Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Kehidupan Banyuroto

Kehidupan Banyuroto


Desa Banyuroto merupakan salah satu desa yang tidak jauh dari candi Borobudur ini terletak di kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Desa yang berlokasi tepat di lereng Gunung Merbabu ini terdiri dari Dusun Banyuroto, Kenayan, Garon, Suwanting, Sobleman, dan Grintingan. Luas daerah ini sekitar 622.130 ha.

Mayoritas penduduk Banyuroto adalah petani sayuran hortikultura. Hal ini terkait letak desa ini yang berada pada perbukitan. Sehingga masyarakat memanfaatkannya untuk usaha perkebunan. Salah satu yang menjadi potensinya yaitu adanya perkebunan buah strawberry yang dibudidayakan masyarakat selain sayur-sayuran, seperti tomat, cabai, kol, bawang, sawi, dan tembakau.

Selain perkebunan, sebagian penduduk juga berternak, seperti sapi, kambing dan domba. Kegiatan berternak sangat dimungkinkan karena di daerah ini terdapat banyak makanan untuk ternak. Salah satu yang mudah didapat adalah rumput. Banyaknya rumput di sekitar rumah mereka seringkali dimanfaatkan masyarakat sebagai pakan ternak. Oleh karena itu desa ini juga dikenal sebagai desa rumput.

Kita akan melihat rumput-rumput di setiap wilayah desa Banyuroto. Rumput-rumput di tempat ini ada yang liar dan ada juga sengaja ditanam. Rumput-rumput tersebut digunakan sebagai pakan ternak mereka baik sapi maupun kambing atau domba. Penduduk desa tersebut ternyata ikut melestarikan pesan leluhur, dengan menanam rumput mereka berupaya memelihara ternak untuk kebutuhan mereka. Tidak heran bila kita melihat kehidupan desa ini di penuhi dengan rumput, diangkut dengan sepeda atau dengan jalan kaki untuk mendaki lereng, dan menuruni lembah. 

Rumput yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Banyuroto adalah Rumput gajah atau kolonjono. Rumput Gajah yang juga dinamai rumput Napier atau rumput Uganda termasuk jenis rumput unggul. Biasanya penduduk memberi makan ternak dengan rumput gajah yang berupa potongan-potongan, artinya dipotong di kebun atau tempat tumbuhnya rumput selanjutnya diberikan kepada ternak.

Pemanfaatan rumput tersebut sangat menguntungkan bagi masyarakat Banyuroto karena terjadi siklus pemanfaatan. Mereka memanfaatkan rumput untuk pakan ternaknya, kemudian kotoran ternak dimanfaatkan menjadi pupuk kandang, yang nantinya pupuk tersebut dapat digunakan pada tanaman perkebunannya.

Kesenian di Desa Banyuroto

Selain terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah, Desa Banyuroto juga tidak lepas dari kesenian tradisionalnya. Kesenian tradisional ini menjadi budaya yang harus tetap dilestarikan. Beberapa kesenian yang ada di desa Banuroto ini antara lain Jatilan, Karawitan, Topeng Ireng, Soreng, dll. 
JATILAN


KARAWITAN

Warga Banyuroto Demo Tuntut TPA Ditutup




Puluhan warga Desa Banyuroto Kecamatan Nanggulan Kulonprogo melakukan aksi blokade jalan masuk ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Depan Balai Desa Banyuroto

Puluhan warga Desa Banyuroto Kecamatan Nanggulan Kulonprogo memblokade jalan masuk ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Depan Balai Desa Banyuroto, Massa yang menamakan diri Serikat Masyarakat Banyuroto Peduli (Semar bali) ini menuntut penutupan TPA tersebut.

Sebelumnya, massa melakukan long march dari Dusun Tawang yang berjarak 500 meter. Massa yang berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor serta mobil, mengusung tulisan yang berisi berbagai kecaman atas keberadaan TPA.

Sampai di depan balai desa yang merupakan jalur masuk menuju TPA, mereka menggelar orasi. Hujan yang turun di wilayah itu, tidak menyurutkan semangat warga untuk berorasi. Koordinator Semar Bali, Kawit Mujiono mengungkapkan aksi tersebut dilatar belakangi keberadaan TPA yang telah lebih dari lima tahun, namun hanya memberikan dampak negatif. Ia menyebutkan di antaranya TPA mengganggu kenyamanan karena lokasi yang berdekatan dengan balai desa, puskesmas pembantu, SD, TK dan calon pasar desa. “TPA menimbulkan bau yang tidak sedap,” katanya.

Dampak lain adanya TPA yakni menimbulkan bau tidak sedap, kerusakan jalan akibat dilalui truk sampah, mata air dan sumur tercemar dan lainnya.
Atas dasar itu, menurutnya warga menuntut TPA tersebut ditutup. “Kami ingin TPA Banyuroto ditutup dan dialihkan ke daerah lain,” tegasnya.

LEGENDA DESA CEBONGAN

 photo UKL_67392jpg_zpsdb35c8ff.jpg

Pemerintahan Desa Banyuroto konon kabarnya dimulai sekitar tahun 1860-an. Bila legenda ini tepat, maka pemerintahan Desa Banyuroto diawali pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro melawan pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu, yang memimpin Desa Banyuroto (Cebongan) adalah H. Ibrohim, seorang yang sangat terkenal sampai ke wilayah luar Salatiga. Ia adalah sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya, sebab jika ada rakyatnya yang mendapat gangguan keamanan berbahaya dari manapun datangnya, maka H. Ibrohimlah yang akan membelanya. Masyarakat Banyoroto telah mengetahui, dirinya memang sakti dan mereka menganggapnya sebagai pendekar yang mempunyai kekuatan luar biasa.

Ilmu keampuhan yang dimilikinya tentunya dengan latihan yang amat berat dan pendalaman ilmu-ilmu agama dengan pengamalan doa-doa dan wirid-wirid dan juga selalu bertirakat dengan berpuasa. Pepatah mengatakan “puncak gunung itu tidak akan datang di hadapan kita manakala kitalah yang harus menadaki“. Suatu ketika, Keraton Surokarto dimasuki beberapa garong yang merampok barang-barang berharga. Maka Ratu di Keraton Surakarto mengeluarkan sayembara umum, yang berbunyi: “Barangsiapa yang bisa menangkap para penjahat yang memasuki Keraton Surokarto akan diberi hadiah yang sangat besar, yaitu emas picis rojo brono (benda pusaka berharga) atau wanita molek dari Keraton.” Setelah mendengar sayembara itu, H. Ibrohim bersegera datang ke Keraton Surakarta dan berusaha dengan sedapat-dapatnya akhirnya para penjahat tersebut dapat ditaklukkan H. Ibrohim.

Selanjutnya H. Ibrohim disuruh memilih salah satu diantara dua macam hadiah yang ditawarkan. Akan tetapi, H. Ibrohim menepis keduanya, sebab alasannya kedua hadiah itu untuk kepentingan pribadi saja dan mudah dihempas waktu. Namun, H. Ibrohim mempunyai satu permintaan kepada Keraton Surokarto yaitu agar mengalirkan air dari tuk Senjaya Desa Bener ke Dusun Isep-Isep yang saat itu merupakan bagian dari Desa Banyuroto. Lalu pihak Keraton mengabulkan permintaannya.

