak sang anak.

"Nak, ini ayah dan ibumu. Apakah kau tidak mengenali kamu? Ini ibu buatkan masakan kesukaanmu, Nak!" jawab sang ibu dengan sedih.

"Pergi! Aku tidak suka makanan kampung! Orangtuaku adalah seorang saudagar kaya, bukan gembel seperti kalian!" seru sang anak sambil membuang makanan pemberian ibunya.

Hancurlah hati kedua orangtua sang anak. Dengan berucuran air mata, mereka meninggalkan kapal sang anak. Ibunya tak kuasa menahan sedih dan sekaligus amarahnya.

la pun berucap, "Jika saudagar kaya raya itu benar anakku, semoga karamlah kapal itu bersamanya."

SeIah kata-kata itu terucap, tiba-tiba muncul badai dan gelombang laut sangat besar,dan tinggi menelan kapal mewah sang anak beserta istri dan awak kapal.

Kapal besar itu terombang-ambing dan terbalik, seluruh penumpang tewas seketika, termasuk sang anak. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, di tempat karamnya kapal sang anak, muncul sebuah pulau yang bentuknya menyerupai sebuah kapal. Menurut cerita, pada waktu-waktu tertentu di sekitar pulau itu sering terdengar suara-suara binatang yang diyakini sebagai binatang-binatang yang dibawa sang anak di kapalnya. Pulau itu kemudian diberi nama Pulau Kapal.

Pesan moral dari Cerita Dongeng Bangka Belitung : ASal Usul Pulau Kapal adalah jangan pernah durhaka kepada orang tua. Kebahagiaan mu tergantung pada baktimu kepada orang tua.

Berbagi Trip | Asal Mula Sungai Jodoh

Cerita Rakyat Bangka Belitung : Asal Mula Sungai Jodoh



Dahulu kala, hiduplah seorang gadis bernama Mah Bongsu. la sudah yatim piatu dan bekerja sebagai pembantu di rumah Mah Piah, seorang perempuan tua yang sangat serakah dan mempunyai seorang anak bernama Siti Mayang yang bersifat sangat mirip dengan ibunya.

Pada suatu hari, seperti biasa Mah Bongsu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Seekor ular yang melintas di dekatnya membuat Mah Bongsu sangat ketakutan. Namun, ular tersebut tidak menyerang Mah Bongsu, ia berenang di sekitar gadis itu sambil menunjukkan luka-Iuka di kulitnya.

Cerita Rakyat Bangka Belitung Asal Mula Sungai JodohMerasa kasihan melihat luka ular tersebut, Mah Bongsu memberanikan diri mendekati ular tersebut dan mengambilnya. Dibawanya ular tersebut ke rumahnya dan diletakkan di kamarnya.

Setiap kali kulit sang ular terlepas, Mah Bongsu memungutnya dan membakarnya. Jika asapnya mengarah ke Singapura, tiba tiba terdapat tumpukan emas dan berlian. Jika asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, akan berdatangan berkodi-kodi kain sutra Lampung.

Dalam waktu singkat Mah Bongsu menjadi gadis kaya raya. Penduduk sekitar merasa heran dengan kekayaaan Mah Bongsu. Namun, Mah Bongsu adalah orang yang dermawan. la selalu membantu penduduk sekitar dengan tulus.

Akhirnya, kekayaan Mah Bongsu diketahui oleh Mah Piah dan Siti Mayang. Mereka pun berusaha mencari tahu darimana asal kekayaan tersebut. Suatu waktu, mereka melihat seekor ular yang sudah terkelupas kulitnya di kamar Mah Bongsu yang diyakini sebagai hewan ajaib yang mendatangkan harta kekayaan.

Ibu dan anak ini pun pergi ke hutan mencari ular. Mereka mendapati seekor ular berbisa yang dibawanya pulang, kemudian dilepaskan di kamar Siti Mayang. Mereka beranggapan bahwa ular tersebut akan mendatangkan kekayaan berlimpah. Namun, yang mereka dapati justru malapetaka. Siti Mayang meninggal dunia, karena disengat oleh ular berbisa tersebut.

Sementara itu, ular yang dirawat oleh Mah Bongsu telah sembuh. Suatu hari, ketika Mah Bongsu akan memberinya makan, ular itu berkata kepada Mah Bongsu, "Malam ini, tolong antarkan aku ke sungai".

