Tampilkan postingan dengan label pulau. Tampilkan semua postingan

Pulau Derawan tak diragukan Keindahannya


http://www.indonesia.travel/assets/img/media/images/upload/poi/xSudut,P20Pulau,P20Derawan,P20by,P20Thaliq,P20Anshari.jpg.pagespeed.ic.hpsxDXE-ZQ.jpg 
sumber: indonesia.travel
Wisata bahari utama yang ada di Kabupaten Berau adalah wisata bahari kepulauan Derawan. Kepualuan Derawan adalah kepulauan yang terletak di sebelah timur pulau Kalimantan termasuk dalam Kabupaten Berau.
Derawan ini merupakan kepulauan yang berada paling Timur dari Pulau Kalimantan. Kepulauan Derawan terdiri atas 6 pulau, antara lain Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Pulau Meratus, Pulau Sangalaki, Pulau Panjang dan Pulau Semama.
Kepulauan Derawan ini diberi nama Obyek Wisata Bahari Kawasan taman Laut Derawan. Kepulauan Derawan merupakan bagian dari Ekoregion Laut Sulu-Sulawesi yang melintasi Indonesia, Malaysia dan Filipina. Ekoregion ini terletak dipusat Kawasan Segitiga Karang Dunia dengan keanekaragaman hayati karang tertinggi didunia.
Segitiga Terumbu Karang ini disebut juga “The Coral Triangle” karena menjadi episenter kehidupan laut yang memiliki keragaman jenis biota laut. Terumbu karang dikawasan ini mencakup 53 % terumbu karang dunia.

Bahkan berdasarkan penilitian yang dikembangkan, Kepulauan Derawan merupakan salah satu Multi Countries Fedding Ground terpenting didunia Pulau Derawan ini memiliki panorama laut yang indah dengan pasir pantai yang putih, rindangnya pohon-pohon kelapa dan kehidupan penduduk desa setempat.
Pulau ini terkenal dengan wisata baharinya khususnya penyelaman dan aktivitas snorklingnya. Perairan sekitar Pulau Derawan  kaya akan keanekaragaman ikan dan biota laut. Penyu hijau juga banyak ditemukan di pulau derwan. Penyu-penyu hijau tersebut sangat jinak dan seringkali menampakan dirinya pada manusia.  Menunggu penyu-penyu hijau tersebut muncul cukup mengasyikan.

Seringkali penyu-penyu  tersebut menuju pantai untuk bertelur.  Menyaksikan  secara  langusng  penyu bertelur merupakan sebuah hal yang langka.

Pulau Padar NTT

http://www.pulaubunga.com/wp-content/uploads/2015/08/Pulau-padar-labuan-bajo.jpg


Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. 

Mungkin keberadaan Pulau Padar tidak se-terkenal Pulau Komodo ataupun Pulau Rinca, namun keindahan Pulau Padar tidak kalah cantiknya dengan kedua pulau tersebut. 

Letak Pulau Padar cenderung lebih dekat dengan Pulau Rinca dibandingkan dengan jarak ke Pulau Komodo dan dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena berada dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Gili Motang. Meskipun berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, namun Pulau Padar tidak dihuni oleh komodo dikarenakan rantai makanan yang terputus.

Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil yang memiliki keunikan panorama masing-masing. Dan di Pulau Padar juga terdapat hamparan pink beach yang sangat cocok digunakan untuk sekedar berenang, bermain air ataupun ber-snorkeling ria. Pengunjung juga dapat menaiki bukit yang berada di Pulau Padar untuk menikmati keindahan panorama dari atas. Biru laut dan jajaran pulau di sekitarnya akan menghipnotis pengunjung. Meskipun trekking menuju bukit tertinggi akan terasa sangat melelahkan, namun pengunjung akan disuguhkan panorama perbukitan dan pemandangan yang sangat cantik dan mengabadikan momen akan menjadi kegiatan yang tak ada bosannya selama perjalanan trekking.

Jika Anda berencana untuk mengunjungi Taman Nasional Komodo, cobalah singgah sejenak di pulau ini, ketenangan dan keelokannya akan membuat Anda betah berlama-lama di pulau ini.

Pulau kakara

http://pbs.twimg.com/media/A-ZUxQmCQAA4t2b.jpg:large


Pulau Kakara merupakan salah satu primadona di Kepulauan Tobelo, Maluku Utara. Pulau ini memiliki keindahan yang tidak kalah indah dengan pulau lainnya yang berada di Provinsi Maluku Utara. Pantai di pulau ini berpasir putih, dengan air lautnya yang sangat jernih, serta kawasan pantainya ditumbuhi pepohonan yang rimbun membuat Kakara menjadi tujuan favorit. Pada akhir pekan Kakara sangatlah ramai dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Pulau ini merupakan asal mula budaya Hibualamo. Bagi Anda yang menyukai wisata sejarah berkunjunglah ke pulau ini untuk melihat konstruksi awal rumah adat Hibualamo yang menjadi simbol persatuan masyarakat Halmahera Utara. Penduduk di pulau ini juga dikenal sebagai penari cakalele yang handal.

Bagi Anda yang menyukai snorkeling dan diving, jangan sampai tidak mengunjungi pulau ini. Di perairan sekitar tanjung sebelah timur pulau ini merupakan titik yang direkomendasikan untuk snorkeling. Keindahan bawah laut Kakara sangat mempesona yang akan membuat Anda betah disini. Anda dapat melihat karang karang cantik yang muncul ke permukaan pada saat airnya surut. Pulau ini juga memiliki keunikan tersendiri yaitu Anda dapat menemukan bintang laut dalam jumlah yang banyak pada saat musim tertentu.

Pulau ini adalah salah satu dari gugusuan pulau pulau yang berada di depan Kota Tobelo, yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan ketinting dari pelabuhan Dufa-dufa. Jika Anda ingin mengunjungi pulau disekitarnya, Anda dapat menyewa perahu ketinting dengan kapasitas 6 orang, tarif harga Rp.150.000

Pulau Samber Gelap Kal-Sel

http://images.detik.com/content/2013/07/23/1026/img_20130723090616_51ede5182200d.jpg

Pulau Samber Gelap memiliki pemandangan yang sangat luar biasa indah. Pasir Pantainya yang putih dan lembut, serta air laut yang jernih ditambah langit-langit yang sangat biru membuat kita dapat melupakan sejenak kepenatan dunia.

Lokasi dan Akses

Pulau Samber Gelap berada di Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Akses untuk ke pulau ini memerlukan waktu yang lumayan lama. Dari Batulicin menggunakan kapal ferry, untuk penyeberangan Batulicin – Tanjung Serdang hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit, dari Tanjung Serdang menuju pelabuhan panjang kotabaru kami menggunakan motor dengan jarak tempuh +/- 40 km. Dari pelabuhan panjang kotabaru menuju Pulau Samber Gelap menggunakan speed boat dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam dengan gelombang yg cukup ekstrim.

Fasilitas dan Akomodasi

Pulau Samber Gelap memiliki fasilitas rumah untuk pengunjung yang ingin menginap ataupun bermalam ditempat ini. Disini juga terdapat mercusuar yang bisa digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan dari atas. Selain memiliki pesona alam yang luar biasa, pulau Sambar Gelap juga digunakan sebagai tempat penangkaran tukik.

Aktifitas Wisata

Karena ditempat ini memiliki tempat penangkaran penyu, jadi pengunjung yang berkunjung ke tempat ini bisa melihat aktifitas penyu bertelur ketika malam hari. Selain itu, pengunjung pun dapat melakukan aktifitas snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut Pulau Sembur Gelap. Namun pengunjung yang ingin melakukan snorkeling harus membawa peralatan sendiri.

Harga Tiket Masuk

Tidak ada biaya masuk ke kawasan ini. Biaya yang dikeluarkan hanya biaya perjalanan menuju tempat ini yang akan dirincikan seperti berikut:
Tiket penyebrangan Ferry Batulicin – Tanjung Serdang Rp. 50.000,- / motor PP
Sewa Speedboat dari Pelabuhan Panjang Kotabaru – Samber Gelap Rp. 1.500.000 / hari

Tips

Sebaiknya berkunjung bersama-sama teman yang lain, agar biaya penyewaan kapal jadi lebih ringan.
Bulan yang disarankan untuk mengunjungi tempat ini adalah bulan April, Mei, Oktober dan Desember.

(A) Sejarah Pulau Dewata BALI

http://www.diveindonesia.net/wp-content/uploads/2014/01/balii.jpg 
 
Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.

ASAL USUL SEJARAH PULAU BALI

MASA PRASEJARAH

Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.

Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba, Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :

Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT SEDERHANA

Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di Sambiran (Buleleng bagian timur), serta di tepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya. Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di Museum Gedong Arca di Bedulu, Gianyar.

Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya. Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya (nomaden). Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi. Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.

Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di Pacitan (Jawa Timur) dapatlah kiranya dijadikan pedoman. Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia. Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.

MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT LANJUT

Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang. Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung). Gua ini terletak di pegunungan gamping di Semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah Gua Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana. Dalam penggalian Gua Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang. Di antara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.

Alat-alat semacam ini ditemukan pula di sejumlah gua Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur. Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding gua, yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya. Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga di antaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di Pulau Seram dan Papua, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.

MASA BERCOCOK TANAM

Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya. Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing). Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.

Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon. Dari teori Kern dan teori Von Heine-Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik. Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita. Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini. Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa. Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.

MASA PERUNDAGIAN

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASUKNYA AGAMA HINDU

Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan). Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting di antaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Banten), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa). Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongoloid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.

Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu. Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras. Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana). Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian di antaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap. Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyar (Banten), Sabbang (Sulawesi Selatan), Selayar, Rote dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.

Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan. di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di Trunyan. Di pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter. Temuan lainnya ialah di Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan. Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali. Di antaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.

Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di Gelgel (Klungkung).Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung. Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.

MASA 1343-1846

KEDATANGAN EKSPEDISI GAJAH MADA

Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh Kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan Kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah, terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. Dari sinilah berawal wangsa Kepakisan.

PERIODE GELGEL

Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel (dibaca /gɛl'gɛl/). Pada saat inilah dimulai Periode Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460—1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga ia dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan Kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat ia digantikan oleh Dalem Bekung (1550—1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605—1686).

ZAMAN KERAJAAN KLUNGKUNG

Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri Periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.

Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.

KERAJAAN - KERAJAAN PECAHAN KLUNGKUNG
Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Mengwi, yang kemudian menjadi Kecamatan Mengwi.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Kerajaan Denpasar,yang kemudian menjadi Kota Madya Denpasar

MASA 1846 - 1949

Pada periode ini mulai masuk intervensi Belanda ke Bali dalam rangka "pasifikasi" terhadap seluruh wilayah Kepulauan Nusantara. Dalam proses yang secara tidak disengaja membangkitkan sentimen nasionalisme Indonesia ini, wilayah-wilayah yang belum ditangani oleh administrasi Batavia dicoba untuk dikuasai dan disatukan di bawah administrasi. Belanda masuk ke Bali disebabkan beberapa hal: beberapa aturan kerajaan di Bali yang dianggap mengganggu kepentingan dagang Belanda, penolakan Bali untuk menerima monopoli yang ditawarkan Batavia, dan permintaan bantuan dari warga Pulau Lombok yang merasa diperlakukan tidak adil oleh penguasanya (dari Bali).

PERLAWANAN TERHADAP ORANG - ORANG BELANDA

Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
Perang Buleleng (1846)
Perang Jagaraga (1848--1849)
Perang Kusamba (1849)
Perang Banjar (1868)
Puputan Badung (1906)
Puputan Klungkung (1908)

Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.

ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA

Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.

Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur. Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School. Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.

LAHIRNYA ORGANISASI PERGERAKAN

Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana".

Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studiefonds.

ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.

Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.

ZAMAN KEMERDEKAAN

Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.

Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI menggunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.

Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem. Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.

PUPUTAN MARGARANA

Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di desa margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 november 1946 di kenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

KONFERENSI DENPASAR

Pada tanggal 7 sampai 24 Desember 1946, Konferensi Denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Hubertus Johannes van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makassar (Ujung Pandang).

Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.

PENYERAHAN KEDULATAN

Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif. Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.

Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

DAFTAR KABUPATEN DAN KOTA DI BALI

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Badung Badung
2 Kabupaten Bangli Bangli
3 Kabupaten Buleleng Singaraja
4 Kabupaten Gianyar Gianyar
5 Kabupaten Jembrana Negara
6 Kabupaten Karangasem Karangasem
7 Kabupaten Klungkung Klungkung
8 Kabupaten Tabanan Tabanan
9 Kota Denpasar 

DAFTAR GUBERNUR BALI
1. Anak agung bagus sutedja : tahun 1950 - 1958
2. I Gusti Bagus Oka : tahun 1958 - 1959
3. Anak agung bagus sutedja : tahun 1959 - 1965
4. I Gusti putu martha : tahun 1965 - 1967
5. Soekarmen : tahun 1967 - 1978
6. Prof. Dr. Ida Bagus mantra : tahun 1978 - 1988
7. Prof. Dr. Ida bagus oka : tahun 1988 - 1993
8. Drs. Dewa made beratha : tahun 1993 - 2008
9. I Made Mangku Pastika : tahun 2008 - 2013
10. I MadeMangku Pastika : tahun 2013 - 2018

BIODATA PULAU BALI :

Batas Wilayah :
- Utara : Laut Bali
- Selatan : Samudera Indonesia
- Barat : Provinsi Jawa Timur
- Timur : Provinsi Nusa Tenggara Barat

Hari Jadi Bali : 14 Agustus 1959
Ibukota : Denpasar (Dahulu Singaraja)
Koordinat : 9º 0' - 7º 50' LS
114º 0' - 116º 0' BT
Luas : 5.634 KM2

Situs Web : www.baliprov.go.id

Lagu Daerah : Bali Jagaddhita

Pulau Badi Tempat Rehabilitasi karang

https://mrusdianto.files.wordpress.com/2011/12/pulau-badi1.jpg
 
Sulawesi Selatan satu di antara sejumlah provinsi yang dikenal sebagai surga bahari. Gugusan kepulauan spermonde yang menunjang kawasan wisatanya membuat pelancong akan lebih mudah menemukan sejumlah pantai dengan air laut yang bening, hingga hamparan pasir putih yang memukau.

Pulau Badi, menjadi salah satu destinasi yang mampu beradu indah dengan pantai-pantai populer lain di sejumlah kota wisata. Di pulau ini Anda tak hanya akan menemukan panorama alam pantai nan indah namun juga pusat pengembangan rehabilitasi karang dunia. Pulau Ini terletak di Desa Mattiro Deceng, Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajenne Kepulauan.
 
Dari Makassar, pulau ini bisa ditempuh sekitar dua jam perjalanan menggunakan kapal cepat.

Alternatif penyebrangan bisa anda lakukan melalui sejumlah penyebrangan seperti kayu bangkoa Jl Pasar Ikan, Dermaga Benteng Panynyua (Depan Rotterdam) maupun Pelabuhan Paotere. Pulau Badi, Pangkep menjadi salah satu destinasi yang mampu beradu indah dengan pantai-pantai populer lain di sejumlah kota wisata. 

Badi sendiri merupakan salah satu pulau yang dihuni masyarakat namun tetap mampu terjaga dan menjadi tempat kunjungan pilihan bagi anda yang hendak ke Sulsel. Pulau ini tak hanya populer dikalangan masyarakat setempat, namun dunia pun sudah mengakui.

Hal ini dibuktikan dengan silih bergantinya tokoh besar dunia seperti Jhon Mc Kein dan sejumlah penyelam dunia yang jauh-jauh dari berbagai negara hanya ingin mengintip langsung keberhasilan rehabilitasi karang yang digalakkan pulau dengan luas 6,50 hektar ini

Pulau Badi memiliki sekitar 402 kepala keluarga (KK), sejak tahun 2007 salah satu perusahaan kakao yang berbasis di Amerika yakni PT Mars Symbioscience mencanangkan pulau ini sebagai pusat pengembangan rehabilitasi karang.

Sekitar 700 meter persegi lahan di pulau yang dulunya dikenal sebagai sentra pembuatan perahu jolloro (perahu tradisional khas Makassar) ini direhabilitasi melalui pemasangan rekayasa terumbu karang. Sejak dicetuskan 2007, PT Mars bersama penduduk setempat tercatat telah merehabilitasi sekitar 10.000 meter persegi lahan untuk pengembangan ekosistem laut. Upaya berkelanjutan inilah yang sekaligus membuat pulau Badi menjadi daerah percontohan dari rehabilitasi terumbu karang terbesar di dunia.

Pulau Kaniungan, Berau


http://picture.triptrus.com/picture/l6251

Secara administratif, Pulau Kaniungan berada di RT 3, Kampung Teluk Sumbang, Biduk-Biduk, Berau. Dan secara geografis terletak pada titik 118 derajat, 50’ dan 70” BT, dan 1 derajat 7’ dan 1” LU.

Tak mudah untuk menjangkaunya. Karena itu pula, pulau yang sebenarnya terbagi jadi dua, Kaniungan Besar dan Kecil itu, masih terjaga keasriannya. Tak banyak sentuhan tangan manusia yang telah menjamahnya. Ikan-ikan buruan nelayan juga mudah ditemukan. Itu sebab perairan sekitar Kaniungan selalu ramai para pengadu nasib di tengah laut.

Di pinggir laut, padang lanun yang terhampar di perairan dangkal, menjadikan habitat penyu dengan mudah ditemui. Dua pulau itu juga jadi tempat hewan dengan tempurung tebal itu bertelur. Aktivitas manusia yang masih terbilang minim di tempat indah tersebut, menjadikan hewan yang jadi simbol Berau itu tetap lestari.