Kegotongroyongan masyarakat Desa Bener, Desa Tingkir dan Desa Banyuroto diberdayakan untuk mengadakan kerja bakti membuat selokan dari arah Senjaya bagian paling atas, agar airnya dapat mengalir sampai ke Dusun Isep-Isep. Menurut cerita, tanggul selokan pada waktu itu dapat dilalui kereta ketika Ratu dari Keraton Surokarto meninjau hasil pembuatan selokan. Saluran air yang dimaksud oleh masyarakat Tingkir dinamakan Kali Buket, sedang masyarakat Banyuroto menamakannya Selokan.

Lalu tentang pergantian nama Banyuroto menjadi Cebongan, memang terjadi sejak lurah pertama (H. Ibrohim). Alasannya? Karena kondisi Banyuroto saat itu dikelilingi sungai-sungai yang dalam. Seperti, bagian arah dari barat terdapat sungai Gandu, dari arah timur ada sungai Kedung Kere. Sungai-sungai tersebut tempo dulu telah dilengkapi jembatan yang terbuat dari kayu atau bambu. Lalu lambat laun jembatan itu retak, sehingga warga masyarakat dari lain daerah yang ingin ke Banyuroto harus menyebrangi sungai Gandu atau Kedung Kere, karena jembatannya sudah tidak berfungsi.

Menjelang musim kemarau, airnya akan surut, lalu akan terlihat betapa dalam kubangan yang ada. Kemudian di kubangan-kubangan air itulah digunakan untuk sarang katak yang bertekur dan akhirnya menetas dan jadilah “cebong” yang amat banyak. Karena banyaknya cebong yang mengelilingi Banyuroto, maka H. Ibrohim menggantinya menjadi Desa Cebongan. Desa Banyuroto yang aslinya hanya memiliki tiga wilayah dusun, yaitu Banyuroto (Cebongan), Isep-Isep dan Jagalan. Lalu pada masa pemerintahan Lurah Gunadi, muncullah nama-nama dusun yang baru, yaitu Sukosari, Sidoharjo dan Sukoharjo.

Sebelum masuk wilayah Kota Salatiga, dulu wilayah Desa Cebongan berada di wilayah Pemerintahan Kabupaten Semarang. Berdasarkan PP Republik Indonesia no 69 tahun 1992 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga dan Kabupaten Daerah tingkat II Semarang, wilayah Desa Cebongan masuk ke dalam Pemerintahan Kotamadya Salatiga (pemekaran th 1992). Lalu Desa Cebongan beralih status lagi menjadi Pemerintah Kelurahan Cebongan yang saat itu dibawah kekuasaan Drs. Sururi berdasarkan Peraturan Daerah Kota Salatiga no 11 tahun 2003 tentang Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan.


Sumber: GERTAK LSM, Agustus 2004

Danau Labuan cermin

Danau Labuan Cermin merupakan salah satu obyek wisata mempesona yang terletak di Desa Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Danau ini berada di bawah naungan Lembaga Masyarakat Labuan Cermin (Lekmalamin). Lekmalamin lah yang merawat dan berjuang untuk keasrian obyek wisata ini agar selalu dapat dinikmati oleh pengunjung danau ini.

http://picture.triptrus.com/image/2014/01/danau-labuan-2.jpg

Warna air di danau ini bergradasi dari biru tua, biru muda, putih dan hijau di area luar danau. Sesuai dengan namanya, airnya yang jernih pun berkilat seperti cermin. Dasar danau pun bisa kita lihat dengan jelas dari atas permukaan air padahal kedalaman danau ini lebih dari 3 m. Kita bisa berenang, menyelam maupun snorkeling di tempat ini. Danau Labuan Cermin merupakan danau campuran antara danau air tawar dan air asin. Permukaan danau ini akan terasa asin, sementara di dasar danau airnya akan terasa tawar. Saat kita menyelam agak ke dalam, maka batas antara air asin dan air tawarnya akan terlihat jelas. Hal tersebut pula yang menyebabkan biota di dalam danau ini sangat beragam.

Jika ingin menyelam atau snorkeling di danau kita bisa membawa sendiri peralatannya karena di kawasan ini tidak tersedia penyewaan alat selam atau snorkelnya. Bagi yang belum mahir berenang, tersedia ban/pelampung di perahu yang disewa. Pergi beramai-ramai ke danau ini akan lebih menghemat biaya yang kita keluarkan selama berada di kawasan obyek wisata ini.

Akses 

Dari Bandara Sepinggan, Balikpapan kita bisa terbang menuju Bandara Tanjung Redeb, Berau,. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Desa Biduk-Biduk menggunakan mobil sewaan dengan biaya sewa sekitar Rp. 500.000 yang memakan waktu perjalanan sekitar 6 jam. Sesampainya di Desa Biduk-Biduk perjalanan dilanjutkan menyusuri jalur trekking ke dalam hutan yang menyajikan bermacam pepohonan dan binatang di dalamnya. Jalur trekking tersebut dapat kita tempuh sekitar 30-45 menit, barulah kita bisa sampai di tepian danau. Akan ada perahu yang siap mengantar kita untuk menyusuri keindahan danau sambil menikmati rimbunnya pepohonan di sekitar danau yang semakin menambah sejuknya Danau Labuan Cermin ini.

Keanekaragaman Wisata Alam di Indonesa

 http://indonesiaexplorer.net/wp-content/uploads/2013/02/Wisata-Bawah-Laut-Indonesia.jpg

Indonesia memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 3.000 spesies ikan, 590 jenis karang batu, 2.500 jenis moluska, dan 1.500 jenis udang-udangan. Kekayaan biota laut tersebut menciptakan sekitar 600 titik selam yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Raja Ampat di Provinsi Papua Barat adalah taman laut terbesar di Indonesia yang memiliki beraneka ragam biota laut dan dikenal sebagai lokasi selam scuba yang baik karena memiliki daya pandang yang mencapai hingga 30 meter pada siang hari. Hasil riset lembaga Konservasi Internasional pada tahun 2001 dan 2002 menemukan setidaknya 1.300 spesies ikan, 600 jenis terumbu karang dan 700 jenis kerang di kawasan Raja Ampat. Bunaken yang terletak di Sulawesi Utara memiliki 25 titik selam dengan kedalaman hingga 1.556 meter. Hampir 70% spesies ikan di Pasifik Barat dapat ditemukan di Taman Nasional ini. Terumbu karang di taman nasional ini disebut tujuh kali lebih bervariasi dibandingkan dengan Hawaii. Beberapa lokasi lain yang terkenal untuk penyelaman antara lain: Wakatobi, Nusa Penida, Karimunjawa, Derawan dan Kepulauan Seribu.
Terdapat 50 taman nasional di Indonesia, 6 di antaranya termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Taman Nasional Lorentz di Papua memiliki sekitar 42 spesies mamalia yang sebagian besar hewan langka. Mamalia yang ada di kawasan ini antara lain: kangguru pohon, landak irian, tikus air, walabi, dan kuskus. Taman nasional ini memiliki lebih dari 1.000 spesies ikan, di antaranya adalah ikan koloso. Di taman ini terdapat salju abadi yang berada di puncak Gunung Jayawijaya. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang dikenal karena hewan Badak jawa bercula satu yang populasinya semakin menipis. Pengamatan satwa endemik komodo serta satwa lainnya seperti rusa, babi hutan dan burung dapat dilakukan di Taman Nasional Komodo. Taman Nasional Kelimutuyang berada di Flores memiliki danau kawah dengan tiga warna yang berbeda.
Indonesia memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Gunung Bromo di Provinsi Jawa Timur dikenal sebagai lokasi wisata pegunungan untuk melihat matahari terbit maupun penunggangan kuda. Pada bulan-bulan tertentu, terdapat upacara kebudayaan Yadnya Kasada yang dilakukan oleh masyarakat Gunung Bromo. Lokasi wisata lain yang terkenal di daerah Jawa Barat adalah Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di Subang. Gunung aktif ini menghasilkan mata air panas yang terletak di kaki gunung yang dikenal dengan nama Ciater dan sering dimanfaatkan untuk spa serta terapi pengobatan.
Keanekaragaman flora dan fauna yang ada di seluruh nusantara menjadikan Indonesia cocok untuk pengembangan agrowisata. Kebun Raya Bogor yang terletak di Bogor merupakan lokasi agrowisata populer yang telah berdiri sejak abad 19 dan merupakan yang tertua di Asia dengan koleksi tumbuhan tropis terlengkap di dunia.Hingga Maret 2010, Kebun Raya Bogor memiliki koleksi 3.397 spesies jenis koleksi umum, 550 spesies tumbuhan anggrek, serta 350 tumbuhan non-anggrek yang berada di rumah kaca. Taman Wisata Mekarsari merupakan taman buah tropis terbesar dan terlengkap di dunia. Koleksi taman ini mencapai 100.000 tanaman buah yang terdiri dari 78 famili, 400 spesies, dan 1.438 varietas.

