Tampilkan postingan dengan label GIE. Tampilkan semua postingan

cahaya bulan

puisi cahaya bulan - soe hok gie 



akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakah kau masih akan berkata
ku dengar detak jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku
dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah ku tahu
dimana jawaban itu
bagai letusan berapi
bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati

lembah Mandalawangi
*puisi ini menjadi soundtrack film GIE, dibacakan langsung oleh pemeran utamanya Nicholas Saputra,

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Soe Hok Gie Dalam Puisi
MANDALAWANGI – PANGRANGO



Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966 : Soe Hok Gie

Lirik OST Gie

https://azzuralhi.files.wordpress.com/2012/12/soe-hok-gie1.jpg

Erros SO7
OST Gie

Lagu ini dipublikasikan pada tanggal 16 April 2006 oleh Cosa Aranda. Lagu ini masih berupa single




Lirik Lagu Gie

sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku
sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
retaplah malam yg dingin
reff: tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu dengan alam
 kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia
repeat reff
keadilan, keadilan
* akan aku telusuri
jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban
repeat * [3x]
jawaban, jawaban, jawaban, oh oh oh

Soe Hok Gie: Sosok Misterius

http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2008/12/15/60997_soe_hok_gie_663_382.jpg

Soe Hok Gie adalah peranakan Tionghoa yang hidup pada masa kemerdekaan. Ia merupakan seorang yang pintar dan kritis. Sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, Soe Hok Gie memperdebatkan pekara Chairil Anwar. Soe Hok Gie berpendapat bahwa Chairil itu penerjemah bukan seorang pengarang, tetapi sang guru tetap berpendapat bahwa Chairil adalah seorang pengarang. 

Setelah kejadian tersebut, Soe Hok Gie menerima nilai ulangan yang jelek karena mendapat pengurangan nilai dari sang guru. Soe Hok Gie tidak menerima dan melawan. Jiwa kritis dan melawan ketidakadilan mulai tertanam dalam diri Soe Hok Gie hingga dewasa. Di sisi lain, Soe Hok Gie mempunyai sahabat karib bernama Hans. Namun, Hans pergi entah kemana karena mengikuti tantenya.

Pada saat dewasa, Soe Hok Gie melanjutkan pendidikan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia gemar sekali mendaki gunung. Ia juga mendirikan Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia). Wawasan yang luas dan kegemaran menulis membuat Soe Hok Gie mendapat tawaran untuk mengikuti sebuah organisasi. Namun, tawaran tersebut ditolak. Selain itu, Soe Hok Gie bekerja sama dengan militer untuk membuat tulisan propaganda melawan PKI. 

Hal tersebut terbukti efektif karena mampu menumbangkan PKI. Sementara itu, Soe Hok Gie juga kehilangan sahabat karibnya yang mengikuti PKI. Suatu hari Soe Hok Gie tidak sengaja bertemu dengan Hans dan diketahui bahwa Hans mengikuti PKI. Soe Hok Gie telah meminta agar Hans tidak ikut terlibat dalam PKI, tetapi tetap saja tampak jejak PKI dalam rumah Hans. Para PKI disiksa secara tidak manusiawi dan terjadi pembunuhan massal. Soe Hok Gie menelusuri peristiwa pembantaian PKI dan membuat tulisan mengenai hal tersebut. Tidak hanya itu, Soe Hok Gie juga memberikan opini melalui radio-radio. Semenjak hal tersebut, Soe Hok Gie merasa dibuntuti oleh orang yang tak dikenal hingga kematiannya. Soe Hok Gie meninggal karena menghirup gas beracun saat menaiki gunung.

Tokoh Soe Hok Gie diperankan dengan baik oleh Nikolas Saputra. Meskipun raut muka Nikolas Saputra tidak begitu terlihat seperti peranakan Tionghoa, tetapi hal tersebut tersebut diimbangi dengan sikap dingin dan pemberontak yang sangat menonjol diperlihatkan. Entah, Nikolas Saputra spesialis akting sebagai manusia dingin atau memang di kehidupan nyata bersikap dingin. Kehebatan sikap dingin yang ditampilkan Nikolas Saputra juga dapat terlihat di film terdahulu, yaitu Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Selain itu, penggambaran keadaaan masa lampau yang ditampilkan ikut menambah suasana tegang. Ya, tegang dan mencekam. Dua hal tersebut yang mungkin memang dirasakan oleh orang-orang yang hidup di era tersebut. Kedua suasana tersebut mampu ditranfer dengan baik kepada penontonnya.

Namun, bagian akhir cerita yang antiklimaks membuat cerita dalam film Soe Hok Gie menjadi samar-samar kejelasannya. Mungkin, sutradara bermaksud ingin membuat penonton mengintrepretasikan sendiri akhir cerita. Atau mungkin memang begitulah cerita perjalanan Soe Hok Gie sesungguhnya. Hal yang terasa mengganjal adalah ketidakkorelasian antara sesudah bagian tengah dan akhir cerita. Pada bagian tengah cerita digambarkan bahwa Soe Hok Gie mencari tahu kematian temannya, Hans, seorang PKI. 

Setelah mengetahui kekejaman tentara dalam menumpas PKI, Soe Hok Gie membuat berita mengenai hal tersebut. Semenjak membuat berita tersebut, Soe Hok Gie merasa dibuntuti oleh orang yang tidak dikenal. Akhir cerita, tertulis jelas bahwa Soe Hok Gie meninggal keracunan gas pada saat mendaki gunung. Kedua hal tersebut tidak bisa dipadukan. Jika memang Soe Hok Gie hanya keracunan gas, seharusnya bagian Soe Hok Gie dibuntuti tidak perlu diperlihatkan. Hal tersebut membuat spekulasi lain bahwa Soe Hok Gie meninggal karena dibunuh. Anggapan demikian tidak mengherankan karena pada zaman Orde Baru marak terjadi pembunuhan terselubung.

7 jenazah Pahlawan Revolusi utuh semua

http://static.inilah.com/data/berita/foto/2136075.jpg 

Hasil otopsi, 7 jenazah Pahlawan Revolusi utuh semua

JURNAL3 | Meski sudah puluhan tahun terjadi, peristiwa tragis pemberontakan G 30-S/PKI 1965 yang diisukan hendak melakukan kudeta di negeri ini, terus menjadi perdebatan menarik. Peristiwa dini hari itu hingga ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban.

Peristiwa G 30-S/PKI, ditandai dengan tewasnya 6 jenderal dan 1 perwira yang semuanya dikubur dalam satu lobang sumur tua di desa Lubang Buaya, Pondokgede, Jakarta Timur, dekat bandara Halim Perdanakusuma.
Mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi di sumur Lubang Buaya bukan perkara gampang saat itu. Teknologi belum semaju saat ini. Kondisi sumur yang dalam dan sempit serta bau mayat yang mulai membusuk, membuat evakuasi teramat sulit dilakukan.