“Pada bulan tujuh atau delapan (Juli-Agustus, Red) banyak penyu yang ke darat. Semalam bisa sampai lima puluh ekor. Baik di Kaniungan Besar atau Kecil, sama-sama ramainya,” tutur Abdul Jalil, Ketua RT 3 Teluk Sumbang kepada Berau Post.

Pesona dua daratan Kaniungan bagi habitat penyu melakukan reproduksi, memang tak hanya pada dua bulan yang biasa disebut Musim Selatan itu. Hanya saja intensitas penyu bertelur semakin kecil pada bulan-bulan lainnya.

Kaniungan, sejauh ini memang belum memberikan daya tarik lebih besar selain bagi para penyu bertelur. Namun, dari sejarah yang dituturkan Abdul Jalil, pulau yang punya luas 55,4 hektare itu, setelah diukur oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gajah Mada Jogjakarta, Agustus 2015 lalu, sebenarnya sudah mulai ditinggali sejak tahun 1730. Dan, Pulau Kaniungan Kecil, sampai saat ini tak ada manusia yang meninggalinya. “Karena di sana tak ada sumber air tawar,” ungkapnya.

Abdul Jalil bisa memberikan angka pasti soal tahun Kaniungan mulai didiami manusia adalah arsip yang tertulis dalam aksara Lontara yang tersimpan di Keraton Sambaliung, Berau. Pak RT, begitu Abdul Jalil biasa disapa, meyakinkan bahwa Suku Bugis adalah pendatang pertama yang mendiami pulau tersebut.

Bukti sejarah Pulau Kaniungan Besar pernah jadi “perlindungan” pelaut yang ingin mendarat adalah komplek kuburan yang berada di tengah-tengah pulau. Ada beberapa nisan, yang terbuat dari kayu dan batu, dan saat ini kondisinya sangat memprihatinkan karena minimnya perawatan.

Bahkan, sebagian besar nisan dari kayu ulin yang tertancap di atas pusara, hampir ludes jadi abu, imbas kebakaran lahan beberapa tahun lalu. Dari persebaran nisannya, tampak jika itu adalah areal kuburan yang dulunya tertata rapi. Dengan satu kuburan di bagian tengah, dan dikelilingi kuburan-kuburan lain yang membentuk satu formasi tertentu.

Perlu penggalian sejarah lebih lanjut untuk menentukan kepastian informasi tentang areal makam tersebut. Dari sisa-sisa nisan yang terbakar, masih jelas terlihat aksara Lontara yang jadi penanda dan identitas tentang jasad yang dikubur di lokasi itu. “Yang saya tahu, kalau nisan bentuknya bulat itu berarti yang dikubur laki-laki, dan kalau nisan yang datar, itu berarti perempuan,” lanjut Abdul Jalil.

Umur yang sudah sepuh bagi Pulau Kaniungan sejak didiami manusia, ternyata tak sebanding dengan penambahan jumlah penduduknya. Dari data yang dipegang Abdul Jalil, saat ini hanya ada 18 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa hanya mencapai 52. “Kalau dilihat dari jenis pekerjaan, pemegang KTP semuanya bekerja sebagai nelayan,” ungkap pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah itu.

Keberadaan Pulau Kaniungan ternyata juga diakui Junaedi, salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran lalu itu. Pria yang tumbuh besar dan tinggal di Biduk-Biduk itu, menganggap bahwa moyangnya juga berasal dari Kaniungan. “Dari cerita orangtua, dulu nenek-kakek kami tinggal di Kaniungan. Lama kelamaan mereka pindah ke darat (Biduk-Biduk),” ujarnya.

Nama dua pulau itu sendiri berasal dari nama tumbuhan dan buah yang punya nama sama; Kaniungan. Dulunya, pulau tersebut, selain dipenuhi pohon kelapa, juga banyak ditemukan pohon buah Kaniungan. Saat berkeliling pulau tersebut, Abdul Jalil menunjukkan bagaimana rupa tumbuhan yang ternyata hanya tersisa satu pokok. Dari bentuk batangnya, hampir mirip batang jambu biji. Diameter tak lebih dari 10 cm. Daunnya mirip daun jeruk, juga dengan aroma khas buah berair dan berasa masam tersebut.

“Ya, buahnya mirip jeruk. Tapi paling besarnya cuma sejempol tangan. Sayang, ini bukan lagi musimnya berbuah,” ungkap Pak RT. “Ini tinggal satu batang. Semoga yang punya lahan mau menjaga pohon ini, karena ini benar-benar sejarah yang harus dilestarikan.

Pulau tagalaya


 http://www.iftfishing.com/wp-content/uploads/2013/09/Pulau-Tagalaya-720x340.jpg
  
Berbicara mengenai keindahan wisata Bahari di Indonesia seperti nya tidak akan ada habis nya. 

Hal ini di karenakan Indonesia memang merupakan salah satu destinansi para pecinta keindahan Bahari. Tidak hanya penikmat dari dalam negeri namun juga dari luar negeri. Namun, masih banyak wisata Bahari di Indonesia yang belum banyak diketahui oleh wisatawan. Padahal, wisata-wisata tersebut lah yang masih banyak dicari oleh para wisatawan. Mungkin karena masih belum terjamah oleh tangan-tangan jail sehingga keindahan atau keeksotikan nya masih sangat alami.

Beberapa pulau di Indonesia memang masih menawarkan keindahan Bahari yang masih alami. Salah satu nya yakni keindahan pulau Tagalaya. Pulau yang terletak di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara ini masih sangat dijaga kelestarian nya. Sebuah pulau yang relatif kecil ini memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa indah nya, terutama keindahan biota laut nya.

Pulau Tagalaya menyajikan sebuah panorama yang luar biasa memukau. Bagaimana tidak, hamparan pasir putih sepanjang pantai seolah-olah telah menyambut kedatangan para wisatawan sekalian. Selain itu pulau ini menyajikan air laut yang sebening kaca dan keindahan laut nya bagaikan sebuah lukisan yang tidak ternilai harga nya, belum lagi ketika kita menyelam 'diving' maka kita akan disuguhi pemandangan yang luar biasa cantik nya. Inilah salah satu spot diving yang bisa dikatakan sangat rekomendasi buat pengunjung sekalian yang memang suka atau hobby dengan olahraga yang satu ini.

Pulau Tagalaya menawarkan sebuah keindahan alam bawah laut yang sempurna untuk para penyelam. Bukan hanya terumbu karang yang sangat memukau, ikan-ikan yang berwarna-warni berenang-renang kesana kemari dan juluran tentakel dari gurita laut saja yang akan kita temui di tempat ini. Namun, di pulau ini kita juga dapat menikmati keindahan alam yang sungguh luar biasa. Pepohonan bakau yang tumbuh di atas pasir putih dan apabila kita melihat di sisi sebelah Utara maka pengunjung akan disuguhi bebatuan karang yang sangat indah.

Bahkan untuk menikmati keindahan bawah laut nya, wisatawan tidak perlu harus menyelam dalam-dalam. Hal ini dikarenakan dengan melihat saja tanpa harus menyelam wisatawan sudah dapat melihat terumbu karang yang hidup dengan alami dan terjaga keindahannya. Namun, kalau ingin yang jauh lebih indah maka pengunjung dapat menyelam dengan kedalaman antara 2-10 meter saja. Karena terumbu karang dan biota laut dalam keadaan baik dapat kita temui pada kedalaman tersebut. Sungguh sebuah pulau yang sangat memanjakan mata wisatawan sekalian.

Namun, ada satu peraturan di pulau ini yang harus dipatuhi oleh para wisatawan. Yakni, para wisatawan dilarang untuk menginjak atau tidak boleh berpijak di atas bunga karang apabila sedang menyelam. Hal ini dikarenakan, agar tidak terjadi kerusakan terhadap bunga karang tersebut. Kalaupun harus berpijak, silahkan mencari pijakan yang tidak menyebabkan bunga karang tersebut rusak. Sebuah peraturan yang sungguh baik untuk dijalankan, agar ekosistem nya tetap terjaga.. Jadi, silahkan cantumkan Pulau Tagalaya dalam daftar List destinasi penyelaman Anda berikut nya. Love Diving and always save our earth.

Akses

Untuk dapat sampai ke pulau Tagalaya, wisatawan dapat menggunakan dua alternatif kendaraan yakni menggunakan perahu tradisional "ketinting" bersama-sama atau dapat pula menyewa Speedboat dari pelabuhan Tobelo.

Diperlukan waktu kurang lebih 20-30 menit perjalanan untuk sampai ke pulau Tagalaya dari pelabuhan Tobelo. Bagi pengunjung sekalian yang memang ingin menikmati keindahan pulau ini tidak ada salah nya apabila menggunakan perahu tradisional. Dengan menggunakan perahu tradisional tersebut wisatawan akan disuguhi keindahan bahari Maluku selama perjalanan. Selain itu wisatawan juga dapat lebih mengenal warga sekitar melalui perbincangan ringan bersama pemiliki perahu, siapa tahu nanti harga sewa perahu dapat potongan.