Pulau Derawan tak diragukan Keindahannya


http://www.indonesia.travel/assets/img/media/images/upload/poi/xSudut,P20Pulau,P20Derawan,P20by,P20Thaliq,P20Anshari.jpg.pagespeed.ic.hpsxDXE-ZQ.jpg 
sumber: indonesia.travel
Wisata bahari utama yang ada di Kabupaten Berau adalah wisata bahari kepulauan Derawan. Kepualuan Derawan adalah kepulauan yang terletak di sebelah timur pulau Kalimantan termasuk dalam Kabupaten Berau.
Derawan ini merupakan kepulauan yang berada paling Timur dari Pulau Kalimantan. Kepulauan Derawan terdiri atas 6 pulau, antara lain Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Pulau Meratus, Pulau Sangalaki, Pulau Panjang dan Pulau Semama.
Kepulauan Derawan ini diberi nama Obyek Wisata Bahari Kawasan taman Laut Derawan. Kepulauan Derawan merupakan bagian dari Ekoregion Laut Sulu-Sulawesi yang melintasi Indonesia, Malaysia dan Filipina. Ekoregion ini terletak dipusat Kawasan Segitiga Karang Dunia dengan keanekaragaman hayati karang tertinggi didunia.
Segitiga Terumbu Karang ini disebut juga “The Coral Triangle” karena menjadi episenter kehidupan laut yang memiliki keragaman jenis biota laut. Terumbu karang dikawasan ini mencakup 53 % terumbu karang dunia.

Bahkan berdasarkan penilitian yang dikembangkan, Kepulauan Derawan merupakan salah satu Multi Countries Fedding Ground terpenting didunia Pulau Derawan ini memiliki panorama laut yang indah dengan pasir pantai yang putih, rindangnya pohon-pohon kelapa dan kehidupan penduduk desa setempat.
Pulau ini terkenal dengan wisata baharinya khususnya penyelaman dan aktivitas snorklingnya. Perairan sekitar Pulau Derawan  kaya akan keanekaragaman ikan dan biota laut. Penyu hijau juga banyak ditemukan di pulau derwan. Penyu-penyu hijau tersebut sangat jinak dan seringkali menampakan dirinya pada manusia.  Menunggu penyu-penyu hijau tersebut muncul cukup mengasyikan.

Seringkali penyu-penyu  tersebut menuju pantai untuk bertelur.  Menyaksikan  secara  langusng  penyu bertelur merupakan sebuah hal yang langka.

Pulau Padar NTT

http://www.pulaubunga.com/wp-content/uploads/2015/08/Pulau-padar-labuan-bajo.jpg


Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. 

Mungkin keberadaan Pulau Padar tidak se-terkenal Pulau Komodo ataupun Pulau Rinca, namun keindahan Pulau Padar tidak kalah cantiknya dengan kedua pulau tersebut. 

Letak Pulau Padar cenderung lebih dekat dengan Pulau Rinca dibandingkan dengan jarak ke Pulau Komodo dan dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena berada dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Gili Motang. Meskipun berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, namun Pulau Padar tidak dihuni oleh komodo dikarenakan rantai makanan yang terputus.

Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil yang memiliki keunikan panorama masing-masing. Dan di Pulau Padar juga terdapat hamparan pink beach yang sangat cocok digunakan untuk sekedar berenang, bermain air ataupun ber-snorkeling ria. Pengunjung juga dapat menaiki bukit yang berada di Pulau Padar untuk menikmati keindahan panorama dari atas. Biru laut dan jajaran pulau di sekitarnya akan menghipnotis pengunjung. Meskipun trekking menuju bukit tertinggi akan terasa sangat melelahkan, namun pengunjung akan disuguhkan panorama perbukitan dan pemandangan yang sangat cantik dan mengabadikan momen akan menjadi kegiatan yang tak ada bosannya selama perjalanan trekking.

Jika Anda berencana untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo, cobalah singgah sejenak di pulau ini, ketenangan dan keelokannya akan membuat Anda betah berlama-lama di pulau ini.

Pulau kakara

http://pbs.twimg.com/media/A-ZUxQmCQAA4t2b.jpg:large


Pulau Kakara merupakan salah satu primadona di Kepulauan Tobelo, Maluku Utara. Pulau ini memiliki keindahan yang tidak kalah indah dengan pulau lainnya yang berada di Provinsi Maluku Utara. Pantai di pulau ini berpasir putih, dengan air lautnya yang sangat jernih, serta kawasan pantainya ditumbuhi pepohonan yang rimbun membuat Kakara menjadi tujuan favorit. Pada akhir pekan Kakara sangatlah ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Pulau ini merupakan asal mula budaya Hibualamo. Bagi Anda yang menyukai wisata sejarah berkunjunglah ke pulau ini untuk melihat konstruksi awal rumah adat Hibualamo yang menjadi simbol persatuan masyarakat Halmahera Utara. Penduduk di pulau ini juga dikenal sebagai penari cakalele yang handal.

Bagi Anda yang menyukai snorkeling dan diving, jangan sampai tidak mengunjungi pulau ini. Di perairan sekitar tanjung sebelah timur pulau ini merupakan titik yang direkomendasikan untuk snorkeling. Keindahan bawah laut Kakara sangat mempesona yang akan membuat Anda betah disini. Anda dapat melihat karang karang cantik yang muncul ke permukaan pada saat airnya surut. Pulau ini juga memiliki keunikan tersendiri yaitu Anda dapat menemukan bintang laut dalam jumlah yang banyak pada saat musim tertentu.