Dengan telaten, para prajurit dari Kompi Intai Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KIPAM KKO-AL), berhasil mengangkat satu per satu jenazah dari sumur tua itu.
Sebenarnya, pada 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD (kini Kopassus), yang saat itu dipimpin Komandan Peleton 1 Letnan Sintong Panjaitan, sudah menemukan lokasi sumur tempat jenazah 7 pahlawan revolusi dikubur, berkat informasi yang disampaikan oleh seorang polisi bernama Sukitman.

Usai dilakukan penggalian, Sintong memutuskan melaporan temuan itu karena lokasi sumur yang sempit dan bau mayat yang sangat menyengat.
Mayor Jenderal Soeharto, yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) langsung memerintahkan penggalian dihentikan malam itu juga menunggu bantuan datang esok harinya.

Pada 4 Oktober 1964, pagi hari, pasukan KKO dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto, dengan peralatan pernafasan selam, melakukan evakuasi jenazah pahlawan revolusi. Satu persatu pasukan KKO turun ke dalam lubang yang sempit itu.

Pukul 12.05 WIB, anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dulu ke Lubang Buaya. Dia mengenakan masker dan tabung oksigen yang dipinjam dari KKO. Anang mengikatkan tali pada salah satu jenazah. Setelah ditarik, diketahui jenazah pertama yang berhasil diangkat adalah jasad Lettu Pierre Tendean, ajudan Jenderal AH Nasution.

Pukul 12.15 WIB, Serma KKO Suparimin turun, dia memasang tali pada salah satu jenazah, tapi rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik.

Pukul 12.30 WIB, giliran Praka KKO Subekti yang turun. Kali ini dua jenazah berhasil ditarik, yakni jasad Mayjen S Parman dan Mayjen Suprapto.

Pukul 12.55 WIB, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.

Pukul 13.30 WIB, Serma KKO Suparimin turun untuk kedua kalinya. Dia berhasil mengangkat jenazah Letjen Ahmad Yani. Dengan demikian, sudah enam jenazah diangkat.

Untuk memastikan sudah kosong, seorang lagi yang turun ke sumur untuk mengecek. Tapi semua penyelam KKO dan RPKAD sudah tak ada lagi yang mampu masuk lagi karena sudah kelelahan. Bahkan, beberapa ada yang muntah-muntah karena keracunan bau busuk.

Tahu anak buahnya di KKO sudah tak mampu, maka Komandan KIPAM KKO-AL Kapten Winanto turun sendiri untuk melakukan pekerjaan terakhir dengan membawa alat penerangan.

Ternyata benar, di dalam sumur masih ada satu jenazah lagi. Jenazah itu adalah Brigjen D.I. Panjaitan. Usai ditarik, maka lengkaplah sudah jasad 6 jenderal dan 1 perwira yang dinyatakan tewas dan diculik oleh pasukan Tjakra Bhirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, pada malam 30 September 1965.

Mereka yang jenazahnya ditemukan adalah:
1. Ahmad Yani, Letnan Jenderal (Menteri Panglima Angkatan Darat)
2. R. Soeprapto, Mayor Jenderal. (Deputi II Menpangad)
3. MT. Harjono, Mayor Jenderal. (Deputi III Menpangad)
4. S. Parman, Mayor Jenderal. (Asisten I Menpangad)
5. D. Isac Panjaitan, Brigardir Jenderal. (Deputi IV Menpangad)
6. Soetojo Siswomihardjo, Brigardir Jenderal. (Oditur Jenderal/ Inspektur Kehakiman AD)
7. Pierre Andreas Tendean, Letnan Satu. (Ajudan Menko Hankam/ KASAB Jenderal AH Nasution)

Usai pengangkatan jenazah, banyak versi terkait kronologi kematian 7 pahlawan revolusi itu. Bahkan, dalam film Pengkhianatan G-30 S/PKI, yang merupakan film wajib tonton pada tahun 80-an, digambarkan para jenderal yang diculik diperlakukan tak manusiawi.
Mereka disiksa, disilet, dipukul dan dianiaya. Bahkan, ada ada rumor, kemaluan Lettu Piere Tendean dipotong sebelum ditembak mati, di kawasan Lubang Buaya. Namun benarkah ke-7 pahlawan revolusi itu mengalami siksaan pedih dan menyakitkan sebelum ajal menjemput?

Sore hari itu juga, sekitar pukul 16.30 WIB, lima dokter forensik didatangkan atas perintah Pangkostrad/ Pangkopkamtib Mayjen Soeharto.

Lima anggota tim dokter yang mengotopsi ketujuh mayat itu dua di antaranya adalah dokter Angkatan Darat, diantaranya, dr. Brigardir Jenderal Roebiono Kertopati (perwira tinggi yang diperbantukan di RSP Angkatan Darat), dr. Kolonel Frans Pattiasina (perwira kesehatan RSP Angkatan Darat),Prof. dr. Sutomo Tjokronegoro (ahli Ilmu Urai Sakit Dalam dan ahli Kedokteran Kehakiman, juga profesor di FK UI), dr. Liauw Yan Siang (lektor dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman FK UI) dan dr. Liem Joe Thay (atau dikenal sebagai dr. Arief Budianto, lektor Ilmu Kedokteran Kehakiman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI).

Lewat tengah malam, pukul 00.30 WIB, tanggal 5 Oktober 1965, kelima dokter berhasil merampungkan pekerjaan mereka. Kesimpulannya, dari hasil visum et repertum atas 7 jenazah, semuanya dalam kondisi utuh dan tidak ada bekas-bekas penganiayaan dan siksaan, seperti yang disaksikan dalam film.

Hasil visum itu sengaja tidak dipublikasikan untuk umum demi menjaga doktrin bahwa para penculik di bawah pimpinan Letkol Untung, komandan Tjakra Bhirawa, adalah kelompok kejam, bengis dan tidak manusiawi.

Bahkan, Letkol Untung harus mengakhiri hidupnya di depan regu tembak usai divonis mati dalam persidangan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).

Pada 5 Oktober 1965, saat matahari di atas Kota Jakarta sudah tinggi, ke-7 jenazah pahlawan revolusi itu dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer super lengkap.

Presiden Soekarno menangis di atas makam Jenderal Ahmad Yani, usai dimakamkan

 
Proses pengangkatan jenazah 7 pahlawan revolusi di sumur tua Lubang Buaya, 4 Oktober 1965

Jalan Sunyi : Soe Hok-Gie




Judul Buku        : Soe Hok-Gie, Sekali Lagi
Editor                : Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
Penerbit             : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan             : Kedua, Januari 2010
Tebal                  : xxxix + 512 halaman

Mengenang Soe Hok-Gie, barangkali kita bisa merasa bangga sekaligus miris dalam waktu yang bersamaan. Ia adalah aktivis mahasiswa angkatan 66 yang mempunyai kontribusi penting dalam menjatuhkan rezim Orde Lama (Orla). Bersama sahabat-sahabatnya, Hok-Gie menjadi salah satu aktor intelektual dari demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Tidak hanya melalui demonstrasi, ia pun kerap mengkritik pemerintahan melalui tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai media cetak. Tulisan-tulisannya yang keras dan tajam tersebut seringkali membuat panas telinga para pejabat.

sampul depan 2Namun demikian, berbagai kritik yang dia lancarkan justru menimbulkan kebimbangan yang mendalam dalam hatinya. Simak saja ucapannya kepada Arief Budiman, kakaknya, beberapa waktu sebelum ia meninggal pada Desember 1969. “Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.