Berbagi Trip | Pulau Intata

 http://assets.kompas.com/data/photo/2015/06/03/0911041Pulau-Intata-2780x390.jpg

keindahan pulau cantik nan eksotis, dengan pasirnya selembut tepung, air laut super jernih dengan warna gradasi dari biru ke hijau tosca, dan lambaian nyiur di tepi pantai? Datanglah ke Intata.

Anda akan merasa bak hulubalang kerajaan karena menaklukkan sebuah pulau. Ya, pulau ini tak berpenghuni. Pulau Intata merupakan salah satu pulau kecil terluar dari 11 pulau terluar yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.

Pulau Intata terletak di bagian utara Pulau Sulawesi yang berbatasan langsung dengan negara Filipina. Pulau ini hanya memiliki luas 0,15 kilometer persegi dan banyak ditumbuhi pohon kelapa. Di bagian selatan dan barat terdapat pasir putih, sementara di bagian timur pantainya berbatu. Secara administratif, Pulau Intata masuk dalam Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan dibatasi Samudera Pasifik di sebelah timur dan Pulau Kakorotan di sebelah selatan.

Menurut cerita, dulunya Intata merupakan bagian dari Pulau Kakorotan, sebuah pulau besar di seberangnya, hingga bencana gempa yang diikuti tsunami menghajar sehingga memisahkan Intata dari Kakorotan pada tahun 1600-an. Sebagian Pulau Intata tenggelam dan penduduknya hanyut, dan hingga kini penduduk di sana hanya tinggal di Kakorotan.

Pulau Intata merupakan salah satu pulau terluar dari 11 pulau yang dimiliki Provinsi Sulawesi Utara.
Di Kakorotan terdapat dermaga yang panjangnya mencapai sekitar 300 meter.

Di dermaga inilah kapal-kapal perintis serta kapal Pelni yang melayari rute Nusa Utara, wilayah yang mencakup tiga kabupaten di ujung Sulawesi Utara, singgah untuk mengangkut dan menurunkan penumpang dan barang.

 http://jurnalmaritim.com/wp-content/uploads/2015/05/Pelabuhan-Bitung.jpg

dari pelabuhan Bitung, anda bisa mendapat bonus menyinggahi sekian pelabuhan sebelum tiba di Intata. Diperlukan sedikitnya tiga hari perjalanan dari Bitung sebelum tiba di Intata. Walau lama, tapi dijamin, pulau-pulau yang disinggahi juga tak kala indahnya. Nusa Utara memang wilayah eksotis di bibir lautan pasifik.

Jika ingin melakukan perjalanan cepat, anda bisa naik pesawat dari Manado ke Melongguane di Talaud, dari sana lalu sewalah perahu speed boat ke Intata. Jika lautan teduh, hanya butuh sekitar 4 jam sudah bisa merapat di Intata.

Di Intata tidak tersedia penginapan, karena memang pulau ini tidak berpenghuni. Tapi jangan khawatir, penduduk Kakorotan yang ramah bersedia menampung anda di rumah mereka.

Berbagi Trip | Pantai Iboih

Pantai Iboih


Pantai Iboih (baca:Iboh) merupakan salah satu dari beberapa pantai yang menjadi primadona di kalangan komunitas backpacker di Pulau Weh. Pantai ini menjadi salah satu tujuan para pelancong dari berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan jika saat kita berkunjung ke pantai ini maka didominasi oleh wisatawan mancanegara yang menetap hingga berminggu-minggu.

Pantai Iboih sebenarnya bernama resmi “Teupin Layeu”, tetapi lebih dikenal dengan nama Pantai Iboih. Pantai Iboih menawarkan segala keindahan bawah laut yang bisa kita nikmati bahkan tanpa harus berenang sekalipun. Tak sedikit wisatawan yang menyatakan keindahan Pantai Iboih, hutan lindung Iboih memiliki garis pantai yang menawan dengan pasir berwarna keemasan dan batuan besar bersusun. Tidak berlebihan jika hutan lindung ini digambarkan sebagai taman firdaus, karena bagi sebagian wisatawan, inilah gambaran taman “bermain” yang sesungguhnya. Dasar lautan yang dangkal memancarkan hijau kebiruan, bahkan menyorotkan kedamaian. Lengkung pesisirnya seperti bibir tersenyum menyambut pengelana merasakan kehangatan hutan hujan tropis yang bertahtakan kekayaan flora dan fauna Indonesia.

Di sini terdapat banyak perahu milik penduduk yang dapat disewa untuk berkeliling pulau atau untuk sekedar melihat titik-titik untuk menerawang keindahan bawah laut di sekitar Pulau Rubiah. Perahu yang tersedia secara umum terdiri dari perahu kecil dan perahu besar. Bagi kita yang tidak bisa berenang, perahu besar umumnya dilengkapi jendela kaca yang menghadap ke dasar dan dapat digunakan untuk melihat keindahan bawah laut dari atas kapal. 

Tetapi bagi anda yang ingin snorkling dan diving, anda bisa menyewa alat snorkling cukup dengan harga Rp 40.000 per orang dan peralatan yang dapat digunakan adalah pelampung, master snorkling, dan kaki katak. Bagi anda yang ingin menikmati alam bawah laut lebih leluasa, anda bisa menyewa peralatan diving sekaligus didampingi oleh guide dengan membayar Rp 400.000 per orang atau 25 Euro bagi turis asing.

Iboih hanya berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Sabang atau dari Pelabuhan Balohan. Ongkos yang harus dikeluarkan sekitar Rp 50.000 atau lebih untuk setiap orang bahkan bisa lebih murah jika bersama-sama dengan wisatawan lain.

Berbagi Trip | Pulau Palambak Besar

Pulau Palambak

 

Pulau Palambak yang terletak di Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam ini memang terletak di tempat yang tersembunyi. Namun justru letaknya yang tersembunyi inilah membuat Pulau Palambak ini menjadi tempat wisata yang spesial. Jumlah bungalow di pulau ini pun terhitung sangat sedikit, mungkin suatu yang memang direncanakan agar Pulau Palmbak ini tetap terjaga kelestariannya

Beberapa bungalow sederhana juga terlihat rapi berjajar. Tidak banyak sih jumlahnya, tapi justru itu yang menjadikan pulau Palambak besar ini spesial. Dengan batasan pengunjung yang diterapkan, mungkin salah satu cara untuk tetap menjaga kelestarian alam di pulau yang banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa ini.

Pulau Palambak ini ada di perairan kecamatan pulau Banyak, Aceh Singkil. Aceh Singkil adalah sebuah kabupaten yang sedang berkembang di provinsi Nanggro Aceh Darusalam. Meskipun kondisi geografisnya termasuk dalam wilayah Aceh, tapi kebanyakan wisatawan menempuh jalur dari kota Medan untuk sampai ke lokasi ini. Satu hal yang membuat orang ingin berkunjung ke pulau yang tidak besar ini adalah pesona alamnya yang memukau. Hamparan pantai pasir putih yang ada seolah membuat kita enggan untuk meninggalkannya. 

Betah rasanya berlama-lama duduk di bawah pohon kelapa sambil menikmati pesona keindahan alam yang tersaji. Banyak sekali aktifitas yang bisa dilakukan dipulau ini. Selain berenang di luasnya laut yang dangkal, bermain kayak juga rasanya seru. Ombak di depan bungallow tidak terlalu besar, jadi cocok untuk bermain air. Selain itu karena perairannya dangkal sehingga dasar laut yang berpasir putih juga terlihat indah.

Jika ingin menikmati pulau, berjalan-jalanlah mengitarinya. Hamparan kebun kelapa yang banyak tumbuh di pulau ini juga terlihat begitu memmesona karena berpadu indah dengan pantai pasir putih yang panjang dan bersih.

Sunyi, begitulah yang akan Anda rasakan ketika mengunjungi pulau ini. Hiruk pikuk kota besar yang menyita waktu dan melelahkan seolah sirna tergantikan dengan panorama alam yang indah dan memukau. Nikmatilah masa-masa liburan seperti ini untuk sedikit melonggarkan urat syaraf yang tegang akibat rutinitas kota besar yang terkadang menjemukan. Jangan lewatkan senja yang tersaji di pulau ini.

Berbagi Trip | Pulau Siladen


Siladen adalah salah satu pulau yang membentuk Taman Nasional Bunaken-Manado, di Provinsi Sulawesi Utara. Pulau ini seluas 31,25 hektar, namun menyimpan banyak keindahan.
Nama Siladen memiliki arti kandas. Konon kisah sejarah Siladen berasal dari cerita tentang sebuah kapal yang dipergunakan orang Sangier saat sedang berlayar. Kemudian kapal mengalami kecelakaan di tengah laut dan tenggelam. Lokasi tenggelam kapal lalu diberi nama Siladen.
Bagi anda yang mengidamkan suasana pantai yang tenang dengan pemandangan alam cantik, di Pulau Siladenlah tempatnya. Bayangkan saja pulau ini seluruhnya dikelilingi pantai berpasir putih, dengan aneka tumbuhan tropis seperti palem, sagu, serta kelapa.