Pulau ini adalah salah satu dari gugusuan pulau pulau yang berada di depan Kota Tobelo, yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan ketinting dari pelabuhan Dufa-dufa. Jika Anda ingin mengunjungi pulau disekitarnya, Anda dapat menyewa perahu ketinting dengan kapasitas 6 orang, tarif harga Rp.150.000

Misteri Danau Gunung 7 serta dan sepasang Naga

http://blog.goindonesia.com/wp-content/uploads/2014/06/Danau-Gunung-7-798x350.jpg
Danau yang tenang dengan pemandangan alam fantastis, pastilah mengundang banyak orang datang berkunjung. Terlebih, bila danau tersebut punya banyak kisah legenda yang semakin menggelitik rasa penasaran.

Salah satu danau itu, berlokasi di Indonesia, tepatnya di Provinsi Jambi. Danau Gunung Tujuh namanya. Seperti yang tersirat dari namanya, danau tersebut memang dikelilingi tujuh gunung.

Ada pun ketujuh gunung tersebut adalah Gunung Hulu Tebo, Gunung Hulu Sangir, Gunung Madura Besi, Gunung Lumut , Gunung Selasih, Gunung Jar Panggang, dan Gunung Tujuh.

Dari sisi geologi, Danau Gunung Tujuh merupakan kaldera, atau danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi. 

https://blognyareskinathalia.files.wordpress.com/2012/03/41.jpg?w=479&h=293

Istimewanya, Danau Gunung Tujuh merupakan kaldera tertinggi di Asia Tenggara. Luasnya sekitar 960 hektare, dengan ukuran panjang 4,5 kilometer serta lebar tiga kilometer. Ketinggian danau tersebut, sekitar 1,950 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di Desa Pelompek, Kabupaten Kerinci, Jambi.

Danau ini juga punya kisah yang diceritakan turun-temurun. Konon, terdapat dua makhluk halus yang menjaga danau tersebut yaitu Lbei Sakti dan Saleh Sri Menanti, dengan pengikutnya yang berwujud harimau.

Penuturan lain menceritakan bahwa danau ini dihuni sepasang naga. Naga jantan menghuni danau dan naga betina menghuni hulu sungainya. Terlepas dari berbagai mitos danau ini tetap menjadi wisata yang indah dan unik. Letaknya diatas gunung menjadikan suasananya masih asri dan alami.

Tidak hanya itu tempat ini juga menawarkan panorama yang indah menyuguhkan air danau yang jernih yang mampu membuat pengunjung betah berlama-lama.

Danau Kaco Tempat Wisata Alam Indonesia di Jambi

http://acara-event.com/wp-content/uploads/2014/11/danaukaco2.jpg

Tempat wisata indonesia memang tidak akan habis untuk di bicarakan salah satunya adalah danau kaco, merupakan danau banyak menarik perhatian penduduk setempat dan turis asing karena danau ini sangat bening sekali seakan-akan seperti kaca dan menurut sebagian sumber danau ini bercahaya di malam hari.

Merencanakan perjalanan ke danau kaco ini akan menjadi agenda yang sangat menyenangkan. Nuansa alam sangat menyejukan hati dan pikiran, mengunjungi danau ini seakan kita sedang berkaca dan seakan-akan seperti tempat dunia hayalan.

Terletak di Taman Nasional Kerinci Seblat, Desa Lempur, Sungai Penuh, Kab Kerinci, Provinsi Jambi. Bagi sobat yang pecinta petualang tau tidak bahwa tempat ini bisa di sebut sebagai satu satunya tempat di dunia yang memilki nuansa sureal.

Lebatnya hutan dengan nuansa hijau di sekelilingnya memantulkan warna biru teramat bening, sehingga bila sobat datang ke tempat ini akan melihat ikan kesana-kemari dengan jelas yang jarang ada di tempat lainya. Melihat dari gambar di atas seakan danau ini tidak terlalu dalam, namun pernah danau ini di lakukan penyelaman oleh peneliti belum bisa menyentuh dasar, karena  oksigen yang di gunakan oleh penyelam habis duluan.

Hal yang unik dari danau ini  adanya mitos yang beredar di masyarakat bahwa danau ini bisa menjadi bening di sebabkan oleh seorang putri yang teramat cantik oleh seorang bpk yang serakah bernama Raja Gagak ditenggelamkan dengan hartanya yang melimpah.

Pulau Samber Gelap Kal-Sel

http://images.detik.com/content/2013/07/23/1026/img_20130723090616_51ede5182200d.jpg

Pulau Samber Gelap memiliki pemandangan yang sangat luar biasa indah. Pasir Pantainya yang putih dan lembut, serta air laut yang jernih ditambah langit-langit yang sangat biru membuat kita dapat melupakan sejenak kepenatan dunia.

Lokasi dan Akses

Pulau Samber Gelap berada di Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Akses untuk ke pulau ini memerlukan waktu yang lumayan lama. Dari Batulicin menggunakan kapal ferry, untuk penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit, dari Tanjung Serdang menuju pelabuhan panjang kotabaru kami menggunakan motor dengan jarak tempuh +/- 40 km. Dari pelabuhan panjang kotabaru menuju Pulau Samber Gelap menggunakan speed boat dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam dengan gelombang yg cukup ekstrim.

Fasilitas dan Akomodasi

Pulau Samber Gelap memiliki fasilitas rumah untuk pengunjung yang ingin menginap ataupun bermalam ditempat ini. Disini juga terdapat mercusuar yang bisa digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan dari atas. Selain memiliki pesona alam yang luar biasa, pulau Sambar Gelap juga digunakan sebagai tempat penangkaran tukik.

Aktifitas Wisata

Karena ditempat ini memiliki tempat penangkaran penyu, jadi pengunjung yang berkunjung ke tempat ini bisa melihat aktifitas penyu bertelur ketika malam hari. Selain itu, pengunjung pun dapat melakukan aktifitas snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut Pulau Sembur Gelap. Namun pengunjung yang ingin melakukan snorkeling harus membawa peralatan sendiri.

Harga Tiket Masuk

Tidak ada biaya masuk ke kawasan ini. Biaya yang dikeluarkan hanya biaya perjalanan menuju tempat ini yang akan dirincikan seperti berikut:
Tiket penyebrangan Ferry Batulicin – Tanjung Serdang Rp. 50.000,- / motor PP
Sewa Speedboat dari Pelabuhan Panjang Kotabaru – Samber Gelap Rp. 1.500.000 / hari

Tips

Sebaiknya berkunjung bersama-sama teman yang lain, agar biaya penyewaan kapal jadi lebih ringan.
Bulan yang disarankan untuk mengunjungi tempat ini adalah bulan April, Mei, Oktober dan Desember.

Goa kali suci

http://liburanjogja.co.id/wp-content/uploads/2013/03/IMG-Tubing-Kalisuci.jpg

Goa yang disebut kali suci ini terletak di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari. Kalisuci terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Koordinat GPS S8°0'34.76" E110°38'21.36"

Merupakan wisata minat khusus yang menawarkan susur sungai (rafting) bawah tanah sekaligus susur goa (cave tubing) di kawasan karst Gunungkidul.

Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. Di kawasan ini wisatawan dapat melakukan aktivitas susur goa dengan menggunakan peralatan khusus seperti perahu karet, tali, dan lain-lain. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa kalisuci dengan stalaktit dan stalakmit, keindahan dan kesejukan yang menyatu serta petualangan yang penuh tantangan.