Buku Soe Hok-Gie, Sekali Lagi ini mencoba memotret Hok-Gie dari sisi kemanusiaan, terutama mengenai perasaan kecewa dan kesepian akut yang ia alami. Tak heran jika Gie begitu mengidolakan lirik lagu ini, Nobody knows the trouble I’ve seen, nobody knows my sorrow.Sehingga, dengan begitu buku ini melengkapi Catatan Seorang Demonstran (Cetakan 7, 2005) serta biografi Gie karya John Maxwell yang berjudul Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani (2001). 

Bila dua buku tersebut menggambarkan Hok-Gie sebagai seorang political animal, buku ini memakai pendekatan yang berbeda. Seperti diungkapkan Rudy Badil – editor – buku ini ditujukan untuk memberikan pesan kepada anak-anak muda negeri ini mengenai kesetaraan dan kepedulian tentang kemanusiaan dalam alam bangsa Indonesia.


http://media.viva.co.id/thumbs2/2008/12/15/60997_soe_hok_gie_641_452.jpg

Dalam bab 1 dan 2, buku yang diniatkan untuk memperingati 40 tahun kematian Hok-Gie ini membahas mengenai kronologi hari-hari di sekitar tragedi Semeru 1969 yang merenggut nyawa Hok-Gie dan Idhan Lubis. Beberapa penulis yang juga ikut mendaki Semeru 40 tahun yang lalu mencoba menjelaskan pergulatan yang terjadi menjelang dan pasca tragedi itu. Sebelum memutuskan untuk naik ke Semeru, perdebatan terjadi cukup seru di internal Mapala Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS-UI), terutama antara Hok-Gie dan sahabatnya, Herman Lantang. Penyebab utamanya, ada tiga anak luar Mapala FS-UI – Rudy Badil, Idhan Lubis, serta Freedy Lasut – yang akan ikut perjalanan ke Semeru. Padahal kala itu, Mapala FS-UI hanya ditujukan bagi mahasiswa dari UI saja. Setelah melakukan debat, akhirnya, ketiga orang tersebut diperbolehkan ikut. Pada hari Jumat, 12 Desember 1969, rombongan yang terdiri dari 5 mahasiswa Mapala FS-UI dan tiga anak luar Mapala berangkat menuju Semeru.

Tak disangka, pendakian menuju puncak tertinggi di pulau Jawa itu berakhir dengan sebuah tragedi. Hok-Gie dan Idhan Lubis meninggal setelah menghirup gas beracun di tepian lereng menjelang puncak Semeru (halaman 27-28). Kejadian tersebut terjadi tepat sehari menjelang ulang tahun Hok-Gie yang kedua puluh tujuh. Cita-cita sejarawan muda tersebut untuk merayakan ulang tahun di puncak Semeru pun kandas. Enam orang lain yang masih bertahan sungguh merasa shock. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha turun dan mencari bantuan untuk mengevakuasi jenazah Hok-Gie dan Idhan Lubis yang tetap ditinggal di atas. Seminggu kemudian, jenazah berhasil dievakuasi dan kemudian dimakamkan di Jakarta. Hari itu, Indonesia kehilangan salah satu intelektual muda terbaiknya.

Di bab 3 dan 4, sahabat-sahabat Hok-Gie mencoba menuliskan serpihan-serpihan kenangan mereka mengenai sosok yang disebut musuh-musuhnya sebagai ‘Cina kecil”. Salah seorang sahabatnya di senat FS-UI tahun 1967-1969, Luki Sutrisno Beki, menyebut Hok-Gie sebagai seorang moralis absolut. Sederhananya, seorang moralis yang memakai perspektif absolut tidak akan membunuh seseorang meskipun dia tahu bahwa orang itu salah, bahkan ingin membunuhnya. Luki juga menyebut Hok-Gie seorang humanis universal. Itu terlihat dari sikapnya yang mendukung orang-orang yang tertindas. Contohnya, Hok-Gie adalah orang yang mengatakan dengan tegas bahwa dirinya adalah anti komunis. Namun ketika terjadi ketidakadilan terhadap simpatisan PKI pasca peristiwa 1965, Hok-Gie pun tak segan-segan untuk bersimpati kepada PKI dan mengkritik pemerintahan Orde Baru yang memunculkan tanda-tanda akan menjadi penguasa yang otoriter.

Kekecewaan

Meskipun termasuk sebagai salah satu “bidan” kelahiran Orde Baru, Hok-Gie justru menemukan banyak kekecewaan ketika Orba mulai eksis. Selain kekecewaan terhadap Soeharto dan TNI yang mulai bertingkah arogan, Hok-Gie juga kecewa terhadap akademisi-akademisi yang dulu mendukung Soekarno, tapi sekarang berbalik arah dan mendukung Soeharto. Dengan tegas, Hok-Gie menyebut orang-orang ini sebagai pelacur intelektual. Tanpa tedeng aling-aling, dalam tulisan-tulisannya di media, dia menyebut nama Emil Salim, Sadli, Ismail Suny sebagai seorang pelacur intelektual. Benar-benar menyentuh tabula rasa nama orang-orang yang dikritiknya.
 
Seperti diungkapkan Ikrar Nusa Bhakti, kekecewaan yang begitu mendalam terhadap teman-teman aktivis seangkatannya pun ia rasakan ketika mereka berebut masuk ke parlemen dan kemudian berebut untuk mendapatkan kredit mobil Holden (halaman 340). Akumulasi kekecewaan demi kekecewaan ini ditunjukkan dengan mengirimkan sejumlah paket yang berisi alat kecantikan kepada rekan-rekannya yang menjadi angggota parlemen. Tak lupa ia mencantumkan kalimat sindiran, “gunakan ini agar makin tampil cantik di parlemen”. Ini adalah aksi terakhir sebelum pendakian ke Semeru yang merenggut nyawanya. Aksi yang membuatnya tambah terpencil lagi di hadapan teman-teman mahasiswa yang dulu bersama-sama turun ke jalan. Hok-Gie merasa semakin kesepian. Ben Anderson, sahabat  di Cornell University mencoba menghibur. “Gie, seorang intelektual bebas adalah pejuang yang selalu sendirian”, ungkap Ben Anderson dalam suratnya.

Namun, itu pun tidak mampu menghibur Hok-Gie. Dalam keadaan yang penuh kekecewaan dan kesepian inilah Hok-Gie bersama 7 orang sahabatnya mendaki Semeru di akhir tahun 1969. Pendakian ini menjadi bentuk ekspresi untuk sejenak melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapi. Namun, takdir memang tak dapat ditolak, Gie menghembuskan nafas terakhirnya di puncak tertinggi di Pulau Jawa.