Memang untuk mencapai ke pulau cantik ini tidak mudah, karena itulah kealamian pulau ini masih terjaga. Pulau Siladen berada di sebelah timur Pulau Bunaken, sekitar 12 km dari pusat Kota Manado.
Anda bisa mengunjungi Pulau Siladen melalui perjalanan laut menggunakan kapal motor selama 45 menit. Tiba di Pulau ini, Anda dapat langsung bersentuhan dengan pantai pasir putih, air yang sangat jernih, merasakan segarnya hembusan angin laut, suara kicauan burung, hingga menyelami keindahan bawah laut Siladen.
Alam bawah laut Pulau Siladen sangat menakjubkan, dengan aneka terumbu karang dan beragam biota laut. Ada dua lokasi menyelam paling potensial yaitu Siladen dan Siladen Utara, dengan kedalaman sekitar 20-50 meter.
Ombak di Pulau Siladen tidak terlalu besar, oleh karena itu bila berkunjung, sempatkanlah untuk berenang dan snorkeling. Anda juga bisa menyaksikan terumbu karang dari atas kapal dengan naik perahu berkaca atau katamaran. Jika ada beruntung, anda akan bertemu sekawanan lumba-lumba yg sedang menari indah dibawah laut.

Berbagi Trip | Pulau Manado Tua dan Gunung berapi bawah Lautnya

 

Secara geografi, Manado Tua terletak di sebelah barat pulau Bunaken. Berbentuk gunung yang menjulang setinggi 655 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya terdapat gunung yang tidak berapi. Namun di dasarnya menurut para penyelam pada kedalaman sekitar 150 kaki terdapat gunung berapi yang mengeluarkan gelembung-gelembung udara dan karang lava yang kerap dihiasi sejumlah hiu berukuran besar.

Pulau Manado Tua bisa dicapai dengan kapal motor sekitar satu jam atau berjarak sekitar 10 mil dari Kota Manado. Pulau Manado Tua berbeda dengan pulau-pulau lainya di Taman Nasional Bunaken-Manado. Berbeda karena gunung api tersebut ditumbuhi pepohonan hijau dan rindang. Datarannya berada di dalam air dengan kemiringan 5 sampai 30 meter dan dibelah sebuah dinding karang dengan kedalaman 25 sampai 50 meter ke dasar laut dan sebuah gua besar. Sambangi langsung dan saksikan sendiri bagaimana taman laut ini benar-benar menakjubkan.

 
Pulau Manado Tua selain memiliki taman laut yang sempurna dan kaya biota laut, juga memiliki sejarah berkaitan keberadaan Suku Bowontehu. Menurut catatan sejarah, suku tersebut sudah ada di Pulau Manado Tua sekitar tahun 1623. Dahulu Pulau Manado Tua dihuni oleh Suku Bowontehu. Pulau tersebut dikenal sebagai Manarow dan merupakan orang-orang dari Etnis Sangir Tua.
Pulau ini memiliki sekitar 3.200 jiwa penduduk dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Masyarakat Manado Tua telah aktif melestarikan terumbu yang rusak dengan bantuan dari pemerintah setempat.
Terumbu karang di sini bisa menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil dari para predator. Nusantara Diving Club yang diselenggarakan pada 1985 bertujuan untuk mendesak Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan perlindungan dan pelestarian terhadap berbagai biota laut di perairan Manado Tua.
Pulau Manado Tua memiliki iklim tropis dengan curah hujan berkisar antara 2.000 - 3.000 mm per tahun.
Taman lautnya sendiri dihuni beragam biota laut langka diantaranya dugong, lumba-lumba dan berbagai jenis ikan hias seperti Hippocampus sp, kima raksasa, serta penyu sisik dan penyu hijau. Untuk jenis terumbu karang didominasi oleh jenis Pocilopora sp, Seriaattopora sp, Pachyseris sp, Porites sp, Fungia sp, Herpolitha sp, Holomitra sp, Galaxea sp, Pectinia sp, Lobophyllia sp, Echinopora sp, dan Tubastrea sp.
Selain potensi laut, pulau ini juga memiliki potensi lain seperti hutan lindung, Kubur Raja Mokodokettk, Raja Kokodompis, Raja Wulangkalangi, Pantai Raja (Apeng Datu), Pantai Istana Wakil Raja (Apeng Gugu), Pantai Apeng Salah, Batu Layar (Batu Senggo), Batu Kadera, Batu tempat istirahat (Pangilolong), dan Bua Alo yang sekarang menjadi Ibu Kota Kelurahan Manado Tua Dua yakni Bualo.

Berbagi Trip | TLN Bunaken

 

Taman Nasional Bunaken adalah taman laut yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. mempunyai area dengan luas 75.265 ha. Terdapat 5 pulau yang termasuk dalam taman nasional ini yaitu Pulau Naen, Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua, Pulau Siladen, dan Pulau Mantehage beserta anak pulau yang di sekelilingnya. Dan jumlah penduduk yang ada di kelima pulau tersebut sekitar 21.000 orang.

Secara geografis Pulau Bunaken termasuk dalam wilayah perairan “Segi Tiga Emas“. Lebih dari sekitar 3000-an spesies ikan berada di Bunaken. Wilayah “Segi Tiga Emas” adalah jalur perairan laut yang menghubungkan laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia. Karena kekayaan alam yang berada di Bunaken, organisasi nasional dan internasional non pemerintah saling bekerja sama dalam menjalankan konservasi terumbu karang dan mangrove.

Pemerintah Kota Manado mempunyai gagasan menjadikan Bunaken sebagai obyek wisata bahari dan wisata edukasi, karena pemerintah setempat melihat aktivitas konservasi alam laut di wilayah ini. Maka dari itu kawasan Pulau Bunaken pada 1991 silam, Menteri Kelautan meresmikannya sebagai Taman Laut Nasional Bunaken.

Obyek Wisata
Pada saat wisatawan berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara, mereka tidak akan lupa untuk berkunjung ke Taman Laut Nasional Bunaken.

Karena Bunaken merupakan obyek wisata yang paling populer.
Bunaken memiliki luas kurang lebih sekitar  8 km² yang terletak di Teluk Manado. Di sekeliling Bunaken, ada taman laut yang juga bagian Taman Nasional Kelautan Manado Tua.

Bunaken juga merupakan salah satu taman laut yang mempunyai biodiversitas laut tertinggi dunia. Oleh karena itu banyak para wisatawan yang datang berkunjung untuk melakukan aktivitas menyelam di kawasan Bunaken.


Meski luas area mencapai 75.265 ha, lokasi menyelam sangat terbatas, hanya berada di sekitar pantai yang mengitari kelima pulau yang berada di kawasan Taman Laut Nasional Bunaken.

Di Bunaken terdapat 40 lokasi penyelaman yang memiliki beraneka ragam terumbu karang dan ikan laut tropis yang indah. Wisatawan yang melakukan penyelaman di wilayah Bunaken akan disuguhi pemandangan 150 spesies ikan dari sekitar 58 genus ikan dan terumbu karang.

Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai 20 dive spot / titik penyelaman dengan berbagai kedalaman yang bervariasi. Dari 20 dive spot, 12 dive spot berada di Pulau Bunaken dan merupakan titik penyelaman yang paling sering dikunjungi oleh penyelam-penyelam baik lokal maupun mancanegara.

Titik penyelaman Bunaken berderet dari tenggara hingga barat laut. Di kawasan ini terdapat dinding karang berukuran raksasa berbentuk vertikal dan melengkung. Dinding ini merupakan sumber makanan bagi ikan-ikan dan penghuni laut lainnya.

Berbagi Trip | Pulau Nusa Pombo Ambon



http://abdulromli.it.student.pens.ac.id/Maluku/img/pombi.jpg

Pulau Pombo merupakan salah satu pulau cantik yang tak berpenghuni di Ambon, Propinsi Maluku. Pombo berasal dari bahasa Portugis yang mempunyai arti merpati, sehingga Pulau Pombo juga dikenal dengan nama Pulau Merpati.