Melewati sungai yang mengalir menyusuri goa-goa bawah tanah menjadi salah satu potensi wisata yang ditawarkan tempat ini. Ditemani pemandu Anda akan diajak hanyut ke dalam goa Kalisuci dan Luweng Glatik (goa Glatik). Tak harus bisa berenang, semua pengunjung akan dilengkapi dengan pelampung dan helm sebagai sarana standar keselamatan. Goa ini cukup panjang dengan langit-langit juga cukup tinggi dan kedalaman sungai sekitar 2-3 meter. Sepanjang perjalanan juga akan banyak penjelasan dari pemandu. Di dalam goa cukup gelap dan memang tidak disediakan penerangan demi menjaga ekosistem yang ada di dalam goa.

(A) Sejarah Pulau Dewata BALI

http://www.diveindonesia.net/wp-content/uploads/2014/01/balii.jpg 
 
Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

ASAL USUL SEJARAH PULAU BALI

MASA PRASEJARAH

Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.

Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba, Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT SEDERHANA

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di Bedulu, Gianyar.

Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden). Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.

Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT LANJUT

Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

MASA BERCOCOK TANAM

Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.

MASA PERUNDAGIAN

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASUKNYA AGAMA HINDU

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASA 1343-1846

KEDATANGAN EKSPEDISI GAJAH MADA

Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Dari sinilah berawal wangsa Kepakisan.

PERIODE GELGEL

Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel (dibaca /gɛl'gɛl/). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).

ZAMAN KERAJAAN KLUNGKUNG

Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

KERAJAAN - KERAJAAN PECAHAN KLUNGKUNG
Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Mengwi, yang kemudian menjadi Kecamatan Mengwi.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Kerajaan Denpasar,yang kemudian menjadi Kota Madya Denpasar

MASA 1846 - 1949

Pada periode ini mulai masuk intervensi Belanda ke Bali dalam rangka "pasifikasi" terhadap seluruh wilayah Kepulauan Nusantara. Dalam proses yang secara tidak disengaja membangkitkan sentimen nasionalisme Indonesia ini, wilayah-wilayah yang belum ditangani oleh administrasi Batavia dicoba untuk dikuasai dan disatukan di bawah administrasi. Belanda masuk ke Bali disebabkan beberapa hal: beberapa aturan kerajaan di Bali yang dianggap mengganggu kepentingan dagang Belanda, penolakan Bali untuk menerima monopoli yang ditawarkan Batavia, dan permintaan bantuan dari warga Pulau Lombok yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasanya (dari Bali).

PERLAWANAN TERHADAP ORANG - ORANG BELANDA

Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
Perang Buleleng (1846)
Perang Jagaraga (1848--1849)
Perang Kusamba (1849)
Perang Banjar (1868)
Puputan Badung (1906)
Puputan Klungkung (1908)

Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.

ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.

Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.

LAHIRNYA ORGANISASI PERGERAKAN

Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana".

Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studiefonds.

ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.

Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.

ZAMAN KEMERDEKAAN

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.

Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI menggunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.

Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.

PUPUTAN MARGARANA

Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di desa margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 november 1946 di kenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

KONFERENSI DENPASAR

Pada tanggal 7 sampai 24 Desember 1946, Konferensi Denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Hubertus Johannes van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makassar (Ujung Pandang).

Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.

PENYERAHAN KEDULATAN

Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.

Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR KABUPATEN DAN KOTA DI BALI

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Badung Badung
2 Kabupaten Bangli Bangli
3 Kabupaten Buleleng Singaraja
4 Kabupaten Gianyar Gianyar
5 Kabupaten Jembrana Negara
6 Kabupaten Karangasem Karangasem
7 Kabupaten Klungkung Klungkung
8 Kabupaten Tabanan Tabanan
9 Kota Denpasar 

DAFTAR GUBERNUR BALI
1. Anak agung bagus sutedja : tahun 1950 - 1958
2. I Gusti Bagus Oka : tahun 1958 - 1959
3. Anak agung bagus sutedja : tahun 1959 - 1965
4. I Gusti putu martha : tahun 1965 - 1967
5. Soekarmen : tahun 1967 - 1978
6. Prof. Dr. Ida Bagus mantra : tahun 1978 - 1988
7. Prof. Dr. Ida bagus oka : tahun 1988 - 1993
8. Drs. Dewa made beratha : tahun 1993 - 2008
9. I Made Mangku Pastika : tahun 2008 - 2013
10. I MadeMangku Pastika : tahun 2013 - 2018

BIODATA PULAU BALI :

Batas Wilayah :
- Utara : Laut Bali
- Selatan : Samudera Indonesia
- Barat : Provinsi Jawa Timur
- Timur : Provinsi Nusa Tenggara Barat

Hari Jadi Bali : 14 Agustus 1959
Ibukota : Denpasar (Dahulu Singaraja)
Koordinat : 9º 0' - 7º 50' LS
114º 0' - 116º 0' BT
Luas : 5.634 KM2

Situs Web : www.baliprov.go.id

Lagu Daerah : Bali Jagaddhita

Pantai Nihiwatu sumba

Keindahan Pantai Nihiwatu


http://planetsurfonline.com/uploads/new_gallery/1407746760.jpg

Pantai Nihiwatu, memang tidak banyak yang mendengar nama pantai tersebut. Namun siapa sangka, pantai itu berada di posisi ke-17 dari 100 pantai terbaik di dunia dan satu-satunya pantai di Indonesia yang terpilih menjadi pantai terbaik di Asia. Pantai ini begitu sempurna meski membutuhkan waktu tempuh cukup panjang untuk dapat mencapai lokasi, Namun, semua itu sepadan dengan air lautnya yang jernih, pasir pantainya yang bersih, dan suasana matahari terbenam yang menakjubkan.

Nihiwatu berada di wilayah Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan menjadi salah satu tujuan para surfer dunia untuk mencoba keganasan ombak pantai tersebut, Mereka menjulukinya dengan God’s Left. Maka tidak heran jika pelancong yang datang banyak berasal dari luar negeri. Sayangnya, untuk dapat menikmati keindahan dan kedahsyatan ombak Nihiwatu tidak sembarang orang dapat melakukannya, termasuk orang Sumba sendiri. Pantai Nihiwatumemang menjadi pantai privat bagi kalangan tertentu. Kedengarannya memang sedikit aneh, tapi itulah kenyataan yang berlaku untuk Pantai Nihiwatu. Pantai berpasir putih sepanjang 2,5 km ini merupakan satu dari sepuluh pantai terbaik di Asia.

Terletak di arah 30 km dari Kota Waikabubak,Kabupaten Sumba Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tempat ini sangat cocok bagi yang ingin menyepi, dan menikmati hawa pantai yang asli, karena selain jauh dari keramaian kota, tempat ini belum banyak di jamah oleh tangan-tangan industri. Pantai Nihiwatudikelola oleh sebuah resort internasional bernama Resort Nihiwatu. Tidak semua orang dapat bebas memasuki lokasi pantai ini, karena penjagaan yang ketat. Hanya tamu Resort Nihiwatu saja yang diperbolehkan. Jika ingin menikmati keindahan Pantai Nihiwatu, tentunya harus memesan kamar untuk menginap diResort Nihiwatu terlebih dahulu.