Buku ini kemudian di tutup dengan beberapa tulisan Hok-Gie yang pernah dimuat di surat kabar (Bab 5). Salah satu tulisan paling berani yaitu ketika ia menulis artikel dengan judulBetapa Tidak Menariknya Pemerintah Sekarang. Artikel yang berisi kritiknya terhadap Orba dan Soeharto ini membuat Hok-Gie hampir diserempet oleh mobil. Arief Budiman yakin hal itu dikarenakan tulisannya. Hok-Gie memang seorang yang tidak takut mati dibunuh orang. Satu-satunya ketakutannya yang terbesar adalah ia dibuat cacat sehingga menjadi beban bagi orang-orang terdekatnya.

Akhirnya, membaca Hok-Gie adalah membaca potret seorang mahasiswa Indonesia yang selalu gelisah melihat ketidakadilan terjadi di sekelilingnya. Potret mahasiswa yang memilih jalan sunyi dan berseberangan dengan rekan-rekannya. Bahkan untuk jalan sunyi itu, ia harus menahan dalam-dalam rasa kesepian dan kekecewaan. Sampai akhirnya, maut merenggut nyawannya. Ia mati tercekik gas beracun di tempat yang terpencil dan dingin.

soe hok gie sekali lagi

https://dapurkata45.files.wordpress.com/2013/12/soe_copy1.jpg


 Empat puluh tahun yang lalu, Indonesia telah kehilangan salah satu anak bangsa terbaiknya di puncak tertinggi Pulau Jawa. Dia adalah akademisi, aktivis, humanis, dan pecinta alam yang berhasil menggagas perubahan sosial di tahun 1966 bersama kawan-kawan mahasiswanya yang lain.

Dia adalah seorang pemuda yang enggan terkooptasi oleh penguasa dan tidak takut untuk melancarkan kritik, bahkan kepada rekan-rekannya semasa perjuangan meruntuhkan Orde Lama. Dia adalah seorang yang memilih menjadi “pohon oak” yang berdiri tegak melawan angin, ketimbang menjadi “pohon bambu” yang mudah ikut arus. Dia adalah Soe Hok Gie, seorang pemuda yang tetap teguh pada perjuangan melawan ketidakadilan hingga akhir hayatnya.

http://www.fokal.info/fokal/wp-content/uploads/2013/05/RBF-GIE.jpgSikap kritisnya di awal era Orde Baru telah menjadikan dirinya sebagai lawan penguasa pada saat itu. Meski dirinya turut serta meruntuhkan RBF-GIEdominasi Partai Komunis Indonesia (PKI), namun dirinya justru bersuara paling keras atas penangkapan dan pembunuhan kader-kader PKI ataupun mereka yang disangka sebagai kader-kader PKI.

Dia menganggap proses pengadilan terhadap kader dan simpatisan PKI sangat jauh dari adil. Hal inilah yang membuat gerah para penguasa, dan dia sendiri mengalami beberapa ancaman selama melancarkan kritik atas kebijakan Orde Baru dalam memberantas PKI.

Tulisan-tulisannya yang terlihat melawan Orde Baru menyebabkan namanya seakan hilang dari catatan sejarah Indonesia dan baru muncul di tahun 1980-an ketika salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang cukup besar pada saat itu, Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), menerbitkan catatan harian Soe Hok Gie dengan judul Catatan Seorang Demonstran (CSD) yang berisi pandangan dan dokumentasi kegiatan dirinya mulai dari SMP hingga bermetamorfosis menjadi seorang aktivis mahasiswa.

Sayangnya, seperti nasib buku-buku lain yang berada di luar mainstream pemerintahan Orde Baru, CSD pun seakan harus diperoleh dengan susah payah meskipun sudah beberapa kali mengalami cetak ulang hingga pertengahan tahun 1980an.

Usaha yang dirintis oleh LP3ES tidak berhenti sampai disitu, karena ada beberapa penerbit lain yang berupaya untuk mengingatkan lagi memori akan Soe Hok Gie melalui pembukuan hasil tulisannya. Mulai dari kumpulan artikelnya (Zaman Peralihan, oleh Bentang Budaya), skripsi sarjana muda (Di Bawah Lentera Merah), dan skripsi sarjana (Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan).

Ada pula buku karya John Maxwell, yang bukan berisi tentang tulisannya namun membahas dinamika perjalanan semasa Soe Hok Gie masih hidup, khususnya periode ketika dia menjadi aktivis, yang berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Dan ketika saat ini kita memperingati 40 tahun kematian Soe Hok Gie (dan 67 tahun kelahirannya), kita memperoleh referensi baru mengenai sosok Soe Hok Gie. Buku dengan judul Soe Hok-Gie…Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, adalah sebuah karya yang digagas oleh beberapa teman Soe Hok Gie semasa berkuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI). Buku ini berisi opini terhadap Soe Hok Gie dari berbagai pihak yang pernah bersentuhan dengan dirinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ada lima bagian dalam buku ini, masing-masingnya memiliki benang merah yang sedikit berbeda. Bagian kedua diisi dengan tulisan-tulisan dari kawan-kawan Soe Hok Gie, khususnya anggota Mapala FSUI yang turut serta dalam pendakian ke Gunung Semeru hingga dia menemui ajalnya. Bagian ini menceritakan berbagai pengalaman kawan-kawan Soe Hok Gie mulai dari persiapan menuju Gunung Semeru, hingga akhirnya tiba di sana, sekaligus beberapa tulisan penting mengenai kondisi Gunung Semeru itu sendiri dan mengenai Idhan Lubis (yang meninggal bersama Soe Hok Gie di Gunung Semeru) serta Freddy Lasut.

Bagian ketiga diisi dengan tulisan-tulisan dari kawan-kawan Soe Hok Gie yang bukan anggota Mapala UI, namun menjadi rekan sesama aktivis di era 1966. Bagian ini menuliskan bagaimana sesungguhnya kiprah Soe Hok Gie, baik itu di internal FSUI, internal UI, ataupun di gerakan 1966 secara umum.

Bagian keempat berisi opini dari orang-orang yang belum pernah mengenal Soe Hok Gie secara personal, namun telah mengetahuinya dari buku-buku yang telah terbit. Bagian ini menceritakan bagaimana tulisan-tulisan Soe Hok Gie, khususnya CSD, mempengaruhi berbagai macam individu, mulai dari sutradara, aktor, seniman, akademisi, hingga aktivis di tahun 1970an, 1980an dan 1990an. Sedangkan bagian terakhir berisi tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang pernah dibuatnya, dan dipublikasikan di berbagai media massa.

Buku ini memiliki sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan buku-buku “karya” Soe Hok Gie sebelumnya (saya memakai tanda kutip karena Soe Hok Gie sendiri tidak pernah menulis buku). Jika buku-buku sebelumnya selalu berisi mengenai opini Soe Hok Gie pada dunia dan lingkungan sekitarnya, buku ini justru berisi mengenai opini dari dunia dan lingkungan sekitarnya pada Soe Hok Gie.