Mah Bongsu pun membawa ular tersebut ke sungai. Sesampainya mereka di sungai, sang ular berkata, "Mah Bongsu, sudah waktunya aku melamarmu sebagai istriku:"
Mang Bongsu tercengang. Seketika ular tersebut berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sementara itu, kulitnya menjadi sebuah rumah yang megah dan sangat indah. Mereka kemudian menikah dan hidup berbahagia.
Konon, karena kejadian tersebut, desa itu dinamakan Desa Tiban oleh penduduk, yang berarti ketiban rezeki. Sementara itu, sungai tempat sang Pangeran melamar Mah Bongsu, dinamakan Sungai Jodoh, karena dipercaya sebagai tempat bertemu jodoh.
Pesan moral dari adalah jika kita mendengar kebaikan, kita akan mendapatkan kebahagiaan.

Berbagi trip | Dongeng Nusantara - Cerita Rakyat Dari Papua : Asal Mula Pulau Irian

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi84aAQE5DXhA8NdJRWhDAjMlCDi2MS_aXnh83YecC0akjKJWPcJdQpxhqwrOfubSsBsB81AMJXhvmvmUadKfKPCsQPSUomxanXl1xl-b3OjIqwC7AXL06gq18DhGNrlWWAoCfhC3ZuMsLg/s1600/asal-mula-nama-irian.jpg

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di kampung Sopen, Biak Barat pada zaman dahulu tinggal sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak lelaki. Salah seorang dari anak tersebut bernama Mananamakrdi.


Di sekujur tubuh Mananamakrdi dipenuhi kudis. Sangat berbau ia hingga orang-orang tidak tahan berdekatan dengannya. Karena itu Mananamakrdi sangat dibenci, tidak hanya oleh orang-orang di dalam sukunya, melainkan juga oleh saudara-saudara kandungnya. Saudara-saudara kandungnya sudah tidak tahan lagi mendapati Mananamakrdi berada di dekat mereka hingga mereka pun mengusir Mananamakrdi dari rumah mereka.

Cerita Rakyat Dari Papua

Mananamakrdi berjalan ke arah timur hingga ia tiba di sebuah pantai. Ia lantas mengarungi lautan luas dengan menaiki perahu yang tertambat di pantai itu. Beberapa saat berlayar, Mananamakrdi mendarat di pulau Miokbudi. Mananamakrdi memutuskan untuk tinggal di pulau itu.

Di pulau Miokbudi banyak ditumbuhi pohon sagu dan juga kelapa. Setiap hari Mananamakrdi memangkur sagu, dari pagi hingga sore hari, untuk memenuhi kebutuhan makannya. Ia juga menyadap air nira dengan bambu dan mernbuat tuak yang dilakukannya setelah selesai memangkur sagu. Pada suatu sore Mananamakrdi terkejut ketika mendapati bambu yang digunakannya untuk menyadap air nira telah kosong. Mananamakrdi sangat kesal. Pada malam harinya Mananamakrdi duduk di pelepah daun kelapa untuk menangkap pencuri air niranya. Hingga larut malam si pencuri belum juga datang.

Menjelang datangnya pagi, sesuatu yang bersinar dari langit mendekati pohon kelapa tempat Mananamakrdi menunggu. Sesuatu itu lantas hinggap di pohon kelapa dan meminum seluruh air nira sadapan Mananamakrdi. Sebelum sesuatu itu hendak kembali, Mananamakrdi bergerak cepat untuk menangkapnya.

"Siapa engkau?" seru Mananamakrdi.
"Aku Sampan si bintang pagi," jawab sesuatu yang bersinar itu. "Lepaskan aku karena matahari hampir terbit."
Mananamakrdi tak ingin buru-buru melepaskan Sampan. Ia meminta Sampan menyembuhkan penyakit kudisnya dan memberinya seorang gadis berwajah cantik untuk diperistrinya.

Sampan bersedia memenuhi keinginan Mananamakrdi. Ia menyarankan agar Mananamakrdi menuju pantai di dekat hutan itu. Di pantai itu tumbuh pohon bitanggur. Kata Sampan, "Jika ada gadis yang engkau kehendaki tengah mandi di pantai, lemparkan satu buah bitanggur ke laut. Niscaya gadis itu akan menjadi istrimu."