Bangunan resort ini terdari dari villa-villa yang menghadap ke laut, bungalow dengan 3 kamar tidur besar yang dibangun di atas bukit yang dilengkapi dengan kolam pribadi yang menghadap ke Samudera Hindia. Begitu pula dengan restorannya yang dibangun menghadap ke arah pantai dengan model bangunan terbuka. Arsitektur dan ornamen bangunan yang ada di resort ini merupakan gabungan dari tradisional dan modern. Resort ini memang menawarkan keindahan laut dengan keeksotisan budaya Pulau Sumba.

Selain menikmati keindahan laut dan keeksotisan budayanya, banyak para tamu resort ini yang berselancar di Pantai Nihiwatu. Tidak semua peselancar bisa berselancar bersamaan dalam satu waktu. Di tempat ini hanya dibatasi maksimal 10 peselancar yang berada di pantai demi menjaga keamanan dan keselamatan mereka. Jika sudah ada 10 peselancar di pantai, peselancar lainnya harus menunggu giliran. Memang, saat menunggu giliran, ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan seperti memancing, snorkeling, scuba diving atau berperahu ke daerah teluk Pantai Konda Maloba, mengamati burung, bersepeda gunung hingga trekking ke air terjun.

Ombak di tempat ini merupakan salah satu yang tercepat di dunia dan ikan yang paling banyak disini adalah mackerel Spanyol, wahoo, dan trevally. Tidak diragukan kalau Nihiwatu merupakan salah satu pantai dengan ombak terbaik di Indonesia. Kita sebagai orang Indonesia harus berbangga ternyata di negara kita masih banyak tempat yang indah dan masih tersembunyi. Pantai Nihiwatu di Sumbabahkan berhasil mengalahkan keindahan panorama Hanalei Bay di Hawaii yang terkenal. Hal tersebut membuat resort ini memenangkan penghargaan sebagai hotel terbaik ke-2 di Indonesia pada tahun 2012. Walaupun pemilik resort ini adalah seorang warga negara asing, namun karyawannya adalah penduduk lokal dan mereka menjaga dengan baik kebersihan pantai dan fasilitas yang ditawarkan.

Kampung Budaya Osing (Kemiren) , Banyuwangi

https://blambangannews.files.wordpress.com/2012/03/wisata-osing01.jpg

Desa Wisata Osing atau Using berada di Desa Kemiren , Kecamatan Glagah di Kabupaten Banyuwangi. Penduduk di desa ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki adatistiadat dan budaya khas sebagai satu suku, yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Pemerintah menetapkannya , sebagai daerah eagar budaya dan mengembangkannya sebagai Desa Wisata (Suku) Using (Osing)
 
Memasuki Desa Kemiren benar-benar terasa berada di tempat  yang patut dinikmati sebagai satu pengalaman baru  Bangunan mmah berjajar dan saling berdekatan di komplek pemukiman yang padat penduduk dt sepanjang jalan menyambut wisatawan sebelum tiba di tempat rekreasi.
 
Dalam bercocok tanam, masyarakat Kemiren menggelar tradisi selamatan sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah.Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar. 

Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata Using, tahun 1995 Bupati Purnomo Sidik membangun anjungan wisata yang terletak di utara desa. anjungan yang berdiri di atas lahan 2,5 hektar ini dibangun dengan biaya Rp 4 miliar. Anjungan ini dikonsep menyajikan miniatur rumah-rumah khas Using, mempertontonkan kesenian warga setempat, dan memamerkan hasil kebudayaan. 

Di tempat rekreasi dibangun fasilitas wisata seperti kolam renang, tempat bermain, dan tentu saja ada bangunan rumah khas masyarakat Osing serta bangunan museum modern yang mamajang berbagai perlengkapan dan pernik budaya Osing. Cukup dengan uang Rp 5.000 untuk tiket masuk, wisatawan bisa menikmati fasilitas rekreasi sepuasnya.

Posisi Desa Kemiren sangat strategis menuju wisata Kawah Ijen. Desa ini merniliki luas117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya dibatasi oleh dua sungai, Gulung dan Sobo yang mengalir dari barat ke arah timur. Di tengah-tengahnya terdapat jalan aspal selebar 5 m yang menghubungkan desa ini ke kota Banyuwangi di sisi timur dan pemandian Tamansuruh dan ke perkebunan Kalibendo di sebelah barat.

Pada siang hari, terutamapada hari-hari libur, jalan yang membelah Desa Kemiren cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang menuju ke pemandian Tamansuruh, perkebunan Kalibendo maupun ke lokasi wisata Desa OSing.

Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah mempertemukan pengusaha Bali dan Banyuwangi yang dikemas dalam Gathering Night in Bali. Dengan harapan meningkatkan kunjungan wisata ke Banyuwangi.

Sejarah Masyarakat Osing

Desa.yang berada di ketinggian 144 m di atas p ermukaan laut yang termasuk dalam topografi rendah dengan curah hujan 2000 mm/tahun sehingga memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini rnemang cukup enak dan menarik dari sudut suhu udara dan pemandangan untuk wisata.

Mengamati bentuk rumah di Kemiren sepertinya sarna. Namun jika diamati lebih teliti ada perbedaan pada atap rumah yang ternyata menandai status penghuninya. Rumah yang beratap empat yang disebut ‘tikel balung’ melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap. Rumah ‘crocogan’ yang beratap dua mengartikan bahwa penghuninya adalah keluarga muda dan atau keluarga yang ekonominya relatif rendah, dan rumah “baresan’ yang beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, secara ma·teri berada di bawah rumah bentuk ‘tikel balung’.

Hampir di setiap rumah ditemukan lesung (alat penumbuk padi), dan gudang tempat menyimpan sementara hasil panen. Di beberapa sudut jalan tampak gubuk beratapkan ilalang, yang dibangun di ujung kaki-kaki jajang  (bambu, dalam bahasa Osing) yang tinggi. Bangunan ini digunakan oleh masyarakat untuk “cangkruk” sambil mengamati keadaan di sekeliling desa. Pada masa lalu, gubuk seperti ini sengaja dibangun untuk memantau kedatangan “orang asing” yang mencurigakan .
Sejarahnya, suku Osing saran seperti suku Tengger, yang merupakan masyarakat yang setia kepada Raja Majapahit yang menyelamatkan diri ketika kerajaan diserang dan runtuh sekitar tahun 1478 M. Sebagian berhenti di pegunungan Tengger (sekarang menjadi kelompok masyarakat suku Tengger) di Probolinggo dan sebagian melanjutkan perjalanan hingga ke ujung timur P Jawa (Banyuwangi).
Ada pula kelompok yang terus menyeberangi selat (Bali). Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ke ujung timur Jawa ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.

Orang-orang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat budaya maupun bahasanya. Desa Kemiren lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah dan hutan milik penduduk Desa Cungking yang merupakan cikal-bakal masyarakat Osing.

Hingga kini Desa Cungking juga masih tetap ada. Letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja, saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota.

Saat itu, masyarakat Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari ten tara Belanda. Para warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian. Maka dari itulah desa ini dinamakan Kemiren. Pertama kali desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan bangsawan.

Seperti halnya masyarakat suku Tengger, masyakat Osing di Kemiren bukan masyarakat eksklusif yang menutup diri seperti suku Badui. Di satu sisi, mereka sangat terbuka terhadap kemajuan jaman, seperti tampak pada eara berpakaian dan arsitektur rumah masa kini. Tapi di sisi lain, mereka kukuh menjalankan tradisi nenek moyang, mulai kehidupan sehari-hari sampai yang sacral seperti perkawinan sekalipun.