Perbedaan ini membuat para pembaca akan mampu melihat Soe Hok Gie dari sisi lain. Ide ini merupakan sumbangan pemikiran dari kawan dekat Soe Hok Gie semasa kuliah, A. Dahana (saat ini telah menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Budaya UI), yang berkata: “Sebaiknya kami tulis saja opini tentang Hok-gie, agar ada sisi lain yang baru buat pembacanya. Sebab dengan beredarnya buku catatan hariannya, skripsi sarjana, dan kompilasi artikel Soe, nama Hok-gie sudah terkenal. Bahkan tulisannya dan kisahnya, konon menjadi sumber inspirasi dan gerakan di zaman 1980-an, sampai tahun reformasi 1998-an.” (hlm. Xxxiii).

Hal itu pula yang membedakan buku ini dengan karya John Maxwell. Ketika John Maxwell menulis Soe Hok Gie sebagai seorang tokoh historis, dan dianalisa secara akademis, maka buku ini menceritakan sosok Soe Hok Gie sebagai seorang kawan, seorang guru dan dianalisa dengan lebih membumi karena didasarkan pada pengalaman pribadi.

Misalnya, A. Dahana menulis bahwa Soe Hok Gie adalah orang yang mengajarkan dirinya untuk menghadapi bacaan-bacaan yang bersifat propaganda (hlm. 235). Atau seperti yang dituliskan oleh Luki Sutrisno Bekti, bahwa Soe Hok Gie adalah sosok yang sering membantu kawan-kawannya, entah itu sekedar masalah percintaan, hingga tugas-tugas kuliah (hlm. 175-176).

Selain menyajikan sisi lain Soe Hok Gie, buku ini menyajikan foto-foto Soe Hok Gie yang tidak pernah ada di buku-buku sebelumnya. Sehingga para pembaca dapat memperoleh deskripsi atas Soe Hok Gie dengan lebih jelas dan otentik, ketimbang bersandar pada citraan yang telah dikonstruksikan dalam film GIE oleh aktor Nicholas Saputra (apalagi buku Catatan Seorang Demonstran pernah dicetak ulang dengan menggunakan poster film GIE sebagai sampulnya).

Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadikan buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi layak untuk dibaca dan melengkapi perbendaharaan referensi atas sosok Soe Hok Gie. Disamping itu, buku ini juga dapat mengubah stigma publik terhadap sosok Soe Hok Gie yang telah dikultuskan sebagai aktivis, sehingga terkesan sangat jauh dan tidak terjangkau oleh pembaca. Padahal sesungguhnya sosok Soe Hok Gie tak berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya, meski dirinya terkenal kritis dan tanpa tedeng aling-aling.

Contoh sosok Soe Hok Gie yang jauh dari stigma orang dapat dilihat dari cerita Rudy Badil yang menulis bahwa Soe Hok Gie pernah berkata: “Elo pipis di kantong plastik aja asal jangan keliatan Tides. Entar dia iri dan ikut-ikutan kencing dalam gerbong.” (hlm.5), bahkan menurut Rudy Badil lagi, Soe Hok Gie pun senang bergosip (hlm. 7).

Tetapi penyajian sisi lain inilah yang membuat saya tidak menyarankan buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi dibaca sebagai perkenalan menuju dunia Soe Hok Gie, khususnya bagi para pembaca yang belum pernah mengonsumsi Catatan Seorang Demonstran, atau buku-buku Soe Hok Gie lainnya. Karena, menurut pendapat saya, buku ini lebih bersifat komplementer terhadap buku-buku Soe Hok Gie yang telah terbit sebelumnya.

Buku Catatan Seorang Demonstran masih merupakan karya yang paling baik untuk mengenal sosok Soe Hok Gie. Film GIE pun sudah cukup memberikan gambaran umum bagaimana dinamika kehidupan Soe Hok Gie semasa kecil hingga menjadi aktivis mahasiswa, meski banyak kekurangan disana-sini.

Meski demikian, buku ini wajib dibaca dan dimiliki para pembaca yang mengidolakan Soe Hok Gie, ataupun bagi mereka yang ingin mengenal sosok Soe Hok Gie. Tentunya dengan harapan agar Indonesia melahirkan lebih banyak lagi pemuda yang memiliki integritas dan kegigihan seperti Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie (Harusnya) Berkali-kali

Soe Hok Gie (Harusnya) Berkali-kali

 tulisan Soe yang Dibukukan

“saya katakan bahwa kita bisa hancur karena tekanan tekanan hidup, tetapi kita tidak akan pernah terkalahkan.” (Soe Hok Gie: Dikutip dari ‘Catatan Seorang Demonstran’ Hal 426) Sebatang pohon oak, nicaya dapat bertahan ketika dihatam oleh topan maha dahsyat sekalipun, namun serumpun bambu akan oleng dan hilang keseimbangan meski hanya diterpa angin semilir. Soe Hok Gie, ikon gerakan Mahasiswa angkatan 66, telah menisbikan dirinya menjadi pohon oak itu. Kendati kesendirian, ancaman dan pengkhianatan dialamatkan padanya, ia tetap kukuh bertahan di atas rel perjuangan yang diyakininya benar. 

Masa masa sulit ditempuhnya penuh ketabahan hingga ia tutup usia di puncak gunung semeru setelah menghisap gas beracun. Sosoknya kemudian melenggenda, terutama dikalangan pemuda yang rindu akan munculnya ‘pemimpin ideal’ di tengah krisis keteladanan saat ini. Ternyata Dokter Curhat “Saya dilahirkan pada 17 Desember 1942 ketika perang sedang berkecamuk di Fasifik”, demikian ungkap Hok Gie dibagian awal buku hariannya. Sosok yang akrab dipanggil Cina kecil ini, adalah putra dari Soe Lie Piet, novelis sekaligus Wartawan Sunday Courrier dan Nio Hoei An, seorang ibu rumah tangga sederhana namun penuh dedikasi dalam membesarkan kelima anaknya (Dien, Mona, Arif, Gie dan Siane).

Semula Hok Gie kecil bersekolah Sin Hwa, sekolah Tionghoa berbahasa Inggris, kemudian pindah ke Sekolah Rakyat (SD saat ini) yang berlokasi di Gang Komandan, kini terletak dibelakang Pengadilan Negri Jakarta Pusat. Menginjak SMP, ia bersama kakaknya Arif Budiman mendaftar ke Kanisius, namun hanya Arif yang diterima sementara Hok Gie tidak. Iapun memilih SMP Strada. Pergaulannya mulai luas karena ia dapat berbaur dengan dengan kawan-kawan yang datang dari beragam strata sosial dan ekomomi. Baru saat SMA ia kembali satu almamater dengan kakaknya di Kanisius. Begitupun ketika memasuki masa perkuliahan. Mereka berdua diterima di Universitas Indonesia. Bedanya Hok Gie masuk fakultas sastra jurusan sejarah sedang Arif memilih fakultas Psikologi. Berbeda dengan kebanyakan remaja baik pada zamannya ataupun masa kini, Soe Hok Gie telah ‘melek sosial’ sejak dini. Buku buku bermutu karya Mochtar lubis, George Orwell, Shakespeare dan lain lain telah memengaruhinya untuk menjadi pribadi humanis, jujur, berani mengabil risiko. Hal ini tercermin pada catatan hariannya. Saat diperlakukan tak adil oleh seorang Guru sewaktu SMP, Hok Gie menulis, 

“Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumi ku 8 tapi dikurangi 3 jadi 5. Aku iri dikelas karena merupakan orang ketiga terpandai dari ulangan tersebut. Aku percaya bahwa setidak-tidaknya aku yang terpandai dalam ilmu bumi dari seluruh kelas. Dendam yang disimpan, turun hati, lalu mengeras bagai batu. Kertasnya aku buang. Biar aku di hukum. Aku tak pernah jatuh dalam ulangan.” Atau ketika mengggugat kemapanan. Setelah memberikan uang pada seorang pemakan kulit mangga, ia menulis,“Aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah makan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di Ibu Kota. Dan kuberikan Rp 2.50 uangku. Uangku hanya 2.50 waktu itu. 