Di Pulau Pombo ini merupakan habitat bagi hewan endemik Maluku yaitu burung Pombo. Jika dilihat secara geografis, pulau ini berada di tengah-tengah antara Pulau Ambon dan Pulau Haruku, namun secara administratif pulau ini berada di Kecamatan Salahhutu, Kabupaten Maluku Tengah.

https://r3pellent.files.wordpress.com/2015/01/pombo2.jpg Kawasan Pulau Pombo menyimpan kekayaan laut yang mempesona bagi wisatawan. Para wisatawan yang datang ke Pulau Pombo dapat menyelam dan menikmati pesona wisata bawah laut yang sekaligus menjadi cagar alam mini di Kabupaten Maluku Tengah ini. Biota laut yang terdapat di kawasan ini meliputi berbagai jenis ikan, kerang, rumput laut, beragam terumbu karang, dan moluska yang berada dalam lindungan pemerintah seperti kima, lola, bia gengge dan triton trompet. Selain memiliki kekayaan laut yang mempesona, kawasan Pulau Pombo juga telah dijadikan lokasi penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan budidaya alam bawah laut.

Air laut di kawasan ini sangat jernih sehingga dasar lautnya pun dapat terlihat. Atol dan rangkaian batu karang besar dan kecil mendominasi kawasan laut di Pulau Pombo. Saat air laut surut, rangkaian batu-batu karang tersebut akan muncul ke permukaan dan membentuk sebuah pemandangan yang mempesona setiap wisatawan yang menyaksikannya.

Akses ke Nusa Pombo 

Dari Kota Ambon menggunakan kendaraan bermotor menuju ke Tulehu dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Dari Tulehu dilanjutkan menggunakan speedboat menuju Pulau Pombo selama sekitar 20 menit perjalanan.

Berbagi Trip | 5 pantai terindah di indonesia yang tersembunyi

Mungkin sebagian dari Anda lebih menikmati keindahan alam di tepi pantai dalam suasana yang sepi, jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan bermotor atau pedagang asongan dan pengunjung yang terlalu banyak layaknya di lokasi wisata pantai-pantai yang sudah populer. Maka tidak ada salahnya Anda mencoba mengunjungi lokasi pantai tersembunyi yang jarang didatangi wisatawan.

1.Pantai Green Bowl, keindahan tersembunyi di Kuta Selatan, Bali.

Jika Anda sering berlibur ke Bali, namun sering mengunjungi pantai-pantai yang sudah populer semacam Pantai Kuta, Pantai Sanur atau Pantai Nusa Dua, maka cobalah datang ke Pantai Green Bowl ini. Keindahan alam dan ekslusifitasnya akan memberikan sensasi yang jauh berbeda. Pantai yang lebih banyak didatangi wisatawan mancanegara terutama para surfer / peselancar ini terletak di balik bebukitan, pengunjung harus menuruni ratusan anak tangga yang terjal untuk mencapai pantainya.

 

Tetapi perjuangan menuruni anak tangga ini terbayar lunas ketika Anda telah menginjakkan kaki di pasir putihnya. Disebut Green Bowl atau mangkuk hijau karena setiap air laut surut maka akan membentuk mangkuk dari karang-karang yang berwarna hijau saat Anda lihat dari atas bukit. Meski pantai ini belum ada di guide book wisata ataupun paket perjalanan. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena pantai ini letaknya tidak jauh dari Denpasar ataupun Kuta. Ketiganya berada di Semenanjung Bukit, di antara Objek Wisata Garuda Wisnu Kencana dan Pura Uluwatu. Pantai Green Bowl jarang dipublikasikan di media massa, sehingga belum banyak turis yang mengetahui keberadaan pantai ini. Akan tetapi, mungkin inilah yang membuatnya unik, sebuah tempat indah tersembunyi, tempat untuk sejenak menjauh dari hiruk pikuk keramaian wisata Bali.

2.Pantai Pulau Peucang, Banten. Eksotisme pantai dipadu keberagaman flora dan fauna.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlICOWsXnf8tymUmMlwUgA-THzzBm38rILDjfswnRxiHiBbxEM7iJ0_X_QIg_wrFlVBEe7q6fKxr1TEQyf4SJYDzwFVkmUUgu1RXxc1zdoOof9w2P6U6qEij22d3XXQxhpLXH-Ls3g8Ls/s1600/dermaga+pulau+peucang.JPG

Anda mencari sensasi keindahan alam yang sebenarnya? Datanglah ke Pulau Peucang di kawasan Ujung Kulon ini. Pulau Peucang berada di Selat Panaitan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten atau sebelah timur Taman Nasional Ujung Kulon.  Pulau Peucang hanya dapat dicapai lewat laut melalui dermaga penyebrangan dari Kecamatan Sumur yang berjarak 9 jam perjalanan dari Jakarta dengan kendaraan pribadi atau sewaan. Untuk mencapai lokasi pantai ini memang berat, tapi terbayar lunas ketika mata kita termanjakan oleh hamparan pasir putih, gradasi warna air laut  dan buih putih ombak yang berkejaran. Di sini telah menanti keindahan pasir putih dan terumbu karangnya, air lautnya yang biru jernih sempurna untuk berenang, menyelam, memancing, atau snorkeling.  Pulau ini juga ideal untuk pengamatan beragam satwa terutama rusa. UNESCO menganugerahi pulau ini sebagai salah satu dari situs alam warisan dunia karena memiliki keberagaman flora dan faunanya. Akomodasi yang tersedia di sekitar lokasi, terdapat beberapa resort dan penginapan dengan tarif dibawah 1 juta. Habiskan akhir pekan Anda bersama orang-orang tercinta, dan nikmati refreshing yang sebenarnya di sini.

3.Pantai Nembrala, Pulau Rote. Surga dari sisi selatan Indonesia.

http://basodara.com/wp-content/uploads/2014/11/url.jpg

Pantai Nembrala disebut-sebut sebagai Kuta-nya Pulau Rote, yang memiliki hamparan pasir putih sejauh mata memandang, biru laut yang indah dan ombak yang menantang. Walaupun sudah banyak resort dan hotel di dekat lokasi pantai ini, wisatawan yang datang masih didominasi turis asing daripada domestik. Pantai Nembrala memiliki deru ombak berkelas dunia yang dicari para peselancar amatir maupun profesional, maka tak heran area ini pernah dijadikan salah satu lokasi lomba selancar bertaraf internasional. Tapi jangan khawatir, bagi Anda yang gemar berenang ada juga spot tertentu yang aman untuk swimming. Untuk mencapai pulau ini Anda perlu melakukan penerbangan dari Bali menuju kota Kupang (Bandar Udara El Tari). Sesampainya di Kupang Anda dapat menginap terlebih dahulu di kota ini atau langsung menuju pulau Rote. Perjalanan dapat dilanjutkan dengan mobil menuju Pelabuhan Tenau sekitar 30 menit. Penyebrangan melalui Pelabuhan Tenau ke Pulau Rote dengan menumpang kapal Ferry menuju Pantai Baru (Pelabuhan di Pulau Rote) dimana perjalanan dilakukan sekitar 3-4 jam atau dengan menggunakan kapal cepat menuju Kota Ba’a sekitar 40-60 menit. Jika Anda menyusuri pulau ke arah timur, pesona pantai semakin menggoda.

https://travelmotoblog.files.wordpress.com/2015/06/img-20120715-00255.jpg 
 
Anda akan menemukan Pantai Bo’a. Pantai ini adalah tempat wisatawan bermain selancar. Ketinggian ombak dipantai ini relatif sama dengan pantai Nembrala. Hanya sekitar 2-3 mil dari Pantai Bo’a, nampak Pulau Ndana yang menjadi markas satu peleton pasukan Marinir TNI Angkatan Laut mengamankan perbatasan NKRI dari sisi selatan.

4.Pantai Pulau Ndaa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Highly class of nature’s beauty!

 https://duabelastraveltoindonesia.files.wordpress.com/2014/07/wakatobi-island-wakatobi-indonesia-travel-to-indonesia-www-traveltoindonesia-info-2.jpg

Informasi tentang Pantai Pulau Ndaa masih sangat sedikit ditemukan, bahkan pencarian melalui google pun hanya memberikan beberapa informasi. Tapi siapa sangka, dibalik susahnya menemukan informasi wisata di area ini, keelokan alam berkelas dunia justru terbentang membuat siapa saja yang datang berdecak kagum. Informasi dan panduan tentang lokasi ini justru lebih mudah ditemukan jika Anda mencari tentang Wakatobi.

 
Yap! Siapa yang tidak kenal eksotisme Wakatobi? Untungnya, untuk menuju Pulau Ndaa hanya sekitar 1 jam perjalanan kapal dari pulau Tomia, kawasan wisata Wakatobi. Di pantai ini Anda ‘hanya’ akan menemukan keindahan pasir putih yang membentang, dengan biru air laut yang sangat tenang bahkan Anda bisa melihat dasar pantainya! Jangan heran jika Anda kesini dan lupa bahwa ini Indonesia, karena Anda akan berasa sedang di kawasan pantai Karibia. Informasi akomodasi dan transportasi yang lebih jelas bisa Anda dapatkan di pusat konservasi Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Selatan.

5.Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur. Eloknya seruling laut dari samudera selatan Jawa.