Cagar Budaya

Desa Kemiren telah ditetapkan sebagai Desa Osing yang sekaligus dijadikan cagar budaya untuk melestarikan keosingannya. Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai eagar budaya Osing. Banyak keistemewaan yang dimiliki oleh desa ini di antaranya penggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Osing.

Kekhasan kehidupan dan pemukiman penduduk serta adat-istiadat suku Osing menjadi modal utama pemerintah daerah membangun Desa Wisata Osing. Wisata Osing yang sebenarnya adalah wisata budaya. Fasilitas rekreasi hanya merupakan tambahan yang dibangun sebagai pelengkap, Coba berkunjung ke desa ini pada saat diselenggarakan upacara adat “Ider Desa” misalnya, maka paket wisata budaya di Kemiren sangat lengkap.

Para ahli sejarah lokal cukup yakin bahwa julukan “Osing” itu diberikan oleh para imigran yang menemukan bahwa kata “tidak” dalam dialek lokal adalah “Osing”, yang berbeda dari kata “ora” dalam bahasa Jawa. Orang yang sebenarnya Jawa itu kini disebut Osing saja atau juga disebut Jawa Osing.

Ini memiliki ciri khas yaitu ada sisipan “y” dalam pengucapannya. Seperti contoh berikut ini: madang (makan) dalam bahasa Osing menjadi “madyang”, abang (merah) dalam bahasa Osing menjadi “abyang”. Masyarakat desa ini masih mempertahankan bentuk rumah sebagai bangunan yang memiliki Keunikan lainnya terdapat pada tradisi masyarakat yang mengeramatkan situs Buyut Cili, tiap malam Senin dan malam Jumat warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa “pecel pitik” atau yang bias a kita kenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar di situs Mbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya.

Pulau Badi Tempat Rehabilitasi karang

https://mrusdianto.files.wordpress.com/2011/12/pulau-badi1.jpg
 
Sulawesi Selatan satu di antara sejumlah provinsi yang dikenal sebagai surga bahari. Gugusan kepulauan spermonde yang menunjang kawasan wisatanya membuat pelancong akan lebih mudah menemukan sejumlah pantai dengan air laut yang bening, hingga hamparan pasir putih yang memukau.

Pulau Badi, menjadi salah satu destinasi yang mampu beradu indah dengan pantai-pantai populer lain di sejumlah kota wisata. Di pulau ini Anda tak hanya akan menemukan panorama alam pantai nan indah namun juga pusat pengembangan rehabilitasi karang dunia. Pulau Ini terletak di Desa Mattiro Deceng, Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajenne Kepulauan.
 
Dari Makassar, pulau ini bisa ditempuh sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal cepat.

Alternatif penyebrangan bisa anda lakukan melalui sejumlah penyebrangan seperti kayu bangkoa Jl Pasar Ikan, Dermaga Benteng Panynyua (Depan Rotterdam) maupun Pelabuhan Paotere. Pulau Badi, Pangkep menjadi salah satu destinasi yang mampu beradu indah dengan pantai-pantai populer lain di sejumlah kota wisata. 

Badi sendiri merupakan salah satu pulau yang dihuni masyarakat namun tetap mampu terjaga dan menjadi tempat kunjungan pilihan bagi anda yang hendak ke Sulsel. Pulau ini tak hanya populer dikalangan masyarakat setempat, namun dunia pun sudah mengakui.

Hal ini dibuktikan dengan silih bergantinya tokoh besar dunia seperti Jhon Mc Kein dan sejumlah penyelam dunia yang jauh-jauh dari berbagai negara hanya ingin mengintip langsung keberhasilan rehabilitasi karang yang digalakkan pulau dengan luas 6,50 hektar ini

Pulau Badi memiliki sekitar 402 kepala keluarga (KK), sejak tahun 2007 salah satu perusahaan kakao yang berbasis di Amerika yakni PT Mars Symbioscience mencanangkan pulau ini sebagai pusat pengembangan rehabilitasi karang.

Sekitar 700 meter persegi lahan di pulau yang dulunya dikenal sebagai sentra pembuatan perahu jolloro (perahu tradisional khas Makassar) ini direhabilitasi melalui pemasangan rekayasa terumbu karang. Sejak dicetuskan 2007, PT Mars bersama penduduk setempat tercatat telah merehabilitasi sekitar 10.000 meter persegi lahan untuk pengembangan ekosistem laut. Upaya berkelanjutan inilah yang sekaligus membuat pulau Badi menjadi daerah percontohan dari rehabilitasi terumbu karang terbesar di dunia.

Pulau Kaniungan, Berau


http://picture.triptrus.com/picture/l6251

Secara administratif, Pulau Kaniungan berada di RT 3, Kampung Teluk Sumbang, Biduk-Biduk, Berau. Dan secara geografis terletak pada titik 118 derajat, 50’ dan 70” BT, dan 1 derajat 7’ dan 1” LU.

Tak mudah untuk menjangkaunya. Karena itu pula, pulau yang sebenarnya terbagi jadi dua, Kaniungan Besar dan Kecil itu, masih terjaga keasriannya. Tak banyak sentuhan tangan manusia yang telah menjamahnya. Ikan-ikan buruan nelayan juga mudah ditemukan. Itu sebab perairan sekitar Kaniungan selalu ramai para pengadu nasib di tengah laut.

Di pinggir laut, padang lanun yang terhampar di perairan dangkal, menjadikan habitat penyu dengan mudah ditemui. Dua pulau itu juga jadi tempat hewan dengan tempurung tebal itu bertelur. Aktivitas manusia yang masih terbilang minim di tempat indah tersebut, menjadikan hewan yang jadi simbol Berau itu tetap lestari.

“Pada bulan tujuh atau delapan (Juli-Agustus, Red) banyak penyu yang ke darat. Semalam bisa sampai lima puluh ekor. Baik di Kaniungan Besar atau Kecil, sama-sama ramainya,” tutur Abdul Jalil, Ketua RT 3 Teluk Sumbang kepada Berau Post.

Pesona dua daratan Kaniungan bagi habitat penyu melakukan reproduksi, memang tak hanya pada dua bulan yang biasa disebut Musim Selatan itu. Hanya saja intensitas penyu bertelur semakin kecil pada bulan-bulan lainnya.

Kaniungan, sejauh ini memang belum memberikan daya tarik lebih besar selain bagi para penyu bertelur. Namun, dari sejarah yang dituturkan Abdul Jalil, pulau yang punya luas 55,4 hektare itu, setelah diukur oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gajah Mada Jogjakarta, Agustus 2015 lalu, sebenarnya sudah mulai ditinggali sejak tahun 1730. Dan, Pulau Kaniungan Kecil, sampai saat ini tak ada manusia yang meninggalinya. “Karena di sana tak ada sumber air tawar,” ungkapnya.

Abdul Jalil bisa memberikan angka pasti soal tahun Kaniungan mulai didiami manusia adalah arsip yang tertulis dalam aksara Lontara yang tersimpan di Keraton Sambaliung, Berau. Pak RT, begitu Abdul Jalil biasa disapa, meyakinkan bahwa Suku Bugis adalah pendatang pertama yang mendiami pulau tersebut.

Bukti sejarah Pulau Kaniungan Besar pernah jadi “perlindungan” pelaut yang ingin mendarat adalah komplek kuburan yang berada di tengah-tengah pulau. Ada beberapa nisan, yang terbuat dari kayu dan batu, dan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan karena minimnya perawatan.