Ya dua kilo meter dari pemakan kulit, paduka kita mungkin lagi tertawa-tawa, maka-makan dengan istri-istrinya yang cantik…… aku bersama mu orang-orang malang” Aktifitas di Kampus Lulus dari Kanisius, Soe Hok Gie memasuki lingkungan kampus dengan semangat full. Ia bukan hanya dikenal sebagai kutu buku yang rajin menderas bacaan bacaan berat namun juga aktif berdiskusi, berorganisasi dan naik gunung, salah satu hobi yang paling digemarinya. Aktifitasnya tak lepas dari kegiatan kegiatan sosial. Orang yang belum pernah berjumpa atau membaca kisah hidupnya akan menganggap kalau Hok Gie yang terkenal karena tulisan-tulisan tajamnya itu, adalah sosok adalah sosok berbadan tegap dengan dengan tampilan muka garang. Namun tak demikian kenyataanya. Secara fisik ia berbadan kurus (lebih tepat kerenpeng) dan cara memunyai cara berjalan yang unik seperti dapat kita lihat dalam film GIE hingga dapat membuat kita tersenyum kecil. Secara sosial Di mata kawan kawan kuliahnya ia adalah pribadi menyenangkan, terbuka dan selalu siap membantu siapapun yang sedang mengalami masalah. Hal tersebut disampaikan oleh Kartini Sjahrir. Dalam suratnya pada Hok Gie, Ker (panggilan akrab Kartini Sjahrir) menulis, “saya ketemu kamu yang begitu lucu, imut imut, berantakan kalau berpakaian, suka naik gunung, suka diskusi, senang folk songs :Joan Baez, Nana Mouskori, suka membaca, suka organisasi-hal hal yang bagi saya terasa baru,aneh, ajaib tapi juga menyenangkan

.” Lain lagi dengan yang disampaikan Oleh Luki Bekti kawan satu kampus Gie. Ia berkata, “Di kampus Hok Gie bak Dokter yang buka praktek. Teman-teman harus membuat janji dulu jika ingin berbicara serius dengannya. Menurut saya hal itu terjadi karena Hok Gie adalah orang yang pandai mendengarkan dan menanggapi keluh kesah teman temannya. Menurut istilah sekarang, Hok Gie adalah teman curhat yang baik. Baik teman perempuan maupun pria, tak sungkan bercurhat dengannya.” Masih menurut Bekti, kesetiaan Hok Gie pada teman-teman ditunjukan dengan memberi perhatian tulus. Hok Gie pernah mengajak dirinya untuk menengok seorang teman perempuan yang mengalami stress berat di unit perawatan kejiwaan. Ia menengoknya bukan cuma sekali tapi beberapa kali dengan tak bosan memberi dukungan moral baginya. (Donna Donna Karya Joan Baez, salah satu lagu favorit Gie) Dari Pengkhianatan Hingga Semeru Masih di lingkungan kampus, Soe Hok Gie dikenal pula sebagai aktifis makasiswa yang kritis serta memiliki pandangan pandangan ideal untuk bangsannya. Kendati berasal dari keluarga minoritas Tionghoa, namun ia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kepentingan lebih besar, bangsanya tanpa memandang agama, suku dan warna kulit. Ilustasi Demontrasi mahasiswa Indonesia sekitar tahun 60-an, yang digalang Gie dan kawan-kawannya-Film Gie Seperti disampaikan oleh Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Utama, 
Soe Hok Gie menyikapi tiap persoalan secara ‘hitam putih’. Karena itu analisisnya menjadi tajam dan menusuk. Pada masa demokorasi terpimpin sebagai contoh, ia merasa gusar saat melihat bung Karno melenceng dari cita cita revolusi semula. Menurutnya pemerintahan sang proklamator bukan hanya tak bekerja dengan efisien tetapi juga termahsyur karena praktik korupsi dan dekadensi moral. Sementara rakyat sendiri hidup dalam kemelaratan, mengantri minyak dan kekurangan pangan. Hok Gie menulis, “kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara natural mereka akan bergerak sendiri. dan kalau ini terjadi, maka akan terjadi chaos. 

Lebih baik mahasiswa yang bergerak, maka lahirlah sang demontsran.” Sebagai seorang intelektual yang merasa terpanggil untuk melakukan perubahan, Soe Hok Gie memainkan dua peran ganda yakni sebagai man on the street sekaligus Man On the paper. Sebagai man on the street ia menjadi seorang demonstran yang aktif, hari harinya diisi dengan demo. Rapat penting disana sini dan membangun jaringan. Tahun 1966 ketika mahasiswa turun kejalan dengan mengusung isu Tritura, ia berada dibarisan paling depan. Konon ia pulalah yang menjadi salah satu tokoh kunci terjadinya alisansi anatara Mahaiswa dan ABRI 1966. Sedang sebagai man on the paper, ia menjadi seorang penulis yang goresan penanya amat tajam. Tulisan tulisan Hok Gie selalu blak blakan, telanjang, berani, jujur namun tidak membabi buta, karena berdasarkan pada daya analisis mendalam dan disertai oleh sentuhan kemanusiaan. Dalam artikel berjudul ‘Orang orang Indonesia Di Amerika’ sebagai contoh, ia menulis dengan sangat gamblang kebiasaan pembesar pembesar kita yang doyan ‘menunggang kuda putih’, dengan kata lain ‘tidur’ bersama perempuan bule saat melakukan dinas kenegaraan ke luar negri. Atau waktu menyinggung proyek Monumen Nasional ia berujar, “Jauh lebih mudah membuat sebuah monumen dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1000 kilometer jalan raya.”