Mananamakrdi menuruti saran Sampan. Ia menuju pantai di mana terdapat pohon bitanggur besar Dilihatnya beberapa gadis tengah mandi di pantai itu. Tak ada seorang pun dari gadis-gadis itu yang menarik minatnya. Ia lantas menunggu di bawah pohon bitanggur itu. Pada suatu sore Mananamakrdi melihat seorang gadis berwajah sangat cantik mandi di pantai. Mananamakrdi terpesona padanya. Ia lantas memanjat pohon bitanggur dan melemparkan buah bitanggur ke laut.

Gadis cantik itu bernama Insoraki, putri Kepala Suku dari Kampung Meokbundi. Buah bitanggur yang dilemparkan Mananamakrdi mengenai tubuhnya ketika ia tengah mandi. Meski telah dibuangnya jauh jauh, buah bitanggur itu kembali mendekati dan mengenainya. Karena jengkel, Insoraki lantas pulang ke rumahnya.

Tak berapa lama kemudian Insoraki mengalami kejadian yang sangat mengejutkan. Ia mengandung. Orangtua dan segenap warga Kampung Meokbundi menjadi gempar dan terheran-heran. Bagaimana mungkin Insoraki yang belum bersuami itu mengandung, sementara Insoraksi dikenal sebagai gadis yang baik akhlaknya?

Berselang sembilan bulan kemudian Insoraki melahirkan seorang bayi lelaki. Kembali keanehan didapati warga Kampung Meokbundi ketika melihat bayi lelaki itu tidak menangis ketika dilahirkan, melainkan tertawa. Bayi lelaki itu lantas diberi nama Konori dan dibuatlah pesta ketika bayi itu diberi nama. Mananamakrdi datang menghadiri pesta tersebut. Ketika mendapati Mananamakrdi, Konori mendadak merangkak menuju Mananamakrdi dan berteriak-teriak, "Ayaaah ...!"

Orang-orang terperanjat. Kian terperanjat mereka saat Konori menjelaskan bahwa lelaki berpenyakit kudis di sekujur tubuhnya itu adalah ayahnya. Mananamakrdi dan Insoraki akhirnya dinikahkan.

Sejak Mananamakrdi tinggal di kampung Meokbundi, Kepala Suku dan warga kampung meninggalkan kampung mereka karena tidak tahan mencium bau busuk dari tubuh Mananamakrdi. Jijik pula mereka melihat tubuh Mananamakrdi yang penuh dengan kudis itu. Kampung Meokbundi pun akhirnya sepi dan hanya dihuni Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori.

Mananamakrdi merasa sedih mendapati kenyataan itu. Ia pun menagih janji Sampan. Ia pun mendapat petunjuk. Mananamakrdi lalu membakar kayu-kayu kering. Setelah api membesar, ia memasuki api besar yang membakar itu. Keajaiban pun terjadi. Mananamakrdi keluar dari nyala api dengan tubuh bersih dari penyakit kudis. Wajahnya sangat tampan.

Sejak peristiwa tersebut Mananamakrdi mempunyai berbagai kesaktian. Mananamakrdi lantas menyebut dirinya Masren Koreri yang berarti lelaki yang suci.

Pada suatu hari Mananamakrdi berdoa. Terciptalah kemudian sebuah perahu layar. Mananamakrdi lantas mengajak anak dan istrinya untuk melayari laut luas. Mereka mendarat di wilayah Mandori, di dekat Manokwari. Mananamakrdi dan anak serta istrinya lantas memutuskan berdiam di tempat yang berbukit-bukit itu.

Cuaca di Mandorijika pagi hari sangat dingin dan diselimuti kabut tebal. Ketika matahari terbit, udara berubah menjadi hangat dan kemudian menjadi panas. Ketika mendapati cuaca yang panas, Konori berteriak-teriak memanggil ayahnya,

"Ayah ... Irian! Irian!"
Maka, sejak saat itu wilayah itu pun disebut dengan nama Irian yang di dalam bahasa Biak berarti panas.
Pesan moral dari Dongeng Nusantara : Cerita Rakyat Dari Papua adalah setiap penyakit itu diturunkan tuhan dengan obat penyembuhnya. Oleh karena itu jika kita sakit, wajib kita berusaha mencari obat kesembuhannya.