Last but not least, pernahkah Anda mengira di sebuah lokasi terpencil di tepi selatan Jawa Timur ini menyimpan keelokan yang tiada duanya? ini dia Pantai Klayar, sebuah pantai yang sangat jarang didengar oleh wisatawan tapi sungguh menyimpan kecantikan tersendiri. Hamparan pasir putih sepanjang +/- 1 kilometer membentang dari ujung timur hingga ke barat, batu karang yang berdiri kokoh dan berbentuk seperti ‘sphinx’, dipadu semburat ombak dari sebuah lubang di bebatuan karang yang membentuk air mancur alami hingga 10 meter tingginya, dan menimbulkan bunyi mendenging persis seperti seruling! Sekali datang kesana, dan Anda akan jatuh cinta untuk datang kembali. Di ujung timur Anda akan disapa oleh sebuah laguna yang jelita. Diapit oleh dua gugusan batu karang, laguna ini terlihat indah dengan gulungan ombak jernih yang menghantam dinding karang dan kemudian memecah dan berputar di hamparan pasir putih. Laguna kecil ini memang mempesona dan membuat betah berlama-lama duduk santai memandangnya. Ombak berkali-kali menghempas batu karang dengan kuatnya dan menimbulkan efek air terjun di dindingnya dengan buih-buih putih yang cantik.


 Anda juga bisa berenang di sungai kecil pertemuan arus sungai dengan bibir pantai tidak jauh di sisi timur. Penulis pernah mencoba berenang di sungai kecil ini, yang ternyata perpaduan antara air hangat dan air dingin. Lalu dengarkan suara dari bukit di atas Anda, seakan ada suara gemuruh air terjun, yang entah dari mana asalnya. Pantai ini masih sangat sepi. Jika datang bukan pada hari libur, Anda hanya akan menemukan beberapa nelayan yang sedang memancing. Hamparan pasir putih membentang dengan ombak sejernih kristal memecah di bibir pantai, diapit bukit karang di kanan dan kirinya. Anda bisa naik ke bukit karang di sebelah kanan dan menikmati pemandangan landscape Klayar yang indah dari sebuah gardu pandang. Untuk mencapai lokasi ini, dibutuhkan 3 jam perjalanan dari kota Pacitan atau sekitar 4 jam dari arah Jogja. 

 
Medan terjal yang ditempuh menjadi suatu pengalaman memacu adrenalin tersendiri, dan semuanya akan terbayar lunas dengan keindahan Pantai Klayar. Jika Anda datang rombongan, Anda diijinkan mendirikan tenda dan menginap di tepi pantai. Jangan ketinggalan menikmati sunrise dari gardu pandang di sisi barat pantai.

Berbagi Trip | 10 Tempat Wisata di Papua yang Wajib Dikunjungi


10 Tempat Wisata di Papua yang Wajib Dikunjungi


Jika Anda berpikir Indonesia tak lebih menarik dari pada negara-negara di Eropa / Luar negeri, cobalah kunjungi tanah Papua. Pulau paling timur yang ada di Indonesia ini memiliki segala keindahan alam yang tak habis Anda jelajahi. Daratan dan alam bawah lautnya menjadi surga tersendiri bagi para penggemar wisata alam. Tak hanya alamnya yang kaya, Papua juga menyimpan kearifan budaya lokal yang masih bertahan di zaman serba modern ini. Menjelajahi Papua tentunya akan menjadi sebuah pengalaman menarik yang bagi Anda.

Kunjungi Papua, jelalajahi kekayaan negeri sendiri. Jika masih bingung harus ke mana selama di sana, berikut rangkuman 10 tempat wisata di Papua yang wajib Anda kunjungi:


1. Taman Nasional Teluk Cenderawasih

http://picture.triptrus.com/image/2014/06/taman-nasional-teluk-cendrawasih-3.jpeg

Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Taman nasional dengan luas 1.453.500 hektar ini hampir 90% berupa perairan. Tak mengherankan jika Taman Nasioanal Teluk Cenderawasih menjadi kawasan konservasi laut terbesar dan terluas di Indonesia. Di sini, terdapat 196 jenis moluska dan 209 jenis ikan yang bisa Anda saksikan di alam bawah lautnya. Tak jarang kura-kura, penyu, hiu dan lumba-lumba juga ikut menemani Anda saat menyelam.

http://1hal.com/wp-content/uploads/2014/10/teluk-cendrawasih4.jpg

Taman Nasional Teluk Cenderawasih diresmikan pada tahun 1993 oleh Kementerian Kehutanan. Selain menikmati alam bawah lautnya, Anda juga bisa menjelajahi pulau-pulaunya. Pulau Mioswaar, salah satu pulau di tempat wisata di Papua ini, memiliki gua dengan sumber air panas dengan kandungan belerang yang layak Anda kunjungi. Selain Pulau Mioswaar, masih ada Pulau Yoop, Pulau Numfor, Pulau Nusrowi dan pulau-pulau lainnya yang tak boleh Anda lewatkan.

Tempat wisata ini secara administratif berada di dua kabupaten yaitu Wondama dan Nabire. Taman nasional ini juga menjadi pusat penelitian hiu paus atau whale shark yang dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan LSM dalam dan luar negeri.



2. Raja Ampat

http://irher.com/wp-content/uploads/2015/11/slide07.jpg 
 

Raja Ampat

Siapa tak mengenal Raja Ampat? Salah satu tempat wisata di Papua ini keindahannya menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Kawasan Raja Ampat ini terdiri dari empat pulau besar yaitu Waigeo, Misool, Salawati, Batanta dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Raja Ampat memiliki biota laut yang beragam. Menurut laporan dari The Nature Conservancy, sebanyak 75% spesies laut dunia ditemukan di perairan Raja Ampat. Selama menyelam, Anda akan ditemani sekitar 1.511 jenis ikan dan juga penyu laut. Mengasyikan, ya? Meskipun Anda bebas menyelam kapan saja sepanjang tahun di sini, namun waktu terbaiknya adalah pada bulan Oktober dan November. Pada bulan-bulan ini, cuaca sedang bagus dan air sangat jernih sehingga jarak pandang saat menyelam sangat ideal.

 http://www.indonesia.travel/assets/img/media/images/upload/poi/Chicken%20reef012014Raja%20Ampat.jpg

Jika tak ingin menyelam, Anda masih bisa menikmati keindahan Raja Ampat dengan melakukan trekking di pulau-pulaunya. Takut tersesat? Tenang. Anda bisa menggunakan jasa pemandu di sini. Pemandu di tempat wisata ini adalah warga setempat yang sehari-harinya berprofesi sebagai nelayan. Jangan lupa membawa buah pinang atau permen untuk diberikan pada warga setempat. Buah pinang dan permen dianggap sebagai tanda persahabatan dan akan membuat Anda lebih akrab dengan mereka.

Di sini, ada banyak suvenir yang bisa Anda beli sebagai oleh-oleh mulai dari patung suku Asmat sampai alat musik dan kain tradisional.



3. Danau Sentani

 http://lokasiwisata.info/wp-content/uploads/2014/01/Wisata-danau-sentani-terletak-di-pulau-apa.jpg

Danau Sentani

Danau dengan luas 9.360 hektar ini merupakan danau terbesar di Papua. Terletak sekitar 50 km dari pusat kota Jayapura, Danau Sentani menawarkan keindahan luar biasa. Sedikitnya ada 21 pulau yang menghiasi danau dengan ketinggian 75 meter di atas permukaan laut ini.


http://kotawisataindonesia.com/wp-content/uploads/2013/08/mencari-ikan-danau-sentani.jpg

Ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di sini mulai dari berenang, memancing, menyantap kuliner di sekitar danau sampai menyewa perahu untuk berkeliling danau. Selain itu, ada 24 desa di sekitar tempat wisata ini yang bisa Anda kunjungi dan berinteraksi langsung dengan warganya. Pemandangan deretan rumah panggung dengan jaring ikan menjadi hal yang wajar Anda saksikan di sini.

Yang menarik adalah adanya acara tahunan yaitu Festival Danau Sentani yang biasa diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni. Saat festival berlangsung, tempat wisata di Papua ini akan penuh disesaki wisatawan yang ingin menyaksikan berbagai pertunjukan seni dan budaya setempat. Selain menikmati pertunjukan selama festival, Anda juga bisa memuaskan lidah dan perut dengan kuliner khas Papua yang banyak disajikan di sini.



4. Danau Paniai

http://www.humaspemdapaniai.com/wp-content/uploads/2015/04/Danau-Paniai-terlihat-dari-arah-barat.jpg

Danau Paniai

Danau Paniai tak kalah menarik dari Danau Sentani. Danau ini bahkan disebut sebagai danau terindah pada Konferensi Danau Se-Dunia di India pada tanggal 30 November 2007 yang diikuti 157 negara. Danau ini berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut dengan luas 14.500 hektar. Saat senja, pemandangan di tempat wisata ini sangat cantik. Anda bisa melihat siluet tebing-tebing, burung-burung berterbangan di atas danau ditambah perahu nelayan setempat yang mulai merapat pulang.