Pembunuhan Besar-Besaran di Bali : Soe Hok Gie

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQ-usbQhbasYn2mUbCoo8OhPvd1Yu_zxYwe2i14RiGn8zkJVx6aKsHnApZbUK1Q6XboQvgJzp4cMM9wrhIwP2wA8CLeDXGVOkIG24-C_lWy7fOXKKWFUW0eCBtYuBp4GKMVJhSWzxTYz4/s320/mayat+gie.jpg

Soe Hok Gie Tentang Pembunuhan Besar-Besaran di Bali

Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali
(Membaca Tulisan Soe Hok Gie)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyH0cE8vNsV2YWAbwbetM0TNxNiJ3_Vi9ZQCaQKU6WmrJV38jxhZ9ouzWFGnFCek0gUYkgiRZunFHnoRdEXnKq7ikY_LKhpo5Om_3jpGgZAgYPHl4UYP97U_CUa-csQSm4xQh2xrCaN30/s1600/yang-bertanah-air-tak-bertanah.jpg
Soe Hok Gie mengawali tulisannya ini dengan sangat berhati-hati, karena pada saat itu setiap orang dapat saja dituduh dan kemudian diciduk karena disebut “Gestapu” atau “PKI”.
“Dengan mengemukakan hal berikut ini,penulis sama sekali bukan berarti membela daripada Gestapu/PKI atau pun dapat membenarkan cara-cara mereka dalam menghabisi lawan-lawannya. Dari sudut moral pelakuan mereka yang demikian kejam dan biadab terhadap lawan-lawannya haruslah kita lawan dan kita kutuk, tetapi tidak sekaku dan sebiadab mereka pula.”[1]

Ada sebuah situasi yang sebenarnya aneh jika gerakan pengganyangan PKI adalah bentuk pergerakan politik semata. Sebab Pulau Bali dari sudut strategis kepentingan politik, militer, dan ekonomi bukanlah merupakan kekuatan yang menentukan kalah menangnya perebutan kekuasaan di Indonesia. Akan tetapi di akhir tahun 1965
dan disekitar permulaan tahun 1966, di pulau yang indah ini telah terjadi suatu malapetaka mengerikan. Penyembelihan besar-besaran yang mungkin tiada taranya dalam zaman modern ini, baik dari waktu yang begitu singkat, maupun dari jumlah mereka yang disembelih.[2]

Peperangan? Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang demikian. Di Bali sama sekali tidak ada perlawanan yang berarti. Mereka yang merasa dirinya PKI atau yang oleh lingkungannya dituduh demikian, dengan sukarela menyerahkan dirinya. Dan ketika pembunuhan-pembunuhan itu dilangsungkan, tidak jarang dan malah banyak sekali dari mereka yang menjadi tawanan minta untuk dibunuh. Mereka yang ingin dibunuh berbuat demikian karena takut menghadapi siksaan atau cara-cara pembunuhan yang tidak masuk akal di kalangan manusia waras atau manusia yang menyebut dirinya ber-Tuhan.[3]

Soe Hok Gie menekankan pada pemimpin-pemimpin yang dahulu paling Nasakom, kemudian berubah menjadi pembenci-pembenci PKI paling gigih dan paling demonstratif. Pasukan-pasukan partikelir mulai berkeliaran yang terkenal dengan seragam hitamnya, dengan persenjataan-persenjataan. Pembakaran-pembakaran rumah mereka yang dituduh PKI dianjurkan sebagai Warming Up untuk tujuan-tujuan berikutnya yang lebih bengis. Dan akhirnya pembunuhan itu sendiri berlangsung dimana-mana.[4]

Akibat-akibat pembunuhan yang demikian tentulah luar biasa dan tidak akan dirasakan oleh generasi sekarang saja. Tetapi yang paling menarik perhatian ialah, berhasilkan PKI di Bali dilikuidasi dengan cara yang demikian? Efektifkah tindakan-tindakan itu? Rasa-rasanya tidak dan pasti tidak, melihat siapa-siapa mereka yang lolos dari kapak berantai itu. Kompyang, Sutedja serta yang menjadi anggota dewan revolusi Bali masih berkeliaran dengan bebasnya.[5]

Pembunuhan sama sekali tidak “kena” karena korbannya kebanyakan rakyat yang tertipu oleh janji-janji PKI atau hukumannya tidak setimpal dengan apa yang pernah mereka lakukan. Motif iri hati dan balas dendam menonjol sangat kuat. Anak Agung, misalnya. Kepala Jawatan Penerangan Bali ini diculik dan dihabisi padahal biang keladinya ialah wakilnya yang ingin menduduki tempatnya.[6] Lie Lie Tjien seorang pengusaha kaya raya di Bali Utara yang terang-terangan menjadi kasir PKI di Bali justru selamat. Dia dapat merangkul Widjana yang menjadi tokoh di daerah. Sedangkan saingan-saingan Lie Lie Tjien di dalam dunia usaha, misalnya Tjan Wie menjadi korban. Kopi milik Tjan Wie yang jumlahnya ratusan ton berserakan memenuhi jalanan Singaraja.[7]
Pembunuhan yang terjadi di Bali bukanlah sportarifett tetapi peristiwa yang dibiarkan berlarut-larut. [8]Andaikan pemerintah atau pejabat pada waktu itu dengan jiwa yang murni dan dengan kesungguhan hati menyetopnya, hal yang demikian tidak akan terjadi. Pejabat-pejabat sama sekali tidak berbuat apa-apa dan pada beberapa tempat malah menganjurkan pembunuhan-pembunuhan ini.


Sumber:

[1] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 191.
[2] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 191.
[3] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 192.
[4] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 196.
[5] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 197.
[6] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 198.
[7] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 198.
[8] Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan, hlm 198.

Dalam Buku :
http://d.gr-assets.com/books/1248589093l/1772836.jpg
Soe Hok Gie, Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali. Zaman Peralihan

Soe Hok-gie Dimata Saya



“Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow”
-Tulisan di nisan Soe Hok-Gie-
 http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/631275/big/hok-gie-140129c.jpg


OPAD organisasi pencinta alam depok
Mengenang peristiwa kejatuhan Sukarno yang bermula pada peristiwa 1 Oktober (penculikan dan pembunuhan 7 jendral AD) hingga sidang istimewa MPRS tahun 1967 yang menolak pidato pelengkap Nawaksara (Pidato pembelaan Sukarno), khsusnya peran mahasiswa di dalamnya, tentu kita tidak bisa melepaskan satu nama yang menjadi aktor penggeraknya, Soe Hok-gie. Gie, sebagai mahasiswa Fakultas Sastra yang bermarkas di kampus Rawamangun, menyadari betul pegolakan politik yang terjadi kala itu. Pada akhirnya, ketika situasi memang betul-betul memanggilnya untuk bergerak, maka Gie pun akhirnya bergerak, meskipun dia mengakui bahwa politik adalah 'lumpur yang kotor'.


Gie, yang memang sudah sadar akan politik kala masih remaja, semakin sadar bahwa generasinya adalah generasi penerus bangsa yang telah semakin bobrok oleh demokrasi terpimpinnya Sukarno. Kala memasuki jenjang kuliah, hasrat untuk mengubah tatanan kehidupan berbangsa semakin besar dan akhirnya menemukan momentum dengan peristiwa 1 Oktober. Meskipun, sebagai mahasiswa jurusan sejarah tidak jelas pula pendirian Gie tentang peristiwa itu, apalagi ia mendapati bahwa ada dua penjelasan bersebrangan tentang percobaan kudeta ini, yaitu dari Nugroho Notosusanto sebagai pembimbingnya dan Benedict Anderson, rekan yang telah cukup lama dikenalnya.