Bahkan, sebagian besar nisan dari kayu ulin yang tertancap di atas pusara, hampir ludes jadi abu, imbas kebakaran lahan beberapa tahun lalu. Dari persebaran nisannya, tampak jika itu adalah areal kuburan yang dulunya tertata rapi. Dengan satu kuburan di bagian tengah, dan dikelilingi kuburan-kuburan lain yang membentuk satu formasi tertentu.

Perlu penggalian sejarah lebih lanjut untuk menentukan kepastian informasi tentang areal makam tersebut. Dari sisa-sisa nisan yang terbakar, masih jelas terlihat aksara Lontara yang jadi penanda dan identitas tentang jasad yang dikubur di lokasi itu. “Yang saya tahu, kalau nisan bentuknya bulat itu berarti yang dikubur laki-laki, dan kalau nisan yang datar, itu berarti perempuan,” lanjut Abdul Jalil.

Umur yang sudah sepuh bagi Pulau Kaniungan sejak didiami manusia, ternyata tak sebanding dengan penambahan jumlah penduduknya. Dari data yang dipegang Abdul Jalil, saat ini hanya ada 18 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa hanya mencapai 52. “Kalau dilihat dari jenis pekerjaan, pemegang KTP semuanya bekerja sebagai nelayan,” ungkap pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah itu.

Keberadaan Pulau Kaniungan ternyata juga diakui Junaedi, salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran lalu itu. Pria yang tumbuh besar dan tinggal di Biduk-Biduk itu, menganggap bahwa moyangnya juga berasal dari Kaniungan. “Dari cerita orangtua, dulu nenek-kakek kami tinggal di Kaniungan. Lama kelamaan mereka pindah ke darat (Biduk-Biduk),” ujarnya.

Nama dua pulau itu sendiri berasal dari nama tumbuhan dan buah yang punya nama sama; Kaniungan. Dulunya, pulau tersebut, selain dipenuhi pohon kelapa, juga banyak ditemukan pohon buah Kaniungan. Saat berkeliling pulau tersebut, Abdul Jalil menunjukkan bagaimana rupa tumbuhan yang ternyata hanya tersisa satu pokok. Dari bentuk batangnya, hampir mirip batang jambu biji. Diameter tak lebih dari 10 cm. Daunnya mirip daun jeruk, juga dengan aroma khas buah berair dan berasa masam tersebut.

“Ya, buahnya mirip jeruk. Tapi paling besarnya cuma sejempol tangan. Sayang, ini bukan lagi musimnya berbuah,” ungkap Pak RT. “Ini tinggal satu batang. Semoga yang punya lahan mau menjaga pohon ini, karena ini benar-benar sejarah yang harus dilestarikan.

Pulau tagalaya


 http://www.iftfishing.com/wp-content/uploads/2013/09/Pulau-Tagalaya-720x340.jpg
  
Berbicara mengenai keindahan wisata Bahari di Indonesia seperti nya tidak akan ada habis nya. 

Hal ini di karenakan Indonesia memang merupakan salah satu destinansi para pecinta keindahan Bahari. Tidak hanya penikmat dari dalam negeri namun juga dari luar negeri. Namun, masih banyak wisata Bahari di Indonesia yang belum banyak diketahui oleh wisatawan. Padahal, wisata-wisata tersebut lah yang masih banyak dicari oleh para wisatawan. Mungkin karena masih belum terjamah oleh tangan-tangan jail sehingga keindahan atau keeksotikan nya masih sangat alami.

Beberapa pulau di Indonesia memang masih menawarkan keindahan Bahari yang masih alami. Salah satu nya yakni keindahan pulau Tagalaya. Pulau yang terletak di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara ini masih sangat dijaga kelestarian nya. Sebuah pulau yang relatif kecil ini memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa indah nya, terutama keindahan biota laut nya.

Pulau Tagalaya menyajikan sebuah panorama yang luar biasa memukau. Bagaimana tidak, hamparan pasir putih sepanjang pantai seolah-olah telah menyambut kedatangan para wisatawan sekalian. Selain itu pulau ini menyajikan air laut yang sebening kaca dan keindahan laut nya bagaikan sebuah lukisan yang tidak ternilai harga nya, belum lagi ketika kita menyelam 'diving' maka kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa cantik nya. Inilah salah satu spot diving yang bisa dikatakan sangat rekomendasi buat pengunjung sekalian yang memang suka atau hobby dengan olahraga yang satu ini.

Pulau Tagalaya menawarkan sebuah keindahan alam bawah laut yang sempurna untuk para penyelam. Bukan hanya terumbu karang yang sangat memukau, ikan-ikan yang berwarna-warni berenang-renang kesana kemari dan juluran tentakel dari gurita laut saja yang akan kita temui di tempat ini. Namun, di pulau ini kita juga dapat menikmati keindahan alam yang sungguh luar biasa. Pepohonan bakau yang tumbuh di atas pasir putih dan apabila kita melihat di sisi sebelah Utara maka pengunjung akan disuguhi bebatuan karang yang sangat indah.

Bahkan untuk menikmati keindahan bawah laut nya, wisatawan tidak perlu harus menyelam dalam-dalam. Hal ini dikarenakan dengan melihat saja tanpa harus menyelam wisatawan sudah dapat melihat terumbu karang yang hidup dengan alami dan terjaga keindahannya. Namun, kalau ingin yang jauh lebih indah maka pengunjung dapat menyelam dengan kedalaman antara 2-10 meter saja. Karena terumbu karang dan biota laut dalam keadaan baik dapat kita temui pada kedalaman tersebut. Sungguh sebuah pulau yang sangat memanjakan mata wisatawan sekalian.

Namun, ada satu peraturan di pulau ini yang harus dipatuhi oleh para wisatawan. Yakni, para wisatawan dilarang untuk menginjak atau tidak boleh berpijak di atas bunga karang apabila sedang menyelam. Hal ini dikarenakan, agar tidak terjadi kerusakan terhadap bunga karang tersebut. Kalaupun harus berpijak, silahkan mencari pijakan yang tidak menyebabkan bunga karang tersebut rusak. Sebuah peraturan yang sungguh baik untuk dijalankan, agar ekosistem nya tetap terjaga.. Jadi, silahkan cantumkan Pulau Tagalaya dalam daftar List destinasi penyelaman Anda berikut nya. Love Diving and always save our earth.

Akses

Untuk dapat sampai ke pulau Tagalaya, wisatawan dapat menggunakan dua alternatif kendaraan yakni menggunakan perahu tradisional "ketinting" bersama-sama atau dapat pula menyewa Speedboat dari pelabuhan Tobelo.

Diperlukan waktu kurang lebih 20-30 menit perjalanan untuk sampai ke pulau Tagalaya dari pelabuhan Tobelo. Bagi pengunjung sekalian yang memang ingin menikmati keindahan pulau ini tidak ada salah nya apabila menggunakan perahu tradisional. Dengan menggunakan perahu tradisional tersebut wisatawan akan disuguhi keindahan bahari Maluku selama perjalanan. Selain itu wisatawan juga dapat lebih mengenal warga sekitar melalui perbincangan ringan bersama pemiliki perahu, siapa tahu nanti harga sewa perahu dapat potongan.