Di sini, Anda bisa memancing bersama perempuan-perempuan suku Mee dan Moni yang biasa dipanggil ‘mama’. Danau Paniai merupakan salah satu penghasil ikan air tawar terbesar di Papua, banyak ikan yang Anda temukan di sini seperti ikan mas, ikan nila dan ikan mujair.

Fasilitas yang disediakan di tempat wisata di Papua ini cukup lengkap mulai dari pos jaga, pemandu, sewa perahu dan alat pancing, sampai warung makan di sekitar danau. Jika ingin menikmati keindahan Danau Paniai lebih lama, Anda bisa menginap di rumah warga.




5. Lembah Baliem

http://tabloidjubi.com/komen/wp-content/uploads/2015/03/lembah-baliem1.jpg

Lembah Baliem

Lembah Baliem merupakan tempat tinggal suku Dani, Yali dan Lani yang terletak di sekitar Pegunungan Jayawijaya. Berada di ketinggian 1.600 meter di atas laut membuat suhu di tempat ini bisa mencapai 10-15 derajat Celcius pada malam hari. Di sini, Anda bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan suku asli yang masih memakai koteka bagi pria dan rok rumbai bagi perempuannya.

http://cdn.tmpo.co/data/2013/08/14/id_209842/209842_620.jpg

Pada bulan Agustus, Lembah Baliem menjadi tempat wisata di Papua yang menarik banyak perhatian wisatawan. Selama tiga hari diselenggarakan acara tahunan yaitu Festival Lembah Baliem. Festival ini sebenarnya merupakan cara pemerintah untuk menghapuskan perang antar suku yang sering terjadi di sini. Perang antar suku telah dilarang, sebagai gantinya diadakan festival ini yang mengubah perang tersebut menjadi pertunjukan seni dan budaya untuk mengundang wisatawan.

Dalam perang di festival ini, ada skenario yang dijalankan. Biasanya perang akan diawali dengan penculikan perempuan salah satu suku atau pencurian babi yang menjadi hewan ternak di sini. Selanjutnya, perang akan berlangsung dengan diawali tarian suku dan diiringi musik tradisional. Selain perang, ada juga lomba karapan babi antar desa dan pesta babi bakar. Anda juga bisa membeli kerajinan tangan hasil karya suku setempat.



6. Desa Wisata Sauwandarek

http://panduanwisata.id/files/2012/10/dsc_0231.jpg


Desa Wisata Sauwandarek

http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/09/Desa-Wisata-Sauwandarek.jpg 

Jika di Lembah Baliem Anda bisa berinteraksi dengan suku yang tinggal di pegunungan, di Desa Sauwandarek Anda bisa bertemu langsung dengan suku asli yang hidup di pesisir. Desa Sauwandarek masih berada di kawasan Kabupaten Raja Ampat, tepatnya di Meos Mansar. Di sini, Anda bisa melihat rumah tradisional yang terbuat dari kayu dan beratapkan jerami.

Tempat wisata budaya ini hanya ditempati sekitar 46 kepala keluarga. Perempuan-perempuan di sini biasa membuat topi dan tas dari daun pandan laut. Jika menyukai hasil karya mereka ini, Anda bisa membelinya langsung di tempat.

 http://jalan2.com/images/made/images/uploads/objek-wisata/_large/69e7d6e4fa0563deeffbfdfdee214dda_350_263_50_c1_c.jpg

Di sini, Anda bisa menyelam dan snorkeling. Selain itu, Anda juga bisa trekking ke telaga unik yang ada di desa ini. Namanya Telaga Yenauwyau, dikatakan unik karena air di telaga ini air asin, bukan air tawar seperti kebanyakan air di telaga lain. Menurut warga sekitar, di telaga ini ada penyu putih yang jika Anda melihatnya maka Anda akan mendapatkan keberuntungan.




7. Pantai Bosnik


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhB7k5OlQoBFbLtSy5USeG28w1iqIPa3VSfHiLvXZ7czkj-CezrXU5b15x9OqeRKUbSs-b4ue6l-FU1qRibKEr1XQl2Su3ED1tNvO5nWeZZcicLrivRbS3WvFdEOsqj6qvCbR2Qb_hb7pw/s640/Bosnik.JPG

Pantai Bosnik

Siapkan kamera Anda karena keindahan pantai ini bisa membuat Anda tak berhenti mengambil gambarnya. Pantai Bosnik yang berada 15 km dari pusat kota Biak ini memiliki hamparan pasir luas dengan air jernih kebiruan dan deretan pohon kelapa yang menjadikannya sebagai pemandangan sempurna untuk diabadikan dalam kamera Anda.

Tempat wisata di Papua ini cocok sekali untuk bersantai bersama keluarga. Dengan membayar 10.000 Rupiah saja, Anda sudah bisa menikmati keindahan pantai yang terletak di Desa Woniki ini. Selain bermain voli pantai di pasirnya yang landai, Anda juga bisa menyewa saung dengan harga 50.000 Rupiah dan menikmati es kelapa muda segar juga kuliner setempat.


8. Pantai Amai

https://pbs.twimg.com/media/Bn6MsEqIIAADQTK.jpg

Pantai Amai

Pantai Amai adalah tempat wisata yang tepat bagi Anda yang menginginkan ketenangan. Pantai ini memang relatif sepi, namun bukan berarti tak menarik. Di ujung pantai, ada muara sungai yang membuat air asin dan air tawar bertemu di sini. Air tawar ini biasa digunakan oleh wisatawan untuk membilas diri setelah berenang di pantainya.

http://www.klikhotel.com/blog/wp-content/uploads/2015/10/Pantai-Amai.jpg

Selain berenang, Anda juga bisa bermain voli pantai, menyelam, snorkeling atau bersantai di gazebo yang bisa Anda sewa dengan harga 50.000 Rupiah. Jika ingin menginap, di Pantai Amai sudah tersedia penginapan dengan gaya rumah panggung.

http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/09/Pantai-Amai.jpg

Pantai Amai berada di Distrik Depapre atau sekitar 2 jam perjalanan dari Jayapura. Perjalanan menuju pantai akan menguji adrenalin Anda karena medan yang naik turun dan berkelok, namun semuanya akan terbayar ketika sampai dan menyaksikan keindahan Pantai Amai. Untuk masuk ke tempat wisata ini, Anda diharuskan membayar sebesar 25.000 Rupiah yang sudah termasuk biaya parkir.





9. Pulau Rumberpon

Map of Rumberpon Island, Indonesia 
source: Google Map

Pulau Rumberpon

Pulau Rumberpon berada di Teluk Wondama atau 5 jam perjalanan dengan kapal dari Manokwari. Pulau ini memiliki pantai yang disebut dengan Pantai Pasir Panjang karena memang garis pantainya sangat panjang mencapai 6 km.

http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/09/Pulau-Rumberpon.jpg

Di tempat wisata ini, Anda bisa melakukan kegiatan andalan seperti menyelam, snorkeling, berenang dan memancing. Jika ingin pengalaman berbeda, cobalah mengunjungi hutan bakau yang ada di pesisir lain di pulau ini. Anda juga bisa ke padang alang-alang untuk melihat burung rusa di sini.


http://wisatadirektori.com/wp-content/uploads/2015/10/Pantai-Kuta-Lombok1-696x385.jpg

10. Tugu MacArthur

http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/09/Tugu-MacArthur.jpg

Tugu MacArthur

Tugu MacArthur merupakan tugu penghormatan bagi Jenderal Douglas MacArthur yang merupakan jenderal besar Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. Tugu ini berada di Ifar Gunung, Jayapura. Di sini, Anda bisa masuk ke museum, melihat foto-foto dan sejarah perjalanan militer Jenderal MacArthur. Tempat wisata di Papua ini menjadi saksi kejayaan jenderal besar yang membuat strategi beberapa perang besar. Berada di ketinggian 325 meter di atas laut, Anda bisa melihat Danau Sentani dan lapangan terbang Bandara Sentani dari sini.

Tugu MacArthur sendiri adalah sebuah tugu dengan tinggi 3 meter yang didominasi warna kuning dan hitam. Di tugu ini tertulis sejarah mengenai Jenderal Douglas MacArthur dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sekilas tentang MacArthur, jenderal ini dikenal dengan ucapannya, ‘I came through and I shall return’. Ia mengatakan ini saat pangkalan militernya di Filipina dihancurkan oleh Jepang dan ia beserta pasukannya terpaksa mundur ke Australia. Setelah menyusun strategi perang, pada tahun 1944 ia mendarat di Teluk Hamadi, Jayapura, dan membangun markas di lokasi Tugu MacArthur berada saat ini. Sang Jenderal membuktikan ucapannya karena kemudian ia dan pasukannya berhasil menyingkirkan Jepang dan membalas kekalahan Amerika di Filipina dan di Pearl Harbour.