Namun satu hal yang Gie yakini tentang peristiwa ini adalah pertanggung jawaban Sukarno sebagai presiden dengan politik Nasakomnya. Memang, sebelumnya, sasaran dari gerakan mahasiswa kala itu bukanlah pada pribadi Sukarno langsung melainkan para pembantu dan orang di sekelilingnya seperti Aidit dan Subandrio. Namun seiring berbagai fakta yang bermunculan, seperti ke-keraskepala-an Sukarno yang tidak juga membubarkan PKI dan harga barang yang tak kunjung turun, membuat sasaran kemarahan mahasiswa tertuju pada sosok itu. Juga fakta kotor yang terjadi di dalam Istana negara (Gie sedikitnya 3 kali bertemu Sukarno di Istana Negara) semakin membuat Gie sadar bahwa rezim Sukarno harus segera diakhiri.

Mahasiswa akhirnya membentuk KAMI (kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai front perjuangan seluruh mahasiswa melawan rezim Sukarno dengan membawa tuntutan yang dikenal dengan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yaitu: Bubarkan PKI, bersihkan kabinet dari unsur PKI, dan turunkan harga. Latar belakang KAMI dan Tritura sendiri tidak lepas dari campur tangan Gie sebagai mahasiwa idealis yang telah dikenal banyak mahasiswa lainnya karena memang dekat secara personal maupun dari berbagai tulisan Gie di media massa. Walaupun demikian, sosok Gie tidaklah menjabat secara struktural dalam organisasi KAMI ini, baik itu KAMI Pusat, KAMI Jaya, maupun KAMI UI. Karena memang dalam perjalanan hidupnya, gie tidak pernah suka masuk organisasi massa yang besar, apalagi masuk organisasi ekstra kampus seperti HMI atau GMNI. Bagi Gie, independensi adalah hal yang amat berharga, maka itu dia lebih suka bekerja dengan kelompok kecil yang memiliki kedekatan secara emosional dan kultural.

Aliansi mahasiswa dengan tentara menemukan momentum pada 11 Maret dengan dikeluarkannya surat perintah (Supersemar) dari Sukarno ke Suharto. Berbekal surat perintah ini, Suharto membubarkan PKI. Kekuasaan Sukarno semakin di ujung tanduk dan semakin dieliminir oleh intrik politik tingkat tinggi dan gerakan mahasiswa di jalan-jalan Ibukota yang semakin intens semenjak bulan Januari 1966. Sukarno akhirnya tumbang meskipun tidak melalui Mahmilub (makhamah militier luar biasa), dan akhirnya naiklah Suharto sebagai pengemban Supersemar ke kursi kepresidenan.

Pasca orde lama, banyak yang meyakini eksistensi KAMI (terutama para pimpinan strukturalnya) harus tetap diperjuangkan. Perjuangan di sini diyakini para pimpinan KAMI sebagai perjuangan yang harus pindah dunia, dari dunia jalanan ke dunia politik sesungguhnya (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif). Hal ini terrealisasi dengan naiknya beberapa pimpinan KAMI menjadi anggota perwakilan mahasiswa di DPR-GR (diantaranya Cosmas Batubara, pimpinan KAMI pusat). Gie, yang meyakini bahwa gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik kala itu hanyalah gerakan sementara, sebagai efek dari konstelasi perpolitikan nasional, tentunya sangat menentang keputusan teman-temannya tersebut. Gie beralasan bahwa gerakan mahasiswa harus dihentikan dan kembali ke bangku kuliah, urusan politik kemudian diserahkan pada para politikus senior.

Idealisme Gie nyatanya tidak luntur dengan jatuhnya rezim Orla ke rezim Orba. Setelah mengkritik rekan-rekannya yang menjadi pejabat di DPR-GR (dan pernah memberi  hadiah gincu dan kaca untuk mereka), Gie amat concern dengan pembantaian yang dilakukan tentara atas nama pembersihan unsur PKI. Gie menyebut ada sekitar 300.000 orang yang dibantai dalam kurun waktu 1965-1967, yang artinya akan menurunkan sekitar satu juta manusia -merupakan keluarga korban pembantaian- yang menaruh dendam pada tentara. Selain itu, Gie juga melihat kecenderungan bahwa pola Orla terulang kembali di masa Orba seperti korupsi dilingkaran Istana dan unsur Totaliterisme dengan pembredelan pers.

Di tengah ke-idealisme-annya, yang dia sendiri berkata akan menjadi seorang idealis sejauh mugkin, nyatanya Gie juga manusia biasa yang memiliki berbagai rasa di hatinya. Hubungannya dengan tiga orang wanita yang selalu kandas dengan alasan yang hampir sama (karena orang tua wanita tidak setuju) ternyata membuat Gie menjadi murung. Selain itu, jarak yang dia rasakan diantara temannya serasa smakin jauh. Gie menjelang akhir hidupnya adalah seorang lelaki penyendiri dengan persoalan yang coba ia hadapi sendiri, meskipun sebetulnya dia masih memiliki teman dekat seperti Herman Lantang.

Persoalan-persoalan yang dihadapi Gie nampaknya menjadikan alasan dia untuk senang menyendiri memaknai arti kehidupan sesungguhnya. Gie memang seorang yang cinta dengan alam, seorang yang suka menaklukan gunung-gunung tinggi, bahkan dia adalah salah satu pendiri Mapala (organisasi pencinta alam yang tentu saja terbebas dari ideologi politik apapun). Namun, bagi saya, kesukaan ini bukanlah sekadar kesukaan yang tanpa alasan, mungkin saja dengan berbagai masalah yang dia hadapi, dia merasa nyaman dan damai ketika dekat dengan alam dan 'menyatu' dengannya. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang terlihat (agak) pengecut, bukankah seorang lelaki sejati adalah lelaki yang berani menghadapi persoalan, bukan malah lari menyendiri ke atas gunung?

Terlepas dari semua itu, Gie adalah sosok yang patut dijadikan panutan para pemuda, khusunya mahasiswa zaman sekarang. Sebuah contoh yang patut dijadikan pedoman bagaimanakah seharusnya pemuda mengambil peran dan menempatkan diri di dunia, khususnya di Indonesia seperti sekarang dimana berbagai persoalan bangsa telah semakin sulit untuk dimengerti,  apalagi dipecahkan.

soe hok gie dan soe hok djin (arief budiman)

soe hok gie dan soe hok djin (arief budiman) 

Organisasi Pencinta Alam Depok

Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.


Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.

http://img.hipwee.com/cdn/wp-content/uploads/2014/06/gie-pelem1.jpg?30676a 
Sosok : Soe Hok Gie ( dalam Film GIE : 2008) 

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.

Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.
http://img.hipwee.com/cdn/wp-content/uploads/2014/06/1969-SalakDua-2-a.jpg?30676a

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, “untuk siapa peti mati ini?” Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.

Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang?

Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

sumber:

Arief Budiman (Soe Hok Djin)
(seